1. ♂ Pangeran Ratoe/Sulthan Moeda Abdoe Rachman (wafat 1852), anak dengan Sultan Adam[4][5][6]
2. ♂ Pangeran Ismael (wafat 1833), anak dengan Sultan Adam, Pangeran Ismail tewas terbunuh karena berkelahi dengan Pangeran Noch, disebabkan memperebutkan jabatan calon mangkubumi.[5][7]
Njahi Ratoe Kamala Sarie atau Njahi Ratoe Koemala Sarie[10] adalah permaisuri raja BanjarSultan Adam al-Watsiq Billah.[11] Ia Kamala Sari terkenal sebagai sosok wanita yang berpengaruh pada masa kehidupannya Kesultanan Banjar. Nyai Kamala Sari semula merupakan pelayan (dayang) dan Selir janda Sultan Sulaiman (ayahanda Sultan Adam).
Sepeninggal Sultan Sulaiman Saidullah II tersebut, anak tirinya Sultan Adam menikahi Nyai Kamala Sari menjadikannya sebagai isteri kesayangannya. Setelah dirinya melahirkan seorang calon Putera Mahkota Pangeran Abdur Rahman sebagai pewaris Sultan Adam maka ia dilantik menjadi permaisuri kerajaan. Sebelum menjadi permaisuri, gelarnya adalah Nyai saja. Setelah menjadi permaisuri gelar Ratu ditambahkan di belakang gelar Nyai menjadi Nyai Ratu. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia bukan berasal dari golongan keturunan raja, lain halnya jika isteri utama Sultan berasal dari golongan keturunan Raja, maka namanya secara langsung otomatis disebut Ratu saja, tanpa kata Nyai di depannya. Biasanya gelar dari isteri utama Pangeran Mahkota yang bukan berasal dari keturunan raja adalah Nyai Besar, kemudian setelah menjadi permaisuri Sultan disebut Nyai Ratu. Namun ibu Sultan Tamjidillah II yaitu Nyai Besar Aminah (sebelumnya bernama Nyai Biyar) tidak pernah disebut sebagai Nyai Ratu, karena ada penolakan dari kalangan istana terhadap dirinya, lagi pula suaminya Pangeran Mahkota Sultan Muda Abdul Rahman tidak pernah menjadi Sultan yang sesungguhnya karena lebih duluan wafat daripada ayahandanya (Sultan Adam).
Usianya lebih tua dari Sultan Adam. Sultan Adam mangkat tahun 1857 dalam usia 80 tahun. Dalam tahun 1855, usia Nyai Ratu Kamala Sari sudah mencapai 90 tahun. Sehubungan dengan wafatnya Pangeran Mahkota mendahului Sultan Adam, maka sepeninggal Sultan Adam, maka jabatan Sultan Banjar digantikan putera dari almarhum Pangeran Mahkota atau oleh cucunya. Dengan demikian ia menjadi Neneksuri bagi Sultan Banjar yang menjabat tersebut dan disebut Nyai Ratu Sepuh (Nyai Ratu yang tua). Ia pernah memimpin usaha penyeludupan garam, padahal mengusahakan memasok garam pada masa itu hanya boleh dilakukan oleh pihak Belanda.[4][10][12][13]Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Karim).adalah ipar dari Njahi Ratoe Koemala Sarie Kamala Sari).[14]Kamala Sari) mempunyai adik bernama ♂ Nyai Ambak,Nyai Ambak adalah (adik Njahi Ratoe Koemala Sarie Kamala Sari ) menikahi RAJA PULAU LAUT Pangeran Djaija Samitra hasil perkawinannya melahirkan Pangeran Kasoema Giri (Goesti Abdoellah berputra Gusti Mulia berputra patih Gusti Ahmad Menikah dengan Putri Hj. Zubaedah binti Pangeran Arga Kasuma
12345(Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. Vol.9. Lange. hlm.120.