Karier
U-168 melakukan empat patroli, meneggelamkan tiga kapal berbobot total 8.008 ton, dan merusak satu kapal lain yang berbobot bruto 9.804 ton.[3]
Patroli ke-2
Kapal ini kemudian bergerak ke Samudra Hindia. Di sana U-168 menenggelamkan kapal dagang uap Britania, SS Haiching, 80 mi (130 km) di sebelah barat barat daya Bombay (sekarang Mumbai) pada tanggal 2 Oktober 1943.[4]
U-168 tidak berhasil menyerang kapal terbang Catalina No. 413 Squadron RCAF pada tanggal 3 November. Empat ranjau laut seberat 250lb dijatuhkan setelah itu.
Patroli berakhir di Penang, Malaya (sekarang Malaysia) tanggal 11 November.
Patroli ke-3
Kapal selam ini memulai patroi ketiga sekaligus patroli tersuksesnya dari Penang tanggal 7 Februari 1944. Tiga torpedo ditembakkan ke kapal angkut Britania, HMS Salviking, di selatan Ceylon (sekarang Sri Lanka) tanggal 14 Februari. Salah satu proyektilnya macet, tetapi dua lainnya berhasil menenggelamkan kapal tersebut.
Keesokan harinya, U-168 menenggelamkan kapal Yunani, Epaminondas C. Embiricos, sekitar 130 mi (210 km) di sebelah utara Atol Addu di Maladewa. Master dan Kepala Teknisinya ditawan dan diserahkan ke Jepang. Penangkapan Master-nya menggagalkan sidang disipliner yang mempertanyakan sebab ia memerintahkan kapal tersebut ditinggalkan meski tidak ada kerusakan, dan sebab kapal tersebut stasioner selama dua jam padahal mendapat perintah berlayar.
U-168 juga merusak kapal Norwegia, Fenris, menggunakan torpedo terakhirnya pada tanggal 21 Februari di sebelah barat Maladewa. Amunisinya senjata deknya tidak mencukupi untuk menenggelamkan kapal itu. Fenris pun berhasil melanjutkan pelayarannya ke Bombay.[5]
Kapal ini kembali ke Batavia (sekarang Jakarta) tanggal 24 Maret.
Patroli ke-4
Kapal selam ini meninggalkan Batavia tanggal 5 Oktober 1944. Pada 6 Oktober dini hari di Laut Jawa, U-168 terkena satu torpedo dari kapal selam Belanda HrMs Zwaardvisch. Serangan tersebut menewaskan 23 pelaut. 27 pelaut lainnya ditangkap.[3] Pada akhir 2013, sejumlah penyelam menemukan bangkai kapal ini.[6]