Pembangunan Jembatan Merah Putih ini mempercepat waktu tempuh perjalanan antara Bandara Pattimura di Jazirah Leihitu, Maluku Tengah di utara, dan pusat Kota Ambon di Jazirah Leitimur di selatan.[2] Sebelum ada Jembatan Merah Putih, jarak Bandara Internasional Pattimura ke Kota Ambon yang berkisar 35 kilometer harus ditempuh selama 60 menit dengan memutari Teluk Ambon. Alternatif lain adalah dengan menggunakan kapal penyeberangan antara Desa Rumah Tiga dan Galala dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, belum termasuk waktu antre.[3]
Deskripsi teknis
Teluk Ambon adalah teluk sempit yang dalam, yang membagi pulau Ambon menjadi dua jazirah; jazirah Leihitu di utara dan jazirah Leitimur di selatan. Kawasan Pulau Ambon adalah kawasan yang rawan gempa tektonik, karena itulah kostruksi jembatan ini harus memperhitungkan kondisi geografi dan geologi kawasan ini.
Secara teknis panjang jembatan ini adalah 1.140 meter yang terbagi ke dalam tiga bagian yaitu, Jembatan Pendekat di sisi Desa Poka (sisi utara) sepanjang 520 meter, Jembatan Pendekat di sisi Desa Galala (sisi selatan) sepanjang 320 meter, dan Jembatan Utama sepanjang 300 meter.[3]
Jembatan Utama ini merupakan tipe jembatan khusus dengan sistem beruji kabel atau cable stayed, dengan jarak antar pilon sepanjang 150 meter.[3]
Tahap pembangunan
Awal rencana jembatan ini menelan dana Rp 416.75 miliar dan akan rampung akhir tahun 2014,[2] meski kemudian diundur karena alasan cuaca yang menghambat pengiriman material jembatan.[6] Per Juni 2015, pembangunan mencapai 90%.[7] Pembangunan jembatan ini sempat tertunda pengerjaannya akibat gempa bumi yang mengguncang Ambon pada 29 Desember 2015.[5] Jembatan ini rampung pada 4 April 2016.[3]
Nama jembatan
Kata "merah" dan "putih" pada nama Jembatan Merah Putih ditetapkan sebagai simbol persatuan bagi penduduk Kota Ambon.[8]