Berdasarkan Perda Kota Tangerang Selatan Nomor 10 Tahun 2012,[2] pada tanggal 30 Oktober2012, semua desa di kecamatan Setu telah berstatus kelurahan, termasuk Kademangan.
Penduduk asli Kademangan merupakan suku Sunda. Karena kondisi kependudukannya yang sangat heterogen, lambat laun penutur bahasa Sunda dialek Tangerang di Kademangan semakin berkurang.
Kademangan, yang menjadi salah satu nama kelurahan di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menyimpan jejak cerita tentang sebuah kekuasaan seorang Demang atau
penguasa lokal era kolonial. Kisah Demang itu yang melatarbelakangi awal-mula nama Kademangan saat ini.
Seperti dikatakan H. Saleh, tokoh masyarakat yang tinggal di RT 01 RW 02 Kademangan
Menurutnya dahulu terdapat Demang yang ditugaskan membantu pembangunan bagi di wilayah tersebut pada era kolonial Belanda. “Ada Demang yang tugasnya membuat pembangunan bagi warga, Demang itu kalau sekarang seperti kepala Desa atau kepala daerah yang punya tugas di masyarakat,” ucap kakek 16 cucu itu.
Ia juga menambahkan, Demang yang bertugas tersebut menjadi sentral yang melakukan pengaturan bagi beberapa daerah yang hingga wilayah Serpong. “Kesohor Demang itu yang hingga kini menjadi awal nama Kademangan (pusat kekuasaan Demang),” imbuhnya.
Hal senada juga dikatakan Ardani, lelaki paruh baya yang mengetahui historis atas berkuasanya seorang Demang dari tetua keluarga besarnya. Dikatakannya Demang tersebut dahulu seperti diceritakan para orang tua bertugas membuat jalan kampung dan tanggul sungai.
“Sayangnya nama Demang itu kita gak tau dan Demang itu berasal dari mana serta silsilahnya,” ujarnya.
Pada satu waktu diceritakan kawasan Kademangan diguyur hujan deras selama berhari-hari yang membuat stok kayu bakar kering menjadi habis dan tersisa kayu bakar basah saja.
Seorang warga pun menemukan solusi dengan menggulung daun pisang membentuk pipa untuk meniup bara api yang kemudian dikenal sebagai semprong.
Seiring berjalannya waktu, metode seorang warga tersebut diikuti oleh warga lainnya hingga akhirnya perkampungan tersebut dikenal sebagai kampung Semprong.
Pada tahun 1942, Jepang menghidupkan kembali nama Kademangan setelah mengusir Belanda dari kawasan Serpong.
Walaupun Jepang telah kembali menggunakan nama Kademangan sebagai ibu kota wilayah tersebut, namun masyarakat setempat tetap menggunakan nama Serpong untuk wilayah tersebut.
Kemudian setelah Kemerdekaan Indonesia pada 1945, Serpong resmi ditetapkan sebagai wilayah administratif Kecamatan.