Jalak Bali atau Curik Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang dari suku Sturnidae yang endemik Pulau Bali, Indonesia.[2][1] Panjang tubuhnya sekitar 25cm.[2][3] Burung ini merupakan satu-satunya spesies vertebrata endemik Bali yang masih hidup.[2] Pada tahun 1991, Jalak Bali dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali.[2]
Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910 di pantai utara Bali.[2] Nama ilmiahnya diberikan oleh ornitolog Jerman Erwin Stresemann pada tahun 1912 untuk menghormati Walter Rothschild.[2] Genus Leucopsar bersifat monotipik.[2]
Burung ini berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan termasuk Appendix I CITES.[1][4] Populasi liarnya pernah turun hingga hanya 6 ekor pada 2001–2006,[2][5] namun kini meningkat signifikan berkat program penangkaran dan pelepasliaran.[6][5]
Taksonomi
Jalak Bali ditempatkan dalam genus monotipik Leucopsar (dari bahasa Yunani leukos = putih + psar = jalak).[2] Analisis genetik menunjukkan hubungan terdekat dengan genus Sturnia, khususnya jalak brahminy (Sturnia pagodarum).[2][7]
Nama ilmiah lengkap: Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912. Lokasi tipe: Bubunan, pantai utara Bali.[2]
Bulunya 90% berwarna putih bersih, ujung bulu sayap dan ekor berwarna hitam (lebar ±25 mm).
Kulit gundul di sekitar mata berwarna biru tua.
Paruh runcing, panjang 2–3 cm, ujung kuning kecoklatan, pangkal abu-abu kehitaman.
Kaki berwarna abu-abu.
Memiliki jambul panjang yang menjuntai (lebih panjang dan tebal pada jantan).
Panjang total tubuh ±25 cm, berat badan 70–115 gram (rata-rata 95–108 gram).[2][3]
Jalak Bali di Taman Nasional Bali BaratClose-up kepalaTampak samping
Perbedaan Jantan dengan Betina
Meskipun secara umum monomorfik, terdapat perbedaan subtle:[3]
Kepala jantan lebih besar dan memanjang, jambul lebih panjang.
Tubuh jantan lebih besar dan gagah; betina lebih ramping.
Suara
Kicauan khas berupa campuran siul dengan jeda nada dan lengkingan. Burung ini sangat vokal dan terkadang meniru suara burung lain.[2] Penelitian bioakustik mencatat sekitar 15 tipe suara (10 call dan 5 song).[9]
Jalak Bali bersifat diurnal dan arboreal. Di habitat alami mereka cenderung tidak mencolok dan jarang turun ke tanah kecuali untuk minum atau mencari bahan sarang.[2][10] Radius pergerakan harian 3–10 km. Aktivitas dimulai sekitar pukul 05.00–05.30 WITA dan berhenti sekitar 18.45 WITA.[10]
Mereka menyukai kebersihan: sering mandi dan melakukan preening serta berjemur.[10]
Makanan
Omnivora. Makanan utama meliputi buah-buahan (Ficus, Lantana camara, Sterculia foetida, Manilkara kauki, dll.), serangga, cacing, dan nektar dari pohon Erythrina.[2][11]
Reproduksi
Bersifat monogamus.[3] Musim kawin utama September–Mei, puncak Januari–Maret.[2][3] Jumlah telur 2–3 butir, masa inkubasi 12–16 hari, masa di sarang 22–28 hari.[2][3] Kedua induk merawat anak hingga beberapa minggu setelah meninggalkan sarang.[2]
Habitat dan Penyebaran
Habitat alami: hutan musim dataran rendah, savana, hutan mangrove, dan tepi hutan di bawah 175 m dpl.[2][10] Penyebaran alami hanya di barat laut Bali, terutama di dalam dan sekitar Taman Nasional Bali Barat.[2][10]
Populasi introduksi terdapat di Nusa Penida sejak 2006 dan beberapa desa adat di Tabanan, Badung, serta Payangan.[6][5]
123456Squires, Tom (2023). "The road to recovery: conservation management for the Critically Endangered Bali myna shows signs of success". Oryx. doi:10.1017/S0030605323000777.
↑"Phylogenetic relationships of starlings". Molecular Phylogenetics and Evolution. 2008.
↑Thohari M. 1987. Gejala inbreeding dalam penangkaran satwaliar. Media Konservasi 1(4): 1-10.