Kauman (juga dikenal dengan nama Sumoroto atau Somoroto[1]) adalah kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang terletak di barat. Nama Sumoroto lebih dikenal karena dahulu wilayah ini merupakan pusat dari Kabupaten Sumoroto (Kutho Kulon) yang terpisah secara geografis dari Kabupaten Ponorogo di timur dengan adanya Sungai Sekayu. Namun kemudian Sumoroto dilebur ke Kabupaten Ponorogo oleh Belanda sekitar tahun 1878. Sekarang nama Sumoroto / Somoroto masih dipertahankan sebagai nama desa dan pasar terbesar di Kauman.[2] Kecamatan Kauman lokasinya cukup strategis karena jaraknya kurang dari 10km dari pusat kabupaten, serta dilalui jalur penghubung Ponorogo-Wonogiri-Solo yang terdapat pasar yang ramai, berbagai pertokoan, hingga rumah sakit umum daerah.
Dalam mitologi yang populer di masyarakat Ponorogo, Desa Sumoroto konon merupakan lokasi Kerajaan Bantarangin. Kesenian Reog Ponorogo mengisahkan usaha Klono Sewandono dari Bantarangin untuk mempersunting Dewi Songgolangit.[3] Nama Bantarangin sekarang dipakai pada tempat-tempat di Kauman seperti Monumen Bantarangin dan RSUD Bantarangin. Setiap akhir bulan Muharram, Grebeg Tutup Suro diadakan di Monumen Bantarangin. Grebeg Tutup Suro merupakan rangkaian acara penutup dari Grebeg Suro yang diadakan setiap tahun di Ponorogo.[4]
Geografi
Lokasi Kauman
Kauman adalah kecamatan di Ponorogo yang berada di barat. Wilayahnya berupa dataran rendah yang didominasi oleh lahan persawahan. Kauman dilintasi jalur penghubung Ponorogo-Wonogiri-Solo dan jaraknya kurang dari 10km dari pusat kabupaten. Desa paling timur dari Kauman adalah Pengkol yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Ponorogo. Wilayah Kauman dahulu lebih luas, tetapi 5 desa di wilayah selatan bergabung dengan Kecamatan Jambon yang baru dimekarkan tahun 1995. Batas wilayah Kauman adalah sebagai berikut:[5]
Kesenian Reog mengisahkan legenda yang populer di masyarakat Ponorogo. Dalam satu versi, Reog berhubungan dengan kisah Batoro Katong (pendiri Ponorogo) dan Ki Ageng Kutu. Sedangkan dalam cerita lain, Reog berhubungan dengan Kerajaan Bantarangin yang berdiri di Desa Sumoroto, jauh sebelum terbentuknya Ponorogo. Kisah versi Bantarangin ini yang sering dipentaskan dalam kesenian Reog. Bantarangin memiliki arti "angin kencang" karena wilayah ini cenderung datar sehingga banyak diterpa angin. Raja Bantarangin bernama Klono Sewandono mendapat informasi mengenai putri yang cantik dari Kerajaan Kediri bernama Dewi Songgolangit. Kemudian sang raja mengirim patihnya bernama Pujangga Anom (Bujang Ganong) ke Kediri untuk melamar sang putri. Dalam perjalanannya, Bujang Ganong dihadang oleh Singo Barong dari Kerajaan Lodaya yang bertindak sebagai penjaga perbatasan Kediri. Singo Barong adalah manusia sakti berkepala harimau yang dapat mengalahkan Bujang Ganong. Bujang Ganong melaporkan kekalahannya sehingga Raja Klono Sewandono datang langsung bersama pasukannya. Singkat cerita, terjadi pertempuran sengit dan adu kesaktian yang kemudian dimenangkan oleh Raja Klono Sewandono yang memegang pusaka Pecut Samandiman. Sang Raja dan Singo Barong kemudian bersama-sama menuju Kediri, dan pada akhirnya Raja Kediri dan Dewi Songgolangit menerima lamaran itu.[3]
Sekitar tahun 1805, muncul sebuah wilayah di barat Sungai Sekayu bernama Kabupaten Sumoroto yang didirikan oleh Tumenggung Prawirodirjo. Kabupaten ini berdampingan dengan Kabupaten Ponorogo di timur sungai sehingga dua wilayah ini masing-masing disebut "Kutho Kulon" (kota barat) dan "Kutho Wetan" (kota timur). Kabupaten Sumoroto berumur pendek dengan adanya Perang Diponegoro sekitar tahun 1830-an sehingga wilayah Ponorogo dan sekitarnya jatuh ke tangan Belanda. Pemerintah kolonial memutuskan untuk menggabungkan Ponorogo (Kutho Wetan), Sumoroto (Kutho Kulon), Polorejo (Kutho Lor), dan Pedanten (Kutho Kidul) menjadi Kabupaten Ponorogo dengan ibu kota yang dipindahkan dari Kutho Wetan ke Kutho Tengah.[6] Pada zaman Belanda juga dibangun jalur kereta api Ponorogo–Badegan dengan salah satu stasiunnya yaitu Sumoroto. Pasca kemerdekaan, Ponorogo mengalami berbagai gejolak seperti Agresi Militer Belanda dan Pemberontakan PKI 1948. Tokoh sentral PKI saat itu yaitu Musso diketahui tertembak ketika bersembunyi di dekat sumur warga Desa Semanding.[7]
Sumoroto yang awalnya berupa kabupaten sekarang turun status menjadi distrik atau kawedanan di bawah Kabupaten Ponorogo, sedangkan Ponorogo berada di bawah Karesidenan Madiun. Sumoroto membawahi kecamatan di barat Sungai Sekayu yang terdiri dari Kauman, Sukorejo, Badegan, dan Sampung. Kondisi ini bertahan sampai awal kemerdekaan, tetapi di tahun-tahun selanjutnya sistem kawedanan dihapus sehingga kecamatan berada langsung di bawah kabupaten. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1995, 5 desa di selatan Kecamatan Kauman bergabung dengan 7 desa dari Kecamatan Badegan untuk membentuk kecamatan baru bernama Jambon.[8] Di tahun-tahun selanjutnya, Pemerintah daerah berusaha mengangkat legenda Bantarangin agar lebih dikenal masyarakat dengan membangun Monumen Bantarangin dan mengadakan Grebeg Tutup Suro.[6]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Kauman terdiri dari 16 desa yang terbagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan. Jumlah desa di Kauman dahulu lebih banyak, tetapi 5 diantaranya bergabung dengan 7 desa dari Kecamatan Badegan untuk membentuk Kecamatan Jambon pada tahun 1995. Desa yang berpisah dari Kauman tersebut terdiri dari Karanglo Kidul, Poko, Sendang, Bringinan, dan Jonggol.[8]
Desa dan dukuh di Kauman yakni sebagai berikut:[5]
Astana Giri Gombak di Desa Nglarangan -makam Tumenggung Brotonegoro, bupati pertama dari Kabupaten Polorejo (Kutho Lor / Kota Utara)[10]
Puskesmas Kauman
Puskesmas Ngrandu
Kebudayaan
Grebeg Tutup Suro
Buceng Porak dalam acara Grebeg Tutup Suro
Grebeg Tutup Suro adalah bagian dari rangkaian acara Grebeg Suro yang diadakan di Ponorogo untuk memperingati bulan Muharram atau tahun baru Islam. Grebeg Suro diadakan di pusat kabupaten, sedangkan Grebeg Tutup Suro diadakan di bekas wilayah Kerajaan Bantarangin yaitu Kecamatan Kauman dan dilaksanakan di akhir bulan sebagai penutup.[6] Grebeg Tutup Suro dilaksanakan beberapa hari dengan berbagai rangkaian acara seperti bazar, khataman Qur'an, ziarah makam, pementasan tari-tarian, dan acara intinya terdiri dari Festival Buceng Porak dan Kirab Budaya Bantarangin.[11]
Festival Buceng Porak adalah kirab dengan membawa beberapa buceng (tumpeng raksasa) yang berisi buah-buahan, sayuran, dan hasil bumi lainnya, buceng ini diarak dari kantor kecamatan Kauman menuju Monumen Bantarangin. Ketika sampai, buceng kemudian disebar dan diperebutkan oleh masyarakat sekitar yang menonton.[12] Selanjutnya kirab budaya berupa karnaval menggunakan iring-iringan kereta kuda hias yang diikuti ribuan peserta dari kalangan siswa sekolah, pejabat, hingga masyarakat umum.[13]
Tokoh terkenal
Muhammad Zainudin Kajubi atau MZ Kajubi - salah satu tokoh pendiri serta komandan Banser pertama kelahiran Desa Pengkol pada tahun 1926. Merupakan salah satu tokoh sentral melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang sekarang dimakamkan di TPU Tamanarum Ponorogo.[14]
12Andini Idha, Atik Aminah, Hernin Diah, Sonia Laila, Yusmita Indrastuti, Darmadi. "SEJARAH DAN FILOSOFI REOG PONOROGO VERSI BANTARANGIN". Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 5 (1). Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)