Latar Belakang dan Pendidikan
Tumbuh besar di Hilo, sebuah kota tua yang dikelilingi oleh gunung api bagian dari kepulauan besar Hawaii, Doudna yang memiliki perawakan selayaknya perempuan kulit putih sering disebut "Haole"[4] oleh teman-temannya yang asli Hawaii. Lahir dari enam bersaudara, sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang berkemauan keras dan keras kepala serta memiliki semangat kepeloporan.
Lahir di Washington D.C, Ayah Doudna bekerja sebagai penulis pidato di kementrian pertahanan Amerika Serikat, sedangkan Ibunya adalah seorang guru. Pada Agustus 1971 ketika ia berusia tujuh tahun mereka sekeluarga pindah ke Hawaii, karena Ayah Doudna menjadi Profesor di universitas Hawaii di Hilo. Ketertarikannya terhadap sains sudah terlihat dari sejak kecil serta mendapat dukungan dari kedua orang tuanya, kemudian orang tuanya memperkenalkan nya pada salah satu teman sejawat ayahnya seorang profesor Mikologi Don Hemmes di mana mereka sering melakukan kegiatan jalan di alam. Pada saat kelas 6 SD ia membaca sebuah berjudul "The Double Helix" karya James D. Watson yang membuatnya semakin tertarik kepada bidang ilmu Biologi. [1]
Ketika SMA ketertarikannya terhadap sains semakin terasah karena guru kimia nya pada saat kelas 10, Jeanette Wong yang ia selalu sebut sebagai salah satu yang memengaruhi secara signifikan dalam memicu rasa ingin tahu ilmiahnya[5] serta Marlene Hapai yang ia sebut sebagai yang mengajarkannya rasa kebahagiaan dalam sains.[1] Selain itu seorang perempuan ahli kanker memberikannya dukungan untuk mengejar karier dalam sains pada saat kunjungan kesekolah.[5] Ketika liburan musim panas ia banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di laboratorium Universitas Hawaii di Hilo di bawah professor Hemmes. Pada tahun 1981 ia lulus dari SMA.
Kemudian ia menjadi mahasiswa jurusan Biokimia di Perguruan Tinggi Pamona[6] dengan beasiswa.[1] Pada awal tahun ajaran tingkat pertama, saat mengambil mata kuliah Biologi dasar ia merasa ragu dengan kemampuannya untuk mengejar karier di bidang sains dan berpikir untuk berpindah jurusan menjadi sastra dan bahasa Perancis, tetapi hal ini kemudian di tentang oleh dosen bahasa Perancisnya dan menyarankan agar tetap dengan pilihan sains. Keterkaitan antara kimia dan biologi yang kemudian ia pelajari dan kepercayaan diri terhadap kemampuan menguasai kimia semakin terbangun membuatnya melanjutkan kuliahnya, hingga kemudian ia bekerja di laboratorium di bawah Professor Biokimia Sharon Panasenko, yang hingga kini di sebutnya sebagai salah panutanya dalam sains.[1] Tahun 1985 ia lulus dengan gelar sarjana dari bidang Biokimia. Lalu melanjutkan pendidikan Doktoral ke Universitas Harvard lalu mendapatkan gelar PhD dalam bidang Biologi Kimia dan Farmakologi Molekular pada tahun 1989.
Ia menjalani kehidupan bersama suaminya, Jamie Cate, yang juga merupakan profesor biologi molekuler dan sel serta kimia di University of California, Berkeley, serta putra mereka yang telah beranjak remaja, Andy. Kehidupan keluarga mereka kerap berpusat pada dunia sains, namun mereka juga menikmati kegiatan memasak dan bepergian bersama, membaca, serta berjalan-jalan saat akhir pekan. Di tengah kesibukan tersebut, taman pribadinya tetap menjadi tempat beristirahat yang berharga, di mana ia sesekali meluangkan waktu untuk menikmati suasana di antara bunga, tanaman blueberry, dan lebah.[7]
Karier dan Penelitian
Pada awal kariernya, Doudna bekerja untuk mengungkap struktur tiga dimensi molekul RNA, yang memberikan wawasan tentang aktivitas katalitik RNA. Ia kemudian meneliti pengendalian informasi genetik oleh RNA kecil tertentu dan mulai tertarik pada CRISPR.[8]
CRISPR merupakan bagian dari sistem kekebalan bakteri. Sistem ini berasal dari sekuens RNA virus yang menyerang, yang kemudian terintegrasi ke dalam genom bakteri. Sekuens virus tersebut tersimpan sebagai DNA di dalam bagian “spacer” di antara blok pengulangan pendek DNA bakteri. Ketika virus yang sama kembali menyerang sel bakteri, DNA spacer ini diubah menjadi RNA. Enzim Cas9 bersama molekul RNA kedua kemudian menempel pada RNA yang baru terbentuk tersebut, yang selanjutnya mencari urutan DNA virus yang cocok. Ketika ditemukan, Cas9 memotong DNA virus, sehingga mencegah replikasi virus.[8]
Doudna dan Charpentier menemukan bahwa urutan RNA pemandu dapat diubah untuk mengarahkan Cas9 ke urutan DNA tertentu secara presisi. Penemuan ini dengan cepat mengubah lanskap rekayasa genom dan membuka peluang baru untuk pengobatan berbagai penyakit pada manusia.[8]
Rekayasa genom pada manusia merupakan konsekuensi yang tak terelakkan dari pesatnya kemajuan teknologi rekayasa genetika. Namun, masih sedikit yang diketahui mengenai keamanannya, dan penggunaannya untuk mengedit DNA manusia kembali memunculkan kekhawatiran etis, khususnya tentang apakah teknologi rekayasa genetika seharusnya digunakan untuk memodifikasi sifat non-penyakit, seperti kecerdasan.[8]
Pada awal tahun 2015, Doudna mengorganisasi sebuah upaya yang menyerukan moratorium terhadap penyuntingan genom manusia. Pada bulan April tahun tersebut, ia bersama rekan-rekannya merumuskan kerangka kerja untuk langkah-langkah segera guna melindungi genom embrio manusia dari modifikasi. Namun demikian, terlepas dari upaya kehati-hatian tersebut, pada April 2015 para ilmuwan Tiongkok melaporkan bahwa mereka telah berhasil mengubah genom embrio manusia menggunakan teknologi CRISPR-Cas9.[8]