Menurut kitab Brahmandapurana, Jaya dan Wijaya merupakan putra Kali (bukan Dewi Kali maupun Raksasa Kali), sedangkan Kali yang dimaksud merupakan salah satu putra Dewa Baruna dan Stuta. Saudara Kali―pamannya Jaya dan Wijaya―bernama Wedya.[4][5]
Sementara itu, kitab Padmapurana mencatat bahwa Jaya dan Wijaya merupakan putra Kardama dan Dewahuti. Berkat pengabdian dan rasa bakti yang hebat ke hadapan Wisnu, akhirnya mereka diangkat sebagai penjaga gerbang Waikunta.[6]
Kisah
Ilustrasi dari Bhagawatapurana edisi Tamil (1915), menggambarkan adegan Jaya dan Wijaya melarang para Kumara (Catursana) memasuki kediaman Wisnu.
Menurut cerita dari Bhagawatapurana, empat Kumara (Caturkumara) alias Catursana (para putra Dewa Brahma) mengunjungi Waikuntha, tempat tinggal Dewa Wisnu. Namun Jaya dan Wijaya melarang mereka untuk masuk karena Wisnu sedang beristirahat. Catursana marah sebab Jaya dan Wijaya tidak mengetahui siapa Catursana sesungguhnya. Mereka mengutuk Jaya dan Wijaya agar mengalami reinkarnasi. Akhirnya Wisnu muncul sebagai penengah. Dia berbelas kasihan, lalu mengajukan penawaran kepada Jaya dan Wijaya. Mereka diperbolehkan untuk memilih: reinkarnasi sebagai pemuja Wisnu selama tujuh kehidupan, atau sebagai musuh Wisnu selama tiga kehidupan. Wisnu juga berjanji bahwa setelah menjalani salah satu pilihan tersebut, Jaya dan Wijaya akan kembali lagi ke Waikunta dan tinggal di sana selama-lamanya. Karena ingin menjalani reinkarnasi sesingkat mungkin, maka mereka memilih untuk dilahirkan berulang-ulang selama tiga kehidupan. Pilihan tersebut memaksa Jaya dan Wijaya untuk menjalani kehidupan sebagai musuh Wisnu.[7]
Selama Jaya dan Wijaya bereinkarnasi ke dunia, mereka berdua selalu dibunuh oleh awatara Wisnu. Pada masa Satyayuga, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, putera Diti dan Kasyapa. Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha, sedangkan Hiranyaksipu dibunuh oleh Narasinga. Pada masa Tretayuga, Jaya dan Wijaya lahir kembali sebagai Rahwana dan Kumbakarna, putra Wisrawa. Mereka dibunuh oleh Rama. Pada zaman Dwaparayuga, Jaya dan Wijaya bereinkarnasi sebagai Sisupala dan Dantawaktra (beberapa versi mengatakan Kangsa, bukan Dantawaktra). Keduanya dibunuh oleh Kresna. Setelah menjalani tiga kali kehidupan sebagai musuh Wisnu, Jaya dan Wijaya kembali ke Waikuntha.[8]
Ikonografi
Pada zaman sekarang―yang dipercaya oleh umat Hindu sebagai "Kaliyuga" (zaman kegelapan)―Jaya dan Wijaya telah bebas dari kutukan, dan perwujudan mereka dapat ditemui di kuil-kuil Wisnu―dan tempat-tempat suci yang berkaitan dengan Waisnawa―sebagai arca penjaga gerbang. Sebagai contoh, patung Jaya dan Wijaya berdiri di kuil Wenkateswara (Tirumala), kuil Jagannath (Puri), dan Ranganatha (Srirangam).
Jaya diwujudkan dengan sosok berlengan empat, masing-masing membawa: cakram di tangan kiri atas, sangka di tangan kanan atas, gada di tangan kiri bawah, dan pedang di tangan kanan bawah. Wijaya digambarkan dengan atribut yang sama, tetapi posisinya berkebalikan dengan Jaya. Mereka membawa tiga benda yang juga menjadi atribut Wisnu: cakram, sangka, dan gada. Namun mereka membawa pedang sebagai atribut keempat, sedangkan Wisnu membawa bunga seroja.
↑"Story of Jaya-Vijaya". TemplePurohit - Your Spiritual Destination | Bhakti, Shraddha Aur Ashirwad (dalam bahasa American English). 2020-07-26. Diakses tanggal 2021-11-01.