Pada 13 Oktober 1976, Boeing 707 dijadwalkan lepas landas pada pukul 13:30 (waktu setempat) dari El Trompillo. Tiga awak pesawat asal Amerika[1] terdiri dari Kapten Charles Baldwin, Pertama Officer Lee Marsh, dan Flight Engineer Leslie Bennett. Karena pesawat ini adalah pesawat kargo, tidak ada penumpang pada saat kecelakaan.[4] Penerbangan sebelumnya berasal dari Houston, Texas menuju Bandara El Trompillo, dan membawa peralatan pengeboran minyak dan kargo umum lainnya.[1] Pesawat mengalami kesulitan untuk lepas landas, lepas landas dekat ujung landasan pacu. Pada pukul 13:32, menurut saksi mata, terjadi ledakan dan kebakaran pada salah satu mesin Pratt & Whitney J57 / JT3C sebelum pesawat jatuh.[1] Pesawat melintasi jalan yang sibuk, kemudian jatuh ke sebuah sekolah dan lapangan sepak bola 560 meter dari ujung landasan.[5] Sayap kiri Boeing 707 menabrak vegetasi pada sudut 35 derajat, lalu menghantam tanah terbalik.[6] 91 orang tewas, sementara lebih dari 20 orang terluka. Menurut seorang juru bicara pemerintah, setengah atau lebih dari korban tewas adalah anak-anak karena pesawat jatuh ke sebuah sekolah.[7]
Penyebab
Flight Data Recorder tidak berfungsi pada saat kecelakaan, dan Cockpit Voice Recorder tidak memperoleh banyak informasi karena mikrofon kokpit tidak berfungsi. Diketahui bahwa persiapan penerbangan yang tidak tepat akibat kelelahan pilot adalah penyebab utama kecelakaan tersebut.[8] Berbeda dengan laporan yang ada, saksi mata mengatakan bahwa mesin gagal saat lepas landas, yang mengakibatkan pesawat tidak memiliki thrust yang cukup untuk tetap terbang.[7]
Pasca Kecelakaan
Begitu berita kecelakaan menyebar, presiden Bolivia dan istrinya segera menuju ke lokasi kecelakaan, sementara dokter-dokter Bolivia dikirim untuk membantu para korban yang terluka. Duta Besar AS mengizinkan penggunaan dana sebesar $25.000 untuk membeli 5.000 pon pasokan. Enam anggota Tim Pembakaran Militer AS, bersama dua perwakilan FAA dan empat perwakilan NTSB, dikirim ke lokasi kecelakaan untuk membantu korban yang terluka. Negara-negara lain seperti Brasil dan Jerman mengirim tim medis dan uang untuk membantu para korban serta memperbaiki kerusakan.[6]