Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini.
Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampil] di bagian kanan.
Tambahkan pranala wiki. Bila dirasa perlu, buatlah pautan ke artikel wiki lainnya dengan cara menambahkan "[[" dan "]]" pada kata yang bersangkutan (lihat WP:LINK untuk keterangan lebih lanjut). Mohon jangan memasang pranala pada kata yang sudah diketahui secara umum oleh para pembaca, seperti profesi, istilah geografi umum, dan perkakas sehari-hari.
Sunting bagian pembuka. Buat atau kembangkan bagian pembuka dari artikel ini.
Oleh sebagian pengamat, KSR Jendela dianggap mengusung jenis seni rupa yang tergolong mutakhir karena memperbaharui pemikiran masyarakatnya, sehingga mereka menganggap KSR Jendela sebagai sebuah genre seni rupa sendiri yang bercirikan pada pemberontakan seni.
Tahun 1993 adalah awal kebersamaan para anggota kelompok seni rupa ‘Jendela’(KSRJ). Di Yogyakarta, enam orang pemuda Minang yang tengah mulai belajar di ISI-Yogyakarta itu: Rudi Mantofani, Yusra Martunus, Yunizar, Jumaldi Alfi, Handiwirman, dan Mohamad Irfan, sepakat untuk belajar dan bekerja bersama-sama. Kecuali Alfi yang tumbuh di keluarga Minang yang merantau dan berpindah-pindah tempat tinggal di beberapa kota besar di pulau Jawa --meski ia sendiri terlahir di Sumatera Barat--, kelima anggota lainnya datang dari tanah Minang - Sumatera Barat (dari kota Padang dan Bukit Tinggi). Usia mereka pun tak terpaut jauh; mereka tumbuh sebagai satu generasi. Kebersamaan mereka, di Yogyakarta, dibedakan bidang yang mereka pelajari masing-masing: Alfi dan Yunizar belajar di studio lukis; Rudi dan Yusra di studio patung; Handiwirman di studio kria kayu, sedang Irfan di studio kria logam. Perbedaan itu memang tidak cukup membentuk dan mengikat mereka untuk jadi para spesialis. Toh perbedaan semacam itu, di tingkat awal, juga memberi gambaran masalah dan perkembangan seni rupa di Indonesia secara berbeda-beda pada pandangan mereka —dipelajari lewat figur para pengajar, tokoh seniman profesional, maupun perkembangan isue-isue profesi yang spesifik serta berbeda. Dikemudian hari, meski tidak berlaku secara merata, perbedaan ‘pilihan’ bidang-bidang profesi itu juga turut membentuk sikap dan cara mereka masing-masing berkarya.