Bangunan Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto yang berdiri saat ini merupakan hasil pembangunan kembali untuk menggantikan katedral lama yang telah digunakan sejak tahun 1930. Bertambahnya jumlah umat dari waktu ke waktu membuat bangunan lama dianggap tidak lagi memadai, baik dari segi kapasitas maupun sebagai representasi gereja induk Keuskupan Purwokerto. Gagasan untuk mendirikan katedral baru sebenarnya telah muncul pada masa kepemimpinan Mgr. Willem Schoemaker, M.S.C., tetapi realisasinya terus mengalami penundaan. Pada masa penggembalaan Mgr. Paschalis Soedita Hardjasoemarta, M.S.C., wacana tersebut kembali dikembangkan, termasuk melalui berbagai upaya kajian perluasan bangunan lama ke beberapa sisi. Meski demikian, rencana perluasan tidak juga terlaksana.[2]
Langkah konkret pembangunan akhirnya dimulai pada Mei 1982, bertepatan dengan peringatan lima puluh tahun berdirinya Keuskupan Purwokerto yang dihitung sejak pembentukan Prefektur Apostolik Purwokerto. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Uskup Hardjasoemarta mengajak umat untuk bersama-sama membangun katedral baru sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Allah sepanjang perjalanan keuskupan. Selain menjadi simbol rasa syukur, bangunan baru ini juga diharapkan menjadi monumen persatuan umat sekaligus menampilkan identitas budaya lokal. Demi menjaga kesinambungan sejarah Gereja setempat, diputuskan bahwa katedral baru akan dibangun di lokasi yang sama dengan bangunan sebelumnya. Pada perayaan misa syukur tersebut juga diadakan kolekte khusus sebagai dana awal pembangunan.[3]
Setelah melalui serangkaian pembahasan dan penyusunan rancangan, akhirnya desain dan anggaran pembangunan disepakati. Proses pembangunan berlangsung dengan semangat gotong royong yang melibatkan seluruh paroki di wilayah Keuskupan Purwokerto, termasuk umat asal Purwokerto yang telah menetap di keuskupan lain. Pada April 1985, bangunan katedral lama mulai dibongkar dan peletakan batu pertama dilaksanakan pada 26 Mei 1985. Selama proses pembangunan berlangsung, misa harian dipindahkan ke kapel komunitas suster dan bruder, sedangkan misa mingguan dilaksanakan di aula sekolah susteran dari Juli 1985 hingga Februari 1988.[2]
Katedral baru diresmikan pada 30 Mei 1988 oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan RakyatSoepardjo Rustam, kemudian dikonsekrasi sebagai gereja katedral oleh Bapak Uskup Hardjasoemarta pada 31 Mei 1988. Katedral Kristus Raja Purwokerto tercatat sebagai katedral pertama di Pulau Jawa yang dibangun setelah Indonesia merdeka. Arsitekturnya mengadopsi bentuk joglo sebagai simbol kehadiran Gereja yang hidup dan berkembang di tengah budaya Indonesia. Bangunan ini memiliki kapasitas sekitar 600–700 umat.[3]
Bangunan
Eksterior
Bangunan katedral yang mengusung konsep Joglo Trajumas juga dilengkapi kuncungan, yakni struktur joglo kecil di bagian depan. Selain memperkuat karakter arsitektur bangunan, bagian ini berfungsi sebagai pelindung bagi umat ketika turun dari kendaraan, terutama saat hujan.[4]
Pintu utama katedral terletak di bagian tengah fasad depan bangunan, yang terdiri atas dua bukaan dengan empat daun pintu berbahan kayu jati. Pada sisi bagian dalam pintu terdapat ukiran simbol empat pengarang Injil, yaitu singa untuk Markus, anak manusia untuk Matius, lembu untuk Lukas, dan rajawali untuk Yohanes.
Pada bagian depan Katedral, tepat di atas pintu utama, terdapat ornamen mahkota bertingkat tiga. Hiasan ini melambangkan tiga tugas dan kuasa Kristus, yakni sebagai Imam yang menguduskan, Nabi yang mewartakan serta mengajar kebenaran, dan Raja yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Di bawah ornamen mahkota terdapat lambang Alfa (Α) dan Omega (Ω) yang mengapit simbol Kristus. Kedua huruf Yunani tersebut mengacu pada sabda dalam Wahyu22:13 yang menyatakan bahwa Kristus sebagai "awal dan akhir" dari segala sesuatu. Simbol yang berada di antara Alfa dan Omega merupakan gabungan dua huruf Yunani, yaitu Chi (X) dan Rho (P). Kedua huruf ini membentuk monogram Kristus, yang berasal dari kata Yunani Christos ("Yang Terurapi"). Pada masa Gereja Perdana, lambang Chi-Rho dipakai sebagai tanda pengenal rahasia umat Kristen dan identitas para murid Kristus.
Di bagian bawah rangkaian simbol tersebut terdapat tulisan Latin Christo Regi Dicata, yang berarti "Dipersembahkan kepada Kristus Raja". Ungkapan ini berkaitan dengan sejarah awal Keuskupan Purwokerto yang sejak awal dibaktikan untuk mewartakan Kristus sebagai Raja Semesta Alam.[5]
Di taman depan sisi selatan berdiri Menara Lonceng Katedral. Lonceng yang kini berada di bagian atas merupakan lonceng baru, sedangkan lonceng besar yang dahulu disumbangkan oleh Soepardjo Rustam pada masa peresmian katedral ditempatkan di bagian bawah menara. Menara ini diberkati oleh Mgr. Julianus Sunarka, S.J. pada 25 November 2007.
Tampak luas
Tampak luas
Tampak luar
Tampak luar
Tampak depan
Tampak depan
Tampak depan
Tampak samping
Menara lonceng
Lonceng awal
Pintu utama
Panti imam dan ruang liturgi
Panti imam Gereja Katedral dirancang berbentuk trapesium dengan ukuran yang cukup luas untuk menampung para klerus dalam perayaan liturgi besar, seperti tahbisan imam maupun pembaruan janji imamat. Pada sisi kiri (selatan) terdapat katedra atau takhta uskup, sedangkan pada sisi kanan (utara) terdapat sedelia, yaitu tempat duduk imam yang memimpin perayaan. Di bagian tengah ditempatkan altar dan tabernakel sebagai pusat liturgi.
Sebagai gereja katedral, salah satu unsur khas bangunan ini adalah keberadaan katedra. Takhta uskup ini menjadi lambang kewenangan uskup dalam mewartakan Sabda Allah, mengajar, serta menjaga ajaran iman Katolik. Katedra juga menjadi tempat uskup memimpin Perayaan Ekaristi. Di bagian belakang katedra terdapat lambang uskup yang sedang menjabat.[4]
Tampak dalam
Tampak dalam
Tampak dalam
Panti imam
Panti imam
Altar pada panti imam
Patung Bunda Maria dan Santo Yusuf
Patung Kristus Raja
Ruang sakramental dan devosi
Penataan ruang di katedral baru mengalami beberapa perubahan dibandingkan bangunan sebelumnya. Sakristi yang dahulu berada dekat panti imam kini dipindahkan ke belakang area tempat duduk umat. Penempatan ini dimaksudkan agar imam dan petugas liturgi dapat berarak melewati umat sebelum memasuki panti imam, sehingga mempertegas makna simbolis perjalanan bersama menuju Allah.
Di sisi kanan gereja tersedia ruang pengakuan dosa yang terdiri atas dua ruangan untuk pelayanan Sakramen Tobat. Tidak jauh dari area tersebut terdapat panti pembaptisan. Jika sebelumnya ruang pembaptisan berada di dekat pintu masuk dan sakristi, lokasinya kemudian dipindahkan agar lebih sesuai dengan tata ruang katedral yang baru.
Untuk mendukung kehidupan devosional umat, katedral juga memiliki dua kapel khusus. Kapel Maria berada di sebelah kanan pintu utama dan dipisahkan dari ruang utama dengan tralis serta kaca sehingga tetap terhubung secara visual dengan bagian dalam gereja. Di kapel ini terdapat sebuah patung Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Sementara itu, di sisi berseberangan terdapat Kapel Adorasi yang menjadi tempat penyemayaman Sakramen Mahakudus dan dipergunakan secara khusus untuk devosi adorasi ekaristi.
Untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah umat, pada tahun 2012 dibangun balkon tambahan yang dapat menampung sekitar 400 orang, terutama saat misa mingguan dan perayaan hari raya.[4]
Kapel Maria
Area penunjang
Pada bagian depan sisi utara terdapat Taman Doa Kristus Raja (disebut juga sebagai Kapel Bhakti Suci Kristus Raja), sebuah taman doa terbuka dengan patung Kristus Raja sebagai pusat devosi. Kapel ini juga diberkati oleh Mgr. Julianus Sunarka, SJ pada 30 Mei 2010.
Untuk menunjang kegiatan pastoral dan kemasyarakatan, kompleks katedral dilengkapi dengan Paschalis Hall di sisi selatan. Gedung yang diberkati pada tahun 2005 ini memiliki kapasitas sekitar 600 orang dan digunakan baik untuk kegiatan umat maupun penyewaan umum. Selain itu terdapat Balai Julianus yang berada di seberang gereja dan dibangun sebagai sarana pendukung pelayanan serta aktivitas paroki. Gedung ini diberkati oleh Mgr. Christophorus Tri Harsono pada 5 Februari 2020.[4]
Taman Doa Kristus Raja
Paschalis Hall
Balai Julianus
Referensi
↑"Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-29. Diakses tanggal 2023-06-29.
12Christo Regi Dicata, Peresmian dan Konsekrasi Katedral Kristus Raja Purwokerto 30 dan 31 Mei 1988 dan Duc in Altum, Buku Profil Paroki 80 Tahun Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto (2007)
12Christo Regi Dicata, Peresmian dan Konsekrasi Katedral Kristus Raja Purwokerto 30 dan 31 mei 1988 dan Duc in Altum, Buku Profil Paroki 80 Tahun Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto (2007)