Sesuatu dikatakan subyektif jika ia bergantung pada suatu pikiran (bias, persepsi, emosi, opini, imajinasi, atau pengalaman sadar).[1] Jika suatu klaim benar dengan mempertimbangkan kebenaran klaim tersebut dari sudut pandang makhluk hidup, maka klaim tersebut adalah benar secara subyektif. Misalnya, seseorang mungkin menganggap cuaca hari ini terang dan menyenangkan, tetapi orang lain mungkin menganggap bahwa cuaca hari ini terlalu panas; kedua pandangan itu subjektif. Kata subjektivitas berasal dari subjek dalam arti filosofis, yang berarti individu yang memiliki pengalaman sadar yang unik, seperti perspektif, perasaan, keyakinan, dan keinginan,[1][2] atau yang (secara sadar) bertindak atau memegang kekuasaan atas orang lain (objek).[3]
Sesuatu dikatakan obyektif jika kebenarannya dapat dipastikan tanpa bergantung pada pikiran. Jika suatu klaim benar tanpa mempertimbangkannya di luar sudut pandang makhluk hidup, maka klaim tersebut diberi label benar secara obyektif. Objektivitas ilmiah adalah mengamalkan ilmu pengetahuan tanpa mempunyai keberpihakan, bias, atau pengaruh luar. Objektivitas moral adalah konsep kode moral atau etika yang objektif dengan memperbandingkan beragam teori etika untuk sampai kepada suatu kebenaran universal.[4]Objektivitas jurnalistik adalah pemberitaan fakta dan berita dengan bias personal seminimal mungkin atau dengan tidak memihak dan netral secara politik.
↑Gonzalez Rey, Fernando (June 2019). "Subjectivity in Debate: Some Psychology". Journal for the Theory of Social Behaviour. 49: 212–234.
↑Allen, Amy (2002). "Power, Subjectivity, and Agency: Between Arendt and Foucault". International Journal of Philosophical Studies. 10 (2): 131–49. doi:10.1080/09672550210121432.
↑Rescher, Nicholas (January 2008). "Moral Objectivity". Social Philosophy and Policy. 25 (1): 393–409. doi:10.1017/S0265052508080151.
Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.