Jer basuki mawa béya (Jv: ꦗꦼꦂꦧꦱꦸꦏꦶꦩꦮꦧꦺꦪ) adalah ajaran etika Jawa yang menegaskan bahwa setiap keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan selalu menuntut pengorbanan. Tidak akan ada hasil besar tanpa mengerjakan usaha besar. Falsafah ini mengingatkan kita bahwa jalan menuju kemajuan memerlukan biaya, baik tenaga, waktu, pikiran, maupun materi. Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini menanamkan kesadaran bahwa tanggung jawab harus dijalankan, dan kesejahteraan bersama hanya dapat tercapai bila semua pihak mau berkontribusi. Jer Basuki Mawa Beya ini juga mendorong kedisiplinan, kerja keras, dan sikap realistis dalam menghadapi tantangan, sehingga seseorang tidak mudah menyerah atau berharap hasil yang gemilang tanpa adanya perjuangan.[1][2]
Pada masa pembangunan sekarang ini, Jer basuki mawa beya berarti setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. Pepatah dan semboyan tersebut kiranya cukup tepat untuk menggambarkan perlunya pengerahan berbagai sumber daya guna keberhasilan pelaksanaan pembangunan dan revaluasi Barang Milik Negara (BMN), misalnya, termasuk dana serta anggaran tentunya. Apalagi revaluasi BMN ini merupakan hajatan yang cukup besar bagi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).[3]
Arti secara harfiah
Berasal dari bahasa Jawa, Jer basuki mawa beya ini terdiri dari 4 buah kata:
Jer artinya: isi / inti / sebenar-benarnya
Basuki berarti selamat, berhasil, sejahtera
Mawa bermakna membawa / memerlukan, dan
Béya: biaya, ongkos, pengorbanan.
Sehingga secara harfiah, ungkapan “Jer Basuki Mawa Béya” ini berarti setiap kesuksesan (basuki) memerlukan pengorbanan (béya/biaya). Jadi semboyan dan moto ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan, kesuksesan, kesejahteraan dan keselamatan menuntut pengorbanan. Prinsip dan pedoman falsafah ini menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa perjuangan, kerja keras, serta kesediaan berkorban adalah syarat utama untuk mencapai tujuan mulia.[4]
Sebagai Semboyan di masa Perjuangan Kemerdekaan
Dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, falsafah “Jer basuki mawa béya” tampak jelas dalam setiap pengorbanan para pahlawan. Kemerdekaan tidak datang begitu saja; kemerdekaan menuntut biaya berupa keberanian, penderitaan, kehilangan, dan pengorbanan jiwa. Rakyat dan pejuang rela meninggalkan kenyamanan demi cita-cita merdeka. Mereka memahami bahwa keselamatan bangsa harus dibayar dengan keteguhan hati dan semangat pantang menyerah (rawe-rawe rantas). Setiap perlawanan, dari gerilya hingga diplomasi, mencerminkan kesadaran bahwa kebebasan memiliki harga. Melalui prinsip ini, generasi masa kini diingatkan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan panjang yang memerlukan pengorbanan tanpa pamrih.
Dalam kaitan untuk memperingati perjuangan mereka ini, menjelang peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menganugerahkan Tanda Kehormatan Lencana Jer Basuki Mawa Beya kepada empat orang tokoh di Jawa Timur, serta menyerahkan Penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada para ASN Pemprov Jatim di lingkungan Pemprov Jatim. Selain dari itu, Lambang Jawa Timur sendiri juga memakai semboyan Jer basuki mawa beya ini.[5]