Juliana Marins (24 Agustus 1998–20 Juni 2025) adalah seorang humas dan pelancong solo asal Brasil yang dikenal karena mendokumentasikan perjalanannya di seluruh Asia Tenggara. Tinggal di Niterói, di negara bagian Rio de Janeiro, Marins sedang dalam perjalanan backpacking panjang melalui negara-negara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, dan Indonesia ketika ia hilang pada tanggal 20 Juni 2025 saat mendaki Gunung Rinjani, sebuah gunung berapi di pulau Lombok, Indonesia. Kematiannya, yang dikonfirmasi empat hari kemudian, mendapat liputan media yang luas di Brasil.
Dinyatakan hilang
Pada tanggal 20 Juni 2025, Juliana Marins hilang saat mendaki Gunung Rinjani, gunung berapi aktif dengan ketinggian 3.726 meter (12.224 kaki). Menurut laporan, ia terpisah dari kelompoknya dan terpeleset dari jalan setapak saat mendaki di malam hari, jatuh beberapa ratus meter ke jurang yang curam.[2]
Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan tujuan pendakian yang populer tetapi menantang. Pendakian biasanya memerlukan waktu dua hingga empat hari dan menuntut tingkat kebugaran fisik yang tinggi, peralatan yang tepat, dan bimbingan profesional. Wilayah ini dikenal dengan jalur yang curam dan sempit serta cuaca yang tidak dapat diprediksi, dan telah menjadi lokasi kecelakaan lain yang melibatkan wisatawan.
Keesokan harinya, rekaman drone yang diambil oleh pendaki lain mengungkapkan lokasinya di lereng sekitar 500 meter (1640 kaki) di bawah jalur utama.[3][4] Karena medan yang terjal, kabut tebal, dan suhu rendah, tim darurat awalnya tidak dapat menjangkaunya.
Operasi penyelamatan
Upaya pencarian melibatkan otoritas Indonesia dan bantuan dari pemerintah Brasil. Kementerian Luar Negeri Brasil mengonfirmasi bahwa dua diplomat telah dikirim ke Indonesia untuk memantau situasi dan memberikan dukungan kepada keluarga.[5]
Rekaman drone yang diambil oleh wisatawan berperan penting dalam menentukan posisinya. Namun, tim penyelamat menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk lereng yang berbahaya, cuaca yang tidak dapat diprediksi, dan jarak pandang yang terbatas. Bantuan helikopter sempat dipertimbangkan tetapi akhirnya dikesampingkan karena kondisi yang tidak aman.[6]
Keluarganya membantah laporan bahwa Marins telah menerima bantuan selama dia terdampar, dan menyatakan dia tidak memiliki makanan, air, atau perlindungan termal.[7]
Kematian dan akibatnya
Pada tanggal 24 Juni 2025, pihak berwenang Indonesia mengonfirmasi bahwa Juliana Marins telah meninggal. Jasadnya ditemukan oleh tim penyelamat setelah empat hari. Saat pertama kali ditemukan, Juliana berada di kedalaman 150 meter. Namun, pada tanggal 23 Juni, ia telah tenggelam hingga 500 meter.[8][9][10][11][12]
Pemerintah Indonesia mengumumkan sebab kematiannya berdasarkan autopsi yang dilakukan oleh tim forensik dari Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah. Hasil autopsi menunjukkan adanya patah tulang di bagian tulang belakang, dada bagian belakang, punggung, dan paha korban. Juliana juga mengalami kerusakan organ yang memicu perdarahan hebat. Hal tersebut diungkap oleh dokter forensik Ida Bagus Putu Alit, pada 26 Juni 2025.[13]
Informasi tersebut tidak serta merta diterima oleh keluarga mendiang Juliana yang mengajukan autopsi kedua setelah jenazah tiba di Brazil. Pemerintah Brazil mengumumkan hasilnya pada 10 Juli 2025 dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil autopsi di Indonesia.[13] Tim forensik yang terdiri dari Kepolisian Sipil Rio de Janeiro, didampingi oleh ahli dari Kepolisian Federal memperkirakan bahwa waktu bertahan hidup Juliana setelah jatuh berkisar di 10 hingga 15 menit setelah benturan.[13] Mereka menyimpulkan bahwa Juliana tidak memiliki peluang untuk bergerak atau memberikan respons yang efektif.[13] Dokumen Kepolisian Sipil Brazil juga menjelaskan adanya kemungkinan Juliana mengalami periode agonal yang merupakan fase trauma menjelang kematian yang ditandai stres ekstrem dan kegagalan organ progresif.[13]
Tanggapan publik
Kasus ini mendapat tanggapan keras di media sosial di Brasil dan banyak dilaporkan di media berita nasional. Teman dan keluarga meluncurkan kampanye daring untuk meningkatkan kesadaran dan mendesak tindakan lebih cepat dari pihak berwenang Indonesia. Pemerintah Brasil tetap terlibat aktif selama operasi pencarian.[butuh rujukan]