1 kendaraan rusak parah dan tembok rumah warga hancur
Harta benda
?
Pagi hari Selasa tanggal 6 Mei 2025, suasana Kota Padang Panjang terdapat bus Antar Lintas Sumatera yang melaju dari arah Bukittinggi menuju Padang. Bus yang membawa puluhan penumpang dari Medan dengan tujuan akhir Bekasi. Kondisi pagi hari itu dilaporkan cerah, lalu lintas tidak terlalu padat dan aktivitas warga sekitar di kawasan Bukit Surungan mulai bergerak. Bus yang memasuki kawasan yang dikenal rawan kecelakaan karena jalan yang menurun dan berkelok. Bus Antar Lintas Sumatera mengalami kecelakaan tunggal saat melaju dari arah Bukittinggi menuju Padang. Menurut keterangan saksi mata bus melaju dengan kecepatan relatif tinggi saat mendekati persimoangan terminalBukit Surungan. Diduga, bus mengalami rem blong saat melintasi turunan tajam di dekat simpang Terminal Bukit Surungan di Kota Padang Panjang, menyebabkan kendaraan terguling dan menabrak pagar rumah warga.[2][3] Kecelakaan itu menewaskan 12 orang dan melukai 23 lainnya.[4]
Kronologi
Selasa, 6 Mei 2025 pukul 08.15 WIB, bus ALS yang tengah melaju dari arah Bukittinggi menuju Kota Padang kehilangan kendali saat tiba di dekat simpang Terminal Bukit Surungan, Kota Padang Panjang. Insiden bermula ketika sebuah mobil putih terlihat hendak memasuki tikungan ke arah jalan yang dilintasi ALS.[5] Untuk menghindari tabrakan langsung, sopir bus berusaha membanting setir. Namun, upaya tersebut tidak berhasil sepenuhnya karena bus sudah hilang kendali. Dalam hitungan detik, Bus kemudian menabrak sejumlah kendaraan yang berada di depannya, lalu menghantam pagar rumah warga lalu terbalik ke arah kiri. Benturan keras ini menimbulkan suara dentuman yang terdengar dan mengundang perhatian warga sekitar. Kecelakaan ini menimbukan badan kendaraan mengalami kerusakan parah, kaca pecah, dan beberapa rangka bus ringsek dan bagian atas bus rusak parah. Sejumlah penumpang terjepit di dalam bus, sementara yang lain terlempar akibat benturan. Warga sekitar memberikan pertolongan seadanya dan menunggu kedatangan petugas medis dan kepolisian. Proses evaluasi berlangsung cukup sulit karena kondisi bus yang terguling medan jalan yang sempit. Petugas harus memotong bagian bodi kendaraan untuk mengeluarkan korban yang terjepit. Ambulans secara bergantian membawa korban ke RSUD Padang Panjang dan RSI Ibnu Sina, sementara arus lalu lintas di sekitar lokasi kejadian ditutup sementara untuk memperlancar proses penyelamatan dan mencegah kemacetan. [1]
Korban
Berdasarkan data awal yang dihimpun menunjukkan insiden ini mengakibatkan 12 orang tewas, termasuk dua anak-anak,[3] serta 23 orang lainnya mengalami luka-luka.[6] Korban luka-luka dirawat di beberapa fasilitas kesehatan di Padang Panjang, termasuk RSUD Padang Panjang dan RSI Ibnu Sina.[7] Identitas 12 korban tewas telah berhasil diidentifikasi oleh pihak kepolisian.[8] Sedangkan sopir yang membawa bus selamat tetapi dalam keadaan koma di rumah sakit.[9]Korban yang dirawat di RSUD Padang Panjang ada 16 korban selamat dengan 2 korban mengalami kondisi luka berat (seperti trauma kepala, luka dalam, 4 korban mengalami patah tulang dan 10 penumpang lainnya mengalami luka ringan umumnya mengalami memar, luka robek, syok akibat kecelakaan, trauma kepala.
Proses identifikasi korban meninggal dilakukan oleh tim gabungan dari kepolisian dan rumah sakit. Identitas dua belas korban tewas berhasil dipastikan dalam waktu relatif singkat melalui data penumpang dan keterangan keluarga. Jenazah korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan di daerah asal masing-masing. Beberapa keluarga korban datang langsung ke Padang Panjang untuk memastikan kondisi anggota keluarga mereka, sementara sebagian lainnya dihubungi oleh pihak kepolisian dan perusahaan otobus.
Supir bus ALS diketahui selamat dari kecelakaan ini, namun mengalami luka serius dan dalam kondisi koma saat dilarikan ke rumah sakit. Hingga beberapa waktu setelah kejadian, supir belum bisa dimintai keterangan. Kondisi proses penyidikan lebih banyak mengandalkan keterangan saksi mata, penumpang yang selamat serta bukti-bukti fisik di lokasi kejadian.
Penyelidikan
Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta meninjau lokasi dan korban kecelakaan bus ALS di Padang Panjang
Penyidikan kecelakaan langsung mendapatkan perhatiab khusus dari aparat. Kapolda Sumater Barat, Irjen Pol Gatot Tri Suryanta turun langsung meninjau lokasi kejadian dan rumah sakit tempat korban dirawat. Kehadiran Kapolda guna memastikan penanganan korban berjalan optimal serta proses penyidikan dilakukan sexara menyeluruh dan transparan. Polisi segara mengamankan barang bukti dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara detail.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan pengecekan terhadap status operasional bus yang terlibat kecelakaan. Hasil pengecekan yang dilakukan menunjukkan bahwa bus ALS tidak memiliki izin operasi yang sah. Selain itu, masa uji berkala kendaraan atau uji KIR tersebut akan habis pada 14 Mei 2025. Temuan ini diperoleh setelah pengecekan melalui aplikasi Mitra Darat.[10]
Aparat Kepolisian Daerah Sumatera Barat masih menyelidiki kejadian tersebut dengan bantuan tim Traffic Accident Analysis (TAA) yang dikirim Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri.[11][12] Tim melakukan analisis teknis terhadap kondisi kendaraan, sistem pengereman, jejak ban serta faktor jalan dan lingkungan. Hasil analisis diharapkan mampu menggambarkan bahwa penyebab kecelakaan bus ALS murni akibat kegagalan teknis, ataupun kombinasi dari beberapa faktor. Pihak PT ALS juga menyampaikan pernyataan resmi bahwa kondisi rem bus dalam keadaan baik saat berangkat dari pol. Pihak perusahaan memeriksa rutin telah dilakukan dab sistem rem dinyatakan berfungsi normal saat melewati Danau Toba. Pernyataan ini juga menjadi aspek yang akan diverifikasi oleh penyidik melalui perawatan kendaraan dan keterangan teknisi.
Reaksi
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berkomitmen untuk berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan penanganan korban berjalan baik serta mencegah kejadian serupa di masa depan. Ia juga mengimbau seluruh penyedia jasa transportasi umum untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan kendaraan sebelum beroperasi.[13]
PT Jasa Raharja memastikan akan memberikan santunan kepada seluruh korban kecelakaan. Kepala Kantor Wilayah PT Jasa Raharja Sumatera Barat, Teguh Afrianto, menyatakan bahwa korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp50 juta, sementara korban luka-luka akan mendapatkan biaya pengobatan maksimal Rp20 juta. Proses penyaluran santunan dilakukan dengan koordinasi bersama pihak kepolisian dan rumah sakit untuk memastikan ketepatan data.[14]