Pada tahun 1966, pemerintah Singapura menerapkan kebijakan pendidikan dwibahasa, dengan para siswa Singapura belajar bahasa Inggris dan bahasa ibu mereka yang telah ditetapkan, yakni bahasa Mandarin untuk semua orang Tionghoa Singapura secara asali. Laporan Goh, sebuah evaluasi mengenai sistem pendidikan Singapura oleh Goh Keng Swee, menunjukkan bahwa kurang dari 40% populasi siswa berhasil mencapai tingkat kompetensi minimum dalam dua bahasa.[1] Kemudian diketahui bahwa pembelajaran bahasa Mandarin di kalangan orang Tionghoa Singapura terhambat karena penggunaan berbagai varian bahasa Tionghoa asli di rumah, seperti bahasa Hokkian, Tiociu, Kantonis, dan Hakka.[2][3] Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk memperbaiki masalah yang dihadapi dalam implementasi kebijakan pendidikan dwibahasa, dengan meluncurkan kampanye untuk mempromosikan bahasa Mandarin sebagai bahasa umum di kalangan penduduk Tionghoa, dan untuk membatasi penggunaan varian bahasa Tionghoa lainnya.
Diluncurkan pada tahun 1979 oleh Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew,[4] kampanye ini bertujuan untuk menyederhanakan lingkungan bahasa bagi orang Tionghoa Singapura, meningkatkan komunikasi di antara mereka, dan menciptakan sebuah lingkungan berbahasa Mandarin yang kondusif bagi keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dwibahasa. Tujuan awal kampanye ini adalah agar semua anak muda Tionghoa berhenti berbicara menggunakan topolek dalam lima tahun, dan menjadikan bahasa Mandarin sebagai bahasa pilihan di tempat-tempat umum dalam waktu 10 tahun.[5][6] Menurut pemerintah, agar kebijakan dwibahasa ini menjadi efektif, bahasa Mandarin harus digunakan di rumah dan harus berfungsi sebagai lingua franca di antara orang Tionghoa Singapura.[7] Mereka juga berpendapat bahwa bahasa Mandarin lebih bernilai secara ekonomi, dan berbahasa Mandarin akan membantu warga Tionghoa Singapura melestarikan warisan mereka, karena bahasa Mandarin seharusnya mengandung repositori nilai dan tradisi budaya yang dapat dikenali oleh semua orang Tionghoa, terlepas dari kelompok topolek.[8]
↑Bokhorst-Heng, W.D. (1998). Unpacking the Nation. In Allison D. et al (Ed.), Text in Education and Society (pp. 202–204). Singapore: Singapore University Press.
↑Lee Kuan Yew, "From Third World to First: The Singapore Story: 1965–2000", HarperCollins, 2000 (ISBN0-06-019776-5).
↑Lim Siew Yeen and Jessie Yak, Speak Mandarin Campaign, Infopedia, National Library Board Singapore, 4 July 2013.
↑Bokhorst-Heng, W.D. (1999). Singapore's Speak Mandarin Campaign: Language Ideology Debates and the Imagining of the Nation. In Harris R. and Rampton B. (Ed.), the Language, Ethnicity and Race Readers (pp. 174). London: Routledge. (2003)
↑Lionel Wee, (2006). The semiotics of language ideologies in Singapore.