Selama acara peresmian KRI Bung Karno pada tanggal 1 Juni 2023, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengumumkan bahwa kapal saudari Bung Karno yang ditingkatkan akan dibangun. Laksamana Ali juga menyatakan bahwa kapal tersebut kemungkinan akan diberi nama Mohammad Hatta, salah satu pendiri bangsa Indonesia dan wakil presiden pertama Indonesia[1] Kontrak untuk korvet tersebut ditandatangani pada tanggal 25 Januari 2024 di galangan kapal PT Karimun Anugrah Sejati di Batam. Pada hari yang sama, upacara pemotongan baja dan peletakan lunas pertama juga dilaksanakan.[2]
Korvet tersebut diluncurkan pada tanggal 27 Februari 2025 dan secara resmi dinamai sebagai KRI Bung Hatta, disponsori oleh istri dari KSAL Ibu Fera Muhammad Ali.[3] Kapal tersebut direncanakan akan ditempatkan di Satuan Kapal Eskorta Komando Armada II di Surabaya.[4]Bung Hatta kemudian diserahkan kepada TNI Angkatan Laut dan mulai ditugaskan pada tanggal 17 April 2025.[5][6]
Untuk menghargai jasa-jasa perjuangan beliau, TNI AL mengabadikan nama beliau sebagai kapal perang KRI Bung Hatta (370) di bawah jajaran Koarmada II TNI AL yaitu Satkor Koarmada II, dimana kapal jenis Korvet ini dibutuhkan untuk memperkuat jajaran unsur kombatan yang siap beroperasi dalam rangka menjaga kedaulatan di wilayah kerja Koarmada II khususnya dalam mengatasi eskalasi mendesak dari kejahatan di laut.
Spesifikasi dan persenjataan
Bung Hatta direncanakan sebagai varian yang ditingkatkan dari KRI Bung Karno dengan ukuran yang sedikit lebih besar dan persenjataan yang lebih baik.[7][1] Kapal tersebut sendiri memiliki panjang 80,3m (263ft) dan lebar 12,6m (41ft). Korvet tersebut memiliki kecepatan tinggi 25 knot (46km/h), kecepatan jelajah 18 knot (33km/h), kecepatan ekonomis 14 knot (26km/h), dan mampu bertahan hingga 5 hari di laut. Bung Hatta memiliki awak kapal sebanyak 82 personel.[3]
Kapal tersebut direncanakan akan dipersenjatai dengan satu meriam Super Rapid OTO Melara 76 mmLeonardo Super, dua meriam otomatis 20mm, torpedo, dua peluncur ganda rudal anti-kapal, dan rudal darat-ke-udara.[8] Seperti yang dibangun, kapal tersebut dipersenjatai dengan satu meriam Bofors 57 mm L/70 Mk 1 di haluan dan dua meriam Yugoimport M71/08 20mm di setiap sisi di belakang struktur. Meriam Bofors 57mm berfungsi sebagai meriam utama sementara korvet hingga meriam Super Rapid OTO Melara 76mm dapat diperoleh dan dipasang.[3]
Korvet tersebut rencananya akan dilengkapi dengan rangkaian peperangan elektronik, seperti radar penanggulangan elektronik (R-ECM) dan tindakan dukungan elektronik radar (R-ESM).[3]
Bung Hatta juga mampu membawa helikopter Eurocopter AS565 Panther[9] dan memiliki sebuah dek penerbangan.[10] Kapal tersebut membawa dua perahu karet berlambung kaku (RHIB) dan memiliki jalur buritan untuk perahu, yang dapat mendukung misi infiltrasi, eksfiltrasi, pencarian dan penyelamatan (SAR), dan kunjungan, naik, pencarian, dan penyitaan (VBSS).[3][8]
Komandan KRI
Letkol Laut (P). Ramli Arif, S.T., M.Sc., M.Tr.Opsla. (17 April 2025 - Sekarang)
Operasi
Pada tanggal 25 November 2025, KRI Bung Hatta menangkap dua kapal pengangkut biji nikel ilegal di Laut Konawe Utara, Sulawesi Utara.[11] Dua kapal milik PT Prima Mulia Jaya itu tidak membawa dokumen kapal dan muatan yang sah, dan selanjutnya dikawal menuju Lanal Kendari untuk diperiksa lebih lanjut.[12]