Masa kecil
Jean-Paul Sartre dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1905 di Paris. Keluarganya merupakan kaum borjuis dengan kelas menengah. Orang tuanya memiliki keyakinan terhadap agama yang berbeda. Ayahnya merupakan pengikut Katolik sedangkan ibunya pengikut Protestan. Pada masa kecilnya, ia sangat peka terhadap orang lain. Selama masa sekolah ia mengalami perundungan dari teman-temannya yang lebih tegap dan kuat. Kondisi ini dialaminya karena ayahnya wafat ketika ia masih berusia dua tahun. Ia akhirnya diasuh oleh kakeknya yang merupakan pengikut Protestan. Dalam pengasuhan, kakeknya memberikan pendidikan agama Katolik. Hingga usia 10 tahun, Sartre masih mengakui Tuhan dan taat beribadah di gereja dan membaca kitab suci. Pada akhirnya, ia memilih menganut agama Protestan seperti ibunya. Sekitar usia 11 tahun, Sartre mulai berpkir kritis terhadap agama. Pemikirannya yang paling awal adalah menyatukan antara paham agama Katolik dan Protestan. Nilai agama yang ingin disatukannya adalah nilai kepasrahan dalam Katolik dan nilai kritis dalam Protestan. Penggabungan kedua nilai ini menurutnya akan membentuk keyakinan agama yang kuat bagi dirinya. Keyakinannya pada Tuhan mulai menurun ketika ia berusia 12 tahun. Penyebabnya adalah doa yang dipanjatkannya kepada Tuhan tidak dikabulkan sama sekali. Akhirnya, ia tetap pergi beribadah ke gereja hanya sebatas menghindari kemarahan dari ibunya. Ia mulai kehilangan keyakinan kepada Tuhan secara perlahan. Keyakinan ini benar-benar hilang ketika ia menyatakan bahwa sastra adalah Tuhan baginya.
Pemikiran
Ketuhanan
Sarte tidak meyakini adanya Tuhan. Ia meyakini bahwa tidak ada sesuatu hal pun yang mengarahkan kehidupan manusia. Bagi Sarte, manusia menjadi pencipta bagi kehidupannya sendiri. Atas dasar ini, manusia wajib bertanggung jawab atas seluruh pilihan-pilihan yang telah ditetapkannya untuk dikerjakan.
Kemanusiaan
Pandangan kemanusiaan bagi Sartre terletak pada kenyataan mengenai keberadaan manusia dan bukan kepada hakikat keberadaan manusia.[7] Sartre termasuk salah satu tokoh eksistensialisme sehingga ia menolak spekulasi-spekulasi tentang manusia yang sifatnya abstrak. Ia memandang manusia sebagai sesuatu yang nyata, unik dan berubah-ubah. Pandangan Sartre dan para tokoh eksistensialisme lainnya mengubah kedudukan manusia dalam determinasi. Mereka membalik pandangan bahwa manusia berada dalam determinasi ide. Menurut idealisme, manusia dideterminasi oleh ide. Menurut rasionalisme, manusia dideterminasi oleh rasional-sistemik. Sedangkan menurut realisme, manusia dideterminasi oleh struktur. Namun, menurut eksistensialisme, manusialah yang melakukan determinasi atas ide, konsep dan struktur. Dalam keyakinan Sartre, manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan dari apa pun secara mutlak.
Sartre merupakan salah satu pendukung eksistensialisme. Berbeda dengan para tokoh eksistensialisme yang lainnya, Sartre menyatakan premis dasar dari eksistensialisme secara gamblang. Premis ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan menjalani hidupnya sesuai dengan apa pun yang disukainya. Secara sederhana. premis ini menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi.
Penjelasan mengenai premis tersebut diberikan oleh Sarte melalui sebuah analogi. Dalam analogi ini, manusia tidak disamakan dengan pisau kertas. Analogi ini dinyatakannya tidak bisa dilakukan karena konsep pisau kertas dibuat oleh seseorang sebelum pisau tersebut dibuat. Dalam analogi ini, konsep mengenai pisau kerta ada terlebih dahulu dibandingkan keberadaannya. Berarti, esensi mendahului eksistensi. Sedangkan pada manusia, Sartre meyakini bahwa keberadaan manusia tercapai tanpa esensi. Esensi ada pada manusia sebagai hasil dari eksistensi manusia yang kemudian membuat esensi atas dirinya sendiri.
Sartre meyakini bahwa keberadaan manusia tidak bersifat konseptual, melainkan aktual. Ia melandasi pemikirannya ini sebagai tanggapan atas gagasan ateisme abad ke-18 yang menolak keberadaan Tuhan, tetapi menerima gagasan bahwa esensi mendahului eksistensi. Gagasan ini merupakan hasil pemikiran dari Diderot, Voltaire dan Immanuel Kant. Dalam pemikiran kemanusiaan, Sartre meyakini bahwa setiap manusia dapat mewakili konsep manusia universal karena memiliki watak manusia yang menjadi konsep tentang manusia.
Kebebasan
Pemikiran tentang kebebasan yang dianut oleh Sartre adalah kebebasan tanpa batas. Penilaian mengenai kebaikan dan keburukan tidak ditentukan oleh etika, melainkan oleh kebebasan itu sendiri. Dalam keyakinan Sartre, manusia itu membuat keberadaannya ada dan memberikn kehidupan bagi apa pun yang terlibat dalam kehadirannya. Keberadaan manusia dianggapnya sebagai kebebasan. Kebebasan ini diartikan sebagai keberadaan dengan ruang kosong. Manusia bebas karena berada di ruang kosong. Dalam kondisi tanpa apa pun, manusia harus mengisi ruang kosong tersebut. Kebebasan yang dimiliki oleh manusia dalam pandangan Sarte merupakan sebuah hukuman. Karena adanya keniscayaan akan kebebasan, manusia harus melakukan segala hal untuk mengisi ruang kosong yang dimilikinya.[13]
Keberadaan
Dalam keberadaan manusia yang bebas, Sartre memasukkan teori ketubuhan sebagai aspek yang penting. Adanya teori ini membuat konsep tentang kesadaran diartikan sebagai kebebasan yang memiliki gerakan yang bebas. Pergerakannya dapat ke masa lalu maupun masa depan. Kebebasan tubuh manusia dalam konteks ini tidak apa adanya, melainkan melampau yang telah ada menggunakan gerakan. Identitas yang ditetapkan berlaku kepada "ada" yang memiliki kesadaran. Kondisi ini kemudian mempersyaratkan kebebasan untuk memperoleh kesadaran. Di sisi lain, menjadi ada memerlukan konsep yang bukan barang dan bukan objek. Keberadaan hanya diperoleh ketika sesuatu menjadi subjek.[14]
Eksistensialisme
Fokus utama dalam filsafat oleh Sartre adalah hakikat manusia dan struktur kesadarannya. Gagasan-gagasan ini dapat dikemukakannya melalui novel dan risalah akademis yang sifatnya lebih ortodoks. Ia mengembangkan gagasan dari tradisi fenomenologis gurunya. Sartre menjadi penentang yang aktif terhadap idealisme khususnya mengenai fenomenologi. Sartre meyakini bahwa agen bukanlah penonton dunia. Segala hal yang ada di dunia dibentuk oleh kesadaran-kesadaran yang intensional sehingga menghasilkan tindakan-tindakan. Pembentukan diri disesuaikan dengan sejarah. Karena manusia membentuk dirinya sendiri, maka ia bertanggung jawab pula atas semua emosi dan perbuatannya. Sartre meyakini bahwa manusia tidak dapat menanggung seluruh perbuatannya sendiri. Ia melihat adanya tanggapan yang dipaksan terhadap situasi tertentu yang tidak berasal dari pilihan pribadi. Adanya iman yang buruk mempertambah kesulitan dari bagi diri sendiri.
Sartre memberikan dua cara agar manusia dapat menyadari keberadaannya. Pertama, meyakini bahwa manusia berada pada dirinya sendiri dan yang kedua meyakini bahwa manusia berada untuk dirinya sendiri. Dalam cara yang pertama, keberadaan dapat dirasakan dengan menganggap benda-benda dan objek-objek lain sebagai suatu kenyataan yang tidak ada, tanpa kesadaran dan tanpa makna. Sedangkan cara kedua memerlukan keyakinan bahwa manusia adalah sumber yang mengadakan sesuatu yang lain. Sehingga, semua yang ada bertujuan bagi keberadaan manusia itu sendiri.
Hakikat esensial dari keberadaan manusia bagi Sarte merupakan kemampuan untuk memilih. Pilihan ini tidak dapat disamakan dengan determinisme dan eksistensi hukum moral dari Immanuel Kant. Kondisi tidak stabil selalu terjadi karena harus mengimplikasikan sebuah sintesis antara kesadaran (mengada-untuk-dirinya- sendiri) dan objektivitas (mengada-dalam-dirinya-sendiri). Kondisi tidak stabil inilah yang menghasilkan kecemasan. Sartre menganalisis pandangannya mengenai hakikat kesadaran dan penilaian melalui karya-karya ontologis yang dibuatnya sendiri, seperti L’Etree et le neant.
Subjektivisme aksiologi
Sartre juga pendukung subjektivisme aksiologis. Ia menyatakan bahwa objek merupakan pencipta dari nilai.[18]