Selain para imam sebagai gembala paroki, di Paroki Katedral Ketapang juga berkarya para bruder dari Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria Yang Dikandung Tak Bernoda (FIC) yang mengelola asrama putra. Juga ada 2 kongregasibiarawati yang mengelola asrama putri, yaitu para suster Agustinian (OSA) dan Sang Timur (PIJ).[3]
Gereja Katedral
Gereja Santa Gemma Galgani merupakan gerejakatedral di mana terdapat tahta uskup Keuskupan Ketapang; di mana bangunan gereja yang baru terletak di dalam / belakang gereja lama yang diberkati pada 10 Juni 1962.[6] Gedung gereja lama dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna, namanya Gedung Sillekens—diambil dari nama Uskup Ketapang yang pertama Mgr. Gabriel Willem Sillekens, CP.[5]
Sejarah Katedral Ketapang
Pada tahun 1910, tiga keluarga Katolik Tionghoa—Tan A Hak, Tan A Ni, dan Tan Kau Pue—merantau dari Tiongkok dan menetap di Ketapang. Mereka menjadi pelopor penyebaran agama Katolik di daerah ini. Setelah melaporkan keberadaan mereka kepada otoritas gereja di Pontianak, pada tahun 1911, wilayah Ketapang resmi diakui sebagai bagian dari Gereja Katolik dengan nama Gereja St. Yoseph. Gereja ini menjadi cikal bakal dari Katedral saat ini.[7]
Pada tahun 1917, seorang tokoh adat Dayak bernama Gumo Marial dibaptis menjadi Katolik di desa Serengkah. Peristiwa ini menandai awal mula konversi masyarakat pribumi Dayak ke agama Katolik di wilayah Ketapang.[7]
Tanggal 14 Juni 1954, Paus Pius XII mendirikan Prefektur Apostolik Ketapang, yang mencakup wilayah Ketapang, Sekadau, dan Meliau. Pastor Gabriel W. Sillekens, C.P., diangkat sebagai prefek apostolik. Kemudian, pada 3 Januari 1961, statusnya ditingkatkan menjadi Keuskupan Ketapang, dan Pastor Sillekens menjadi Administrator Apostolik. Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 17 Juni 1962.[8]
Jadwal Misa
Jadwal misa di Gereja Santa Gemma Galgani - Katedral Ketapang:[9]