Nienstedt sebelumnya menjabat sebagai uskup New Ulm di Minnesota dari 2001 sampai 2007 dan sebagai uskup auksilier Keuskupan Agung Detroit di Michigan dari 1996 sampai 2001. Nienstedt meminta pensiun dini dari jabatan uskup agung St. Paul dan Minneapolis setelah seorang jaksa lokal mengumumkan rencana untuk menyelidiki keuskupan agung tersebut karena kegagalannya untuk melindungi anak-anak dari pecehan seksual oleh para imamnya.
Biografi
Kehidupan awal
John Nienstedt lahir pada 18 Maret 1947, di Detroit, Michigan, dari pasangan John C. dan Elizabeth S. (née Kennedy) Nienstedt. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia memiliki dua saudara, Richard dan Michael, dan tiga saudari, Barbara, Mary, dan Corinne.[1][2]
Pada 1980, Nienstedt kembali ke Roma, tempat ia ditugaskan pada penugasan Inggris dari Sekretariat Negara Vatikan. Saat di Roma, ia juga menjabat sebagai kapelan di Rumah Sakit Bambino Gesù (1980–1983) dan Persaudaraan Salib Kudus (1981–1984). Nienstedt menerima gelar Doktor Teologi Sakral dari St. Alfonsus pada 1985; tesis doktoralnya berjudul, "Human Life in a Test-tube; the Moral Dimension of In Vitro Fertilization and Embryo transfer."[1]
Nienstedt diangkat menjadi uskup New Ulm ketiga pada 12 Juni 2001, dan dilantik pada 6 Agustus.[3] Ia mengecam pandangan yang sangat progresif dari pendahulunya, Uskup Raymond Lucker. Nienstedt berkata kepada umat Katolik di keuskupan agung agar tak membaca buku Lucker karena tak mewakili doktrin Katolik dan membujuk Konferensi Waligereja Amerika Serikat untuk menghalangi pengesahan validitas pandangan Lucker.[6]
Pada masa jabatannya di Konferensi Waligereja Amerika Serikat, Nienstedt mengetuai Komite Pembinaan Imamat dan menjadi anggota Komite Ad Hoc untuk Masalah perawatan Kesehatan dan Gereja.[7] Kedua orangtua Nienstedt meninggal dalam kurun waktu enam pekan pada musim dingin 2007.[8]
Uskup Agung Koajutor dan Uskup Agung St. Paul dan Minneapolis
Kala Paus menerima pengunduran diri Flynn pada 2 Mei 2008, Nienstedt secara otomatis menggantikannya sebagai uskup agung St. Paul dan Minneapolis kedelapan.[10] Nienstedt menerima pallium, sebuah jubah yang dipakai oleh uskup metropolitan, dari Paus Benediktus XVI di Basilika Santo Petrus pada 29 Juni 2008.[11] Tak lama setelah menjadi uskup agung, Nienstedt tak meneruskan layanan doa pawai kebanggaan gay yang diadakan di Gereja Santa Joan dari Arc di Minneapolis.[12] Ia menolak berbagai undangan untuk menghadiri Konvensi Nasional Partai Republik 2008, yang diadakan di St. Paul.[13]
Pada Oktober 2010, Nienstedt mengumumkan rencana strategis yang menyerukan penggabungan 21 paroki ke dalam 14 paroki tetangga. Tindakan tersebut beserta dua penggabungan pada masa berikutnya mengurangi jumlah paroki di keuskupan agung dari 213 pada Oktober 2010 menjadi 188 pada Juli 2013.[14]