Keamiran HararKeamiran Harar yang dijajah oleh bangsa Somali di timur dan Abyssinia di barat sekitar tahun 1860
Keamiran Harar adalah sebuah kerajaan Muslim yang didirikan pada 1647 ketika orang Harari menolak menerima Imām Umardīn Ādam sebagai penguasa mereka dan memisahkan diri dari Keimaman Aussa untuk membentuk negara sendiri di bawah Ali bin Daud.
Kota Harar Gey menjadi satu-satunya ibu kota keamiran ini.[1] Sebelum diserang oleh pasukan Shewa di bawah Menelik II, Liga Bangsa-Bangsa mencatat bahwa Keamiran Harar mencakup wilayah antara sungai Awash dan Shebelle, dengan Ogaden sebagai negara bawahan.[2] Awalnya, Keamiran Harar juga meliputi wilayah Somalia saat ini, Karanle, dan bagian selatan Ethiopia timur termasuk Provinsi Arsi.[3] Berbagai klan Oromo dan Somali membayar pajak kepada keamiran hingga abad ke-18 meski secara bertahap tanah mereka dianeksasi oleh negara Harari.[4][5] Keamiran ini juga menguasai perdagangan di Shewa.
Pada abad ke-19, pengaruh Keamiran Harar menurun karena kekurangan sumber daya dan kelaparan.[3][6] Secara teknis, keamiran ini berada di bawah perlindungan Kesultanan Utsmaniyah, sempat dianeksasi Mesir pada 1875,[7][8] dan diduduki Inggris pada 1882 sebelum diserahkan kembali ke pengaruh Kekaisaran Ethiopia lewat Perjanjian Hewett pada 1884. Keamiran Harar akhirnya dihancurkan dan dianeksasi oleh pasukan Negus Sahle Maryam (yang kelak menjadi Kaisar Menelik II) pada 1887 setelah kekalahan dalam Pertempuran Chelenqo.
Sejarah
Menurut sejarawan Merid Wolde Aregay, negara pendahulu Keamiran Harar, yaitu Kesultanan Adal, terutama terdiri dari Hubat, dataran tinggi Harari, wilayah Babile, dan membentang ke timur hingga wilayah Somali modern di Ethiopia. Penduduknya berbicara bahasa Harari, dan negara ini merupakan kekuatan paling dominan di wilayah tersebut.[9]
Namun, Sidney Waldron dan beberapa sejarawan lain menyebutkan bahwa kerajaan awal Harar hancur pada abad ke-16 dan kemudian bertransformasi menjadi sebuah negara-kota.[10][11] Ali bin Da'ud naik tahta setelah krisis internal melemahkan wilayah Harar, menggantikan Emir Ahmed yang hanya memerintah 10 hari, dan mendirikan dinasti baru. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai kepala distrik dan menteri, hingga akhirnya berkuasa penuh. Pada 1 September 1662, ia menghadapi serangan Illamo Oromo yang menewaskan putranya, Sabaruddin.[12]
Sejarawan Ali Abdirahman Hersi menyebutkan bahwa Keamiran Harar tetap menjalankan perdagangan meski dalam skala lebih kecil dan mendirikan pemukiman di wilayah Ogaden setelah jatuhnya Kesultanan Adal. Penduduk pemukiman ini menghadapi serangan dari Oromo dan Somali secara bersamaan, sehingga mereka membangun tembok pertahanan.[13] Mulai abad ke-17, masyarakat Oromo di sekitar Harar mulai memeluk Islam.[14]
Menurut penjelajah Inggris abad ke-18, James Bruce, penguasa Shewa, Amha Iyasus, sempat berkonflik dengan pemimpin Keamiran Harar.[15] Bruce juga mencatat bahwa penduduk Harar disebut "Turki" oleh orang Abyssinia dan dipimpin oleh seorang emir.[16]
Catatan abad ke-19 menunjukkan bahwa administratur Keamiran Harar seperti Garad dan Malak dapat ditemukan hingga wilayah barat Dawaro.[17] Pada 1840-an, negara Shewa di Abyssinia di bawah Sahle Selassie sempat memberikan wewenang atas Aliyu Amba kepada Keamiran Harar karena ketergantungan mereka pada perdagangan dari Harar dan wilayah Muslim lainnya.[18][19] Menurut informasi dari penduduk setempat pada 1843, Kapten Inggris S.B. Hanes menyebut pemimpin Harar, yang juga dikenal sebagai Adhari, sebagai seorang emir yang adil dan bijaksana.[20]