Pada masa pemerintahan Śri Astasura Ratna Bumi Banten di Bedahulu, selamat sejahtera Negara Bali, sebab ia selalu menjalani tapa berata semadhi sejak kecil, maka itu ia disebut Sri Tapa Hulung, bagaikan Sanghyang Wisnu kenyataan, kuat, dan taat dalam memerintah, itu sebabnya ia diberi sebutan Sri Batu Ireng, juga kakaknya bernama Sri Batu Putih, karena ia selalu menjalani hidup suci, bertempat tinggal di Jimbarwana, menjalani tapa berata semadhi, mencari kebenaran sesungguhnya.
Selanjutnya diceritakan, Sri Batu Putih telah lama berpisah dengan saudaranya, yang menjadi raja di Bedahulu. Setelah lama memegang tahta kerajaan, Sri Batu Ireng ingat dengan kakaknya yang bernama Sri Batu Putih yang ada di Jimbarwana, sebab itu, ia mengikuti jejak perjalanan kakaknya, lantas menuju ke Jimbarwana, tetapi ia berdua sama-sama tidak tahu akan rupa wajahnya, karena terlalu lamanya ia berpisah. Setelah Sri Batu Ireng sampai di puri Sri Batu Putih, bertemu dengan istri Sri Batu Putih, dan langsung menuju dapur, membuka persiapan hidangan untuk Sri Batu Putih, maka Sri Batu Ireng berkata kepada seorang istri, "Ah, Ah, kamu seorang istri, saya bertanya kepadamu, dimana kakakku Sri Batu Putih sekarang, silahkan beritahu aku, karena sudah lama aku tidak bertemu", menjawab sang istri, "baiklah yang baru datang, ia Sri Batu Putih ada di mal (kebun) sedang memeriksa tanaman", baru demikian tanpa berterima kasih, ia Sri Batu Ireng terus menuju kebun, setelah sampai dan melihat-lihat kebun itu, kagum ia dengan tanaman disana, setiap tanaman tumbuh dengan subur, lebat, itu sebabnya, ditempat ia Sri Batu Putih ngastiti Hyang Pramawisesa, bernama Sarining Bwana, karena dari tempat ia memohon muncul Sarin Bwana, begitu ujar ia Sri Batu Ireng, karena tidak ketemu dengan kakaknya di kebun, pastilah ia lewat berlainan arah,
Tidak lama setelah Sri Batu Ireng keluar dari puri, Sri Batu Putih sudah tiba di Purinya, lantas berkata istrinya sambil menangis, memberitahukan tingkah polah sang tamu, tinggi besar, hitam warna kulitnya, acak-acakkan bagaikan seorang raksasa, membuka hidangan baginda di dapur. Demikian diberitahukan oleh sang istri, tak disangka marah besar ia Sri Batu Putih, seraya mengambil Gandawa (busur) dan mencari Sri Batu Ireng, yang disebut raksasa itu, karena pakaiannya urak-urakan datang ke Jimbarwana. Tak berapa lama berkelahi ia berdua, berkelahi habis-habisan, sama-sama tangguh dalam perkelahian, saling seruduk, saling menekan, namun tak ada yang berdarah, karena sama-sama sakti ia berdua, saling kejar, menyelinap ia Sri Batu Ireng, tiba di sungai, mengaso sekejap disana, karena ditebing ia bersembunyi, berkata ia , semoga sungai ini kelak bernama Batumabing, tak begitu lama dikejar oleh Sri Batu Putih, lagi berkelahi tak henti-hentinya, lari ia sang raksasa bersembunyi di goa batu, tak begitu lama datang Sri Batu Putih, lari ia Sri Batu Ireng, berujar Sri Batu Putih, semoga kelak disini dibangun pura bernama Pura Batumagwung, kemudian direbut sang raksasa itu oleh rakyat ia Sri Batu Putih, namun berhasil ia menyelinap, berkata Sri Batu Putih, semoga kelak tempat ini dikemudian hari bersama Sekhang, artinya Sri Batu Ireng direbut oleh rakyatnya Sri Batu Putih Jimbaran, menghilang wajah ia sang danawa namun Sri Batu Putih tidak bisa dihapus, ketahuan wajahnya, berkata ia , semoga kelak ditempat ini dibangun pura bernama Pura Muaya, seketika itu marah ia Sri Batu Ireng, kembali terjadi perang tanding mereka berdua dengan sangat dahsyat sekali, saling pukul dada, sama-sama memakai tipuan, berhamburan tanahnya, sama-sama perkasa sampai lemah lunglai mereka berdua, tak ada yang kalah, sama-sama menyelinap, karena perang tanding itu bagaikan pergumulan sanghyang kala-kali, dikemudian hari semoga tempat ini bernama Kali, setelah dapat bernafas sejenak, ia Sri Batu Putih memerintahkan pasukannya untuk menghadang langkahnya sang raksasa, akhirnya bertemu ia sedang membuka cecepan (tempat tembakau), lagi dikejar raksasa itu berjalan ketengah kabut, lesu berhangsur-hangsur nafasnya naik, setelah ketemu ditempat dimana bersembunyi memijit dan mengusa-usap kakinya, berkata ia Sri Batu Putih, kelak semoga dikemudian hari, tempat menghadang sang raksasa menjadi tempat bernama Tambak, tempat dimana ia membuka tembakau bernama Sesepan, tempat nafas tertatih-tatih bernama Ungah-ungahan, dan tempat mengusap-usap kaki bernama Gaing-gaingan, setelah payah mereka berdua dan duduk ditanah dan berujar salah satunya, berkata Sri Batu Putih,
"Hai kamu raksasa, siapa kamu, dari mana, sakti tak tertandingi, tak bisa dikalahkan kamu, apa maksud kamu datang kemari, kasih tahu aku",
"Om, Om, Om, sang maha sakti, aku bergelar Sri Batu Ireng, dari Bedahulu, datang kemari hendak bertemu kakakku, yang bernama Sri Batu Putih, Om, Om, Om",
"aduh adikku, aku Sri Batu Putih",
seketika itu kaget ia berdua, berpelukan, bergulingan di tanah, karena saking bahagianya ia berdua, dan disambut oleh seluruh pasukan dan rakyatnya, berujarlah ia berdua, semoga kelak disini dibangun pura bernama Ulun Swi, sebagai tonggak pertemuan dengan sanak saudara. Dengan demikian, nama desa Jimbaran berasal dari kata Jimbarwana (hutan luas) karena perkembangan zaman dan sesuai dengan bahasa setempat menjadi Jimbaran.