Magistrat Jepang di Nagasaki, Murayama Tōan melancarkan invasi terhadap Taiwan.[2] Tujuannya adalah untuk mendirikan basis untuk pasokan langsung sutra Tiongkok, daripada harus memasok dari Makau atau Manila.[3][1] Sebelumnya Toyotomi Hideyoshi juga berencana untuk menaklukkan Taiwan dan meningkatkan kekuatan Jepang di lautan. Namun, raja Ryukyu, Sho Nei telah memperingati kaisar Tiomgkok, Wanli terkait rencana Jepang untuk merebut Taiwan.[3][1]
Pada tanggal 15 Mei 1616 (beberapa menyebut 1615) mereka meninggalkan Nagasaki. Armada Murayama yang terdiri dari 13 kapal dan 4.000 prajurit, di bawah komando salah satu putranya. Namun, topan mengacak-acak pasukan penginvasi[4] dan hanya satu kapal yang berhasil mencapai pulau Taiwan, tetapi berhasil dihalau oleh pasukan lokal.[3][1] Kegagalan ini mengakhiri upaya invasi lebih awal. Satu kapal lainnya disergap di sungai, dan semua awak melakukan bunuh diri untuk menghindari penangkapan oleh pasukan Ming atau suku pribumi Taiwan.[1][5]
Beberapa kapal Jepang berganti arah untuk menjarah pesisir Tiongkok. Beberapa kapal Jepang mencapao pesisir Vietnam dan tidak kembali ke Nagasaki hingga bulan Juli 1617.[1][5] Mereka dikatakan telah membunuh lebih dari 1.200 orang Tiongkok.[5]
123Recent Trends in Scholarship on the History of Ryukyu's Relations with China and JapanGregory Smits, Pennsylvania State University, p.13 Diarsipkan 2012-03-02 di Wayback Machine.
↑Frei, Henry P.,Japan's Southward Advance and Australia, Univ of Hawaii Press, Honolulu, ç1991. p.34 - "...ordered the Governor of Nagasaki, Murayama Toan, to invade Formosa with a fleet of thirteen vessels and around 4000 men. Only a hurricane thwarted this effort and forced their early return"