Masjid Hussainiya Imam Khomeini, bagian dari kompleks Rumah Kepemimpinan, yang menjadi tempat pertemuan rutin antara Pemimpin Tertinggi dan masyarakat[1]
Kantor Otoritas Kepemimpinan Tertinggi (Persia: دفتر مقام معظم رهبریcode: fa is deprecated , Daftar-e Magham-e Moazzam-e Rahbari), atau lebih dikenal secara singkat sebagai Rumah Kepemimpinan (Persia: بیت رهبریcode: fa is deprecated , Beit-e Rahbari), adalah kediaman resmi, pusat birokrasi, sekaligus tempat kerja utama bagi Pemimpin Tertinggi Iran[5] sejak tahun 1989 hingga hancur akibat serangan udara pada tanggal 28 Februari 2026.[6][7][8][9]
Struktur organisasi kantor ini merupakan perpaduan unik antara institusi keagamaan tradisional *Beit* (kantor otoritas seorang Marja') dengan sistem birokrasi pemerintahan modern.[10] Kompleks institusi ini terletak di pusat kota Teheran[11] dan dipimpin secara administratif oleh Mohammad Mohammadi Golpayegani.[3] Pada tahun 2026, kantor pusat lembaga ini diperkirakan mempekerjakan sekitar 4.000 staf, dengan tambahan 40.000 personel lain yang terafiliasi di berbagai jaringan instansi pemerintahan Iran.[12]
Lokasi
Istana imperial Ekhtesassi yang dahulunya berdiri di lokasi ini sebelum dialihfungsikan.
Istana Ekhtesassi dirancang pada tahun 1938 oleh dua arsitek Yahudi-Hungaria dari wilayah Mandat Britania atas Palestina (sekarang Israel), Laszlo Fischer dan Ferenc Bodanzky. Kedua arsitek ini juga merancang gedung Kementerian Luar Negeri Iran yang terletak di Taman Nasional Teheran. Reza Shah secara pribadi memilih mereka untuk membangun kediaman ini di sebelah Istana Marmer sebagai hadiah bagi Putra Mahkota saat itu. Beberapa istana tambahan kemudian dibangun di sekitarnya untuk saudara-saudaranya, yaitu Shams Pahlavi (sebelah utara, tepat di atas), Ashraf Pahlavi (sebelah selatan, di seberang jalan), dan Abdul Reza Pahlavi (sebelah timur, di seberang jalan). Istana ini berfungsi sebagai kediaman utama Mohammad Reza Shah dari tahun 1938 hingga 1969, sebelum seluruh keluarga Istana Kekaisaran pindah ke Kompleks Niavaran di utara Teheran.[13]
Ikhtisar
Kantor Otoritas Kepemimpinan Tertinggi digunakan oleh Pemimpin Tertinggi untuk berkomunikasi serta menyalurkan perintah ke berbagai organisasi militer, kebudayaan, ekonomi, dan politik. Sejumlah penasihat politik, militer, dan agama bekerja di bawah naungan kantor ini. Para penasihat tersebut memegang peran yang sangat berpengaruh dalam pembuatan kebijakan strategis negara.
Menurut Ali Motahari, mantan anggota parlemen Iran perwakilan Teheran, besarnya pengaruh institusi ini dalam urusan kenegaraan membuat "Parlemen Iran secara efektif tampak seperti cabang dari Kantor Otoritas Kepemimpinan Tertinggi itu sendiri".[14]
Sejarah
Secara tradisional dalam Islam Syiah, seorang ayatullah memiliki kantor pribadi (*bayt* atau *beit*) yang sering kali dikelola oleh putranya sendiri. Kantor ini berfungsi sebagai pusat komunikasi, tempat memberikan fatwa keagamaan bagi para pengikutnya, serta pengelola kegiatan amal seperti pengumpulan dan penyaluran zakat atau sedekah.[12] Di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini, *bayt* miliknya hanya memiliki beberapa puluh karyawan dan dijalankan dengan metode tradisional.
Namun, selama masa jabatan penerusnya, Ali Khamenei, institusi ini berkembang pesat hingga mempekerjakan ribuan staf. Kantor ini mendirikan divisi khusus yang bertugas memastikan agar kementerian-kementerian pemerintah menjalankan seluruh kebijakan strategis Pemimpin Tertinggi. Institusi ini dikenal sangat "tertutup" dan menjadi alat konsolidasi kekuasaan melalui badan-badan keamanan—sebuah langkah yang dipandang oleh sebagian pengamat sebagai kompensasi atas kekurangan Khamenei dalam hal legitimasi atau otoritas keagamaan tertinggi (*marja'iyat*) saat ia pertama kali ditunjuk sebagai pemimpin negara.[12]
Sanksi
Pada tanggal 24 Juni 2019, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani Perintah Eksekutif 13876 yang membekukan seluruh aset Kantor Otoritas Kepemimpinan Tertinggi Iran serta aset pribadi Ali Khamenei. Sanksi ekonomi ini dijatuhkan sebagai respons terhadap Insiden Teluk Oman yang terjadi beberapa hari sebelumnya.[15][16]
↑Mohammad Hamid Ansari, ed. (2005). Iran today: twenty-five years after the Islamic revolution. ORF studies of contemporary Muslim societies. Vol.3. Rupa & Co. hlm.213, 217.
↑Brumberg, Daniel; Farhi, Farideh (2016). "Role of The Office of Supreme Leader". Power and Change in Iran: Politics of Contention and Conciliation. Indiana Series in Middle East Studies. Indiana University Press. hlm.150–151. ISBN978-0253020796.