Insiden Di Petrich (bahasa Yunani:Επεισόδιο του Πετριτσίουcode: el is deprecated ; bahasa Bulgaria:Петрички инцидентcode: bg is deprecated ), atau Perang Anjing Liar (bahasa Yunani:Πόλεμος του αδέσποτου σκύλουcode: el is deprecated ),[3] adalah krisis Yunani–Bulgaria pada tahun 1925 yang mengakibatkan invasi singkat ke Kerajaan Bulgaria oleh Yunani di dekat kota perbatasan Petrich setelah membunuh seorang kapten Yunani dan seorang tentara penjaga perbatasan Yunani oleh tentara Bulgaria.[4] Insiden tersebut berakhir setelah diselesaikan oleh Liga Bangsa-Bangsa.
Latar Belakang
Akar Ketegangan dan Perjalanan Sejarah Bulgaria dan Yunani
Hubungan antara Bulgaria dan Yunani memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari Kekaisaran Ottoman yang menguasai wilayah luas dengan beragam agama, budaya, dan kelompok etnolinguistik, termasuk di antaranya Yunani dan Bulgaria. Yunani berhasil memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1832, disusul Bulgaria pada tahun 1908.
Kekaisaran Ottoman adalah negara Islam, sementara Yunani dan Bulgaria merupakan negara Kristen dengan mayoritas pemeluk Gereja Ortodoks Timur. Kedua negara ini juga pernah menjadi anggota Liga Balkan yang berjuang untuk kemerdekaan mereka. Meskipun telah merdeka, ancaman dari Kekaisaran Ottoman yang masih kuat tetap menghantui.[5]
Meskipun memiliki banyak alasan untuk bersatu, hal tersebut tidak terwujud. Setelah Liga Balkan membagi wilayah Kekaisaran Ottoman di Eropa di antara anggotanya, Albania terbentuk, menyisakan Makedonia dan Thrace Barat yang menjadi incaran Bulgaria dan Yunani. Akibatnya, sekutu lama berubah menjadi musuh baru.
Situasi ini memicu serangkaian sengketa perbatasan yang berpuncak pada pecahnya Perang Balkan Kedua pada tahun 1913. Kemudian, Perang Dunia I meletus. Bulgaria berpihak pada Jerman, Austria-Hongaria, dan melancarkan serangan terhadap Serbia. Ketika perang berakhir dengan kemenangan Sekutu, Yunani mendapatkan keuntungan karena berpihak pada pemenang, sebagaimana diatur dalam Perjanjian Neuilly-sur-Seine.
Dampak Perang Dunia I dan Konflik Berkelanjutan
Karena Bulgaria berpihak pada blok yang kalah, mereka dipaksa menyerahkan Thrace Barat, yang mengakhiri akses langsung mereka ke Laut Aegea. Mereka juga harus menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia (yang kemudian dikenal sebagai Yugoslavia). Ketegangan antara Yunani dan Bulgaria tidak mereda setelah berakhirnya Perang Dunia I.
Pihak Bulgaria yang tidak menerima ketentuan perjanjian tersebut juga tidak percaya bahwa konflik harus berakhir. Serangan hukuman terhadap Yunani dan Yugoslavia dilancarkan, dengan aksi paling merusak dilakukan oleh Organisasi Revolusioner Internal Makedonia (IMRO) dan Organisasi Revolusioner Internal Thrakia (ITRO).[6]
Petrich, sebuah kota di Bulgaria barat daya yang berbatasan dengan Yunani, dikelola oleh IMRO layaknya negara yang hampir merdeka. Pada tahun 1923, Perdana Menteri Bulgaria Aleksandar Stamboliyski berusaha meredakan ketegangan dengan Yunani dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara di Eropa. Akibat tindakannya ini, ia digulingkan melalui kudeta, kemudian ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh IMRO.[7]
Insiden
Terdapat dua versi utama mengenai pemicu awal insiden ini.
Versi Pertama: Insiden "Perang Anjing Liar"
Dalam versi pertama, insiden bermula pada 18 Oktober 1925, ketika seorang prajurit Yunani dilaporkan mengejar anjingnya yang telah menyasar melewati perbatasan Yunani di celah Demir Kapia, 3 kilometer sebelah barat Radomir di Belasitsa (Belles). Oleh karena itu, insiden ini kadang dikenal sebagai Perang Anjing Liar. Seorang penjaga perbatasan Bulgaria kemudian menembak prajurit Yunani tersebut.[8]
Versi Kedua: Agresi Bulgaria
Sementara itu, versi kedua menyatakan bahwa insiden ini dipicu pada 18 Oktober oleh prajurit Bulgaria yang menyeberang ke wilayah Yunani. Mereka menyerang pos terdepan Yunani di Belasitsa, mengakibatkan tewasnya seorang kapten dan seorang penjaga Yunani.[9]
Reaksi Dari Yunani dan Bulgaria
Reaksi Yunani
Pemerintah Yunani, di bawah pimpinan Jenderal Theodoros Pangalos, merespons insiden ini dengan cepat dan tegas. Setelah seorang kapten Yunani dan seorang prajurit tewas di perbatasan, Pangalos mengeluarkan ultimatum kepada Bulgaria, menuntut permintaan maaf resmi, kompensasi bagi keluarga korban, dan hukuman bagi pihak yang bertanggung jawab. Ketika ultimatum tersebut tidak dipenuhi dalam waktu 48 jam, pasukan Yunani melancarkan invasi terbatas ke wilayah Bulgaria, menduduki sejumlah desa di sekitar Petrich.[10]
Reaksi publik Yunani didominasi oleh sentimen nasionalisme dan kemarahan atas apa yang mereka anggap sebagai agresi Bulgaria. Media massa di Yunani menggembar-gemborkan insiden tersebut sebagai serangan yang tidak beralasan terhadap kedaulatan Yunani, menyerukan tindakan balasan yang tegas untuk melindungi kehormatan bangsa. Pangalos, yang dikenal dengan sikapnya yang otoriter dan militeristik, memanfaatkan insiden ini untuk memperkuat posisinya di dalam negeri dan menunjukkan kekuatan Yunani di panggung internasional. Invasi ini dipandang oleh banyak orang di Yunani sebagai tindakan yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan mencegah terulangnya provokasi di perbatasan.[11]
Reaksi Bulgaria
Di sisi Bulgaria, insiden ini disambut dengan kecaman keras terhadap tindakan Yunani. Pemerintah Bulgaria, yang saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri Andrey Lyapchev, segera membantah tuduhan agresi dan menyatakan bahwa pasukannya hanya bertindak dalam upaya membela diri. Mereka menuduh Yunani melakukan invasi yang tidak beralasan dan melanggar kedaulatan Bulgaria.
Reaksi publik di Bulgaria juga sangat emosional. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Sofia dan kota-kota lain, mengecam agresi Yunani dan menyerukan diakhirinya pendudukan. Media Bulgaria menggambarkan tindakan Yunani sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan meminta komunitas internasional untuk campur tangan. Bulgaria, sebagai negara yang lebih kecil dan relatif lebih lemah secara militer dibandingkan Yunani, segera mengajukan permohonan kepada Liga Bangsa-Bangsa untuk menengahi konflik dan menghentikan invasi Yunani. Mereka menekankan bahwa tindakan Yunani mengancam perdamaian di Balkan dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar[12]
Akhir Perang
Intervensi Liga Bangsa-Bangsa
Menyusul eskalasi konflik dan invasi pasukan Yunani ke wilayah Bulgaria, pemerintah Bulgaria segera mengajukan permohonan kepada Liga Bangsa-Bangsa untuk menengahi krisis.[12] Liga Bangsa-Bangsa, yang memiliki mandat untuk mencegah perang dan menyelesaikan sengketa internasional melalui negosiasi, merespons dengan sigap.[13] Pada tanggal 26 Oktober 1925, Dewan Liga Bangsa-Bangsa, di bawah pimpinan Aristide Briand dari Prancis, mengadakan pertemuan darurat untuk membahas situasi tersebut.[12]
Dewan Liga segera mengeluarkan perintah kepada kedua belah pihak, Yunani dan Bulgaria, untuk menghentikan seluruh permusuhan dan menarik pasukan mereka ke posisi semula.[13] Liga Bangsa-Bangsa juga membentuk sebuah komisi penyelidikan yang terdiri dari perwakilan militer dan sipil dari berbagai negara anggota, dengan tugas untuk menyelidiki insiden di perbatasan, menentukan pihak yang bertanggung jawab, dan mengumpulkan fakta-fakta relevan.[12] Tekanan diplomatik yang kuat dari Liga, ditambah dengan ancaman sanksi ekonomi dan isolasi internasional, memaksa Yunani untuk mematuhi perintah tersebut.[14]
Penarikan Pasukan dan Keputusan Liga
Sebagai respons terhadap desakan Liga Bangsa-Bangsa, pasukan Yunani mulai menarik diri dari wilayah Bulgaria pada tanggal 28 Oktober 1925, hanya beberapa hari setelah invasi dimulai Penarikan penuh berhasil diselesaikan pada tanggal 3 November 1925, mengakhiri pendudukan militer Yunani di sekitar Petrich.[13]
Setelah penarikan pasukan dan penyelidikan oleh komisi, Liga Bangsa-Bangsa mengeluarkan keputusannya pada tanggal 14 Desember 1925.[15] Keputusan tersebut menyatakan bahwa Yunani bersalah atas pelanggaran kedaulatan Bulgaria melalui invasi militer yang tidak sah.[12] Sebagai konsekuensinya, Liga Bangsa-Bangsa memerintahkan Yunani untuk membayar ganti rugi sebesar 45.000 pound sterling kepada Bulgaria sebagai kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan dan hilangnya nyawa.[13] Keputusan ini juga menekankan pentingnya bagi kedua negara untuk menghormati perbatasan dan menyelesaikan sengketa melalui jalur damai.[15]
Referensi
↑Данаилова, Катерина (2011). "Петричкият инцидент" и ОН - 1925 година [Incident at Petrich and United Nations - 1925] (dalam bahasa Bulgaria). Plovdiv. p. 151.
↑Mihaylov, Ivan (1967). Спомени III. Освободителна борба 1924–1934 [Memoirs III. - Liberation struggle 1924–1934] (dalam bahasa Bulgaria). Leuven. p. 584–585.
↑"LATEST CABLES". The Western Star and Roma Advertiser. Toowoomba, Qld. 24 October 1925. hlm.2. Diakses tanggal 26 June 2013– via National Library of Australia. Greece. and Bulgaria have clashed, following a frontier incident, where a Greek captain and a sentry were shot dead at an outpost. - "TROUBLE ON GREEK FRONTIER". The Northern Standard. Darwin, NT. 23 October 1925. hlm.3. Diakses tanggal 26 June 2013– via National Library of Australia. After attacking the Greek outpost and shooting the two men, the Bulgarians hoisted the white flag. They explained that the firing was due to a misunderstanding. - "BULGARIA EXPLAINS". The Barrier Miner. Broken Hill, NSW. 22 October 1925. hlm.1. Diakses tanggal 26 June 2013– via National Library of Australia. The Greco-Bulgarian frontier incident was caused by a Greek soldier who accidentally crossed the Bulgarian-Greek border chasing a stray dog, Bulgarian regulars mistook this for an invasion and attacked a Greek outpost at Belesh, shooting dead a sentry and a captain.