Menurut Fredericks, jika orang Kristen ingin berteologi komparatif, maka ia perlu menanamkan persahabatan dengan sesama yang non-Kristen.[2] Dalam tradisi Kristen, pengertian mengenai persahabatan dapat dilihat dari hubungan antara kasihphilia dan agape.[2] Dalam kasih philia, seseorang bersahabat dengan seseorang karena ia melihat ada kualitas yang baik dari sahabat tersebut, dan karena itu ada hubungan timbal-balik di dalamnya.[2] Sedangkan kasih agape adalah kasih yang tanpa syarat yang dilakukan tanpa perlu melihat kualitas baik dari karakter sahabat tersebut, dan merupakan bentuk kasih yang lebih radikal.[2] Kasih agape merupakan kasih tak bersyarat dan dipandang sebagai bentuk kasih tertinggi, sedangkan kasih philia adalah kasih yang memihak pada pihak tertentu dan bersifat resiprokal.[2]
Lebih lanjut Fredericks menyatakan bahwa orang Kristen selama ini sangat menekankan kasih agape karena ini yang diperintahkan oleh Yesus.[2] Penekanan orang Kristen pada kasih agape ini kemudian menyebabkan orang Kristen untuk mengasihi orang-orang non-Kristen tanpa menghiraukan kepercayaan dan praktik religius mereka.[2] Karena itu, Fredericks menyatakan perlunya penekanan pada kasih philia, yang menghargai orang non-Kristen bukan karena perintah Yesus, tetapi karena kebaikan dan nilai-nilai dalam agama-agama lain tersebut.[2]
Referensi
12(Indonesia) Paul F. Kintter. 2008. Pengantar Teologi Agama-agama. Yogyakarta: Kanisius.
1234567891011(Inggris) James L. Fredericks. 1999. Faith among Faiths: Christian Theology and non-Chirstian Religions. Mahwah, NJ: Paulist Press.