Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Aqil Utsman ats-Tsaqafi (bahasa Arab:عبد الرحمن بن عبد الله بن أبي عقيل عثمان الثقفيcode: ar is deprecated ), juga dikenal dengan nama Ibnu Ummul Hakam (bahasa Arab:إبن أم الحكمcode: ar is deprecated ), atau Abdurrahman bin Ummu Hakam adalah seorang gubernur Arab pada masa Kekhalifahan Umayyah.[1][2]
Asal-usul
Ibnu Ummul Hakam merupakan putra dari Ummul Hakam binti Abi Sufyan. Dengan demikian, ia merupakan keponakan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (berkuasa 661–680). Ayahnya berasal dari Bani Tsaqif.[3] Silsilahnya adalah Abdurrahman bin Abdullah bin Abi Aqil Utsman bin Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits bin Habib bin al-Harits bin Malik bin Huthaith bin Jusyam bin Qasiyy (Tsaqif) ats-Tsaqafi al-Maliki.[4][1] Kakeknya, Abu Aqil Utsman bin Abdullah, adalah pembawa panji kaum musyrik pada Pertempuran Hunain dan terbunuh dalam keadaan kafir.[4] Panggilan atau kunyah Ibnu Ummul Hakam adalah Abu Mutharrif dan Abu Sulaiman.[1] Ia dilahirkan pada masa NabiMuhammad masih hidup (meninggal 632).[2]
Biografi
Menurut ath-Thabari, Ibnu Ummul Hakam melakukan ekspedisi militer di wilayah Bizantium pada tahun 53 H / 673 M pada musim dingin.[5] Pada tahun 678, pamannya mengangkatnya sebagai gubernur Kufah menggantikan Adh-Dhahhak bin Qais. Namun, menurut Ibnu Khayyath, penggantian ini terjadi setahun sebelumnya pada 58 H. Menurut ath-Thabari, ia menjabat selama dua tahun. Selama menjabat, Ibnu Ummul Hakam berhasil menumpas pemberontakan Khawarij, akan tetapi di sisi lain ia menganiaya penduduk Kufah sehingga mereka mengusirnya.[6] Pada tahun 679, An-Nu'man bin Basyir menggantikannya.[7]
Ummul Hakam sempat memenjarakan seorang warga demi mengambil istrinya yang cantik, saat bebas, orang ini pergi menghadap Muawiyah di Damaskus mengadukan perbuatan sang Gubernur Kufah. Muawiyah kirimkan surat untuk mengembalikan istrinya, Ummul Hakam lalu mengirimkannya ke hadapan Muawiyah sehingga membuatnya terpesona karena juga pandai fasih berbicara, lalu Muawiyah menanyakan kepada si wanita,"Kamu mau memilih aku, Ummul Hakam atau dia (suaminya)?" Si wanita bersyair memilih suaminya sehingga Muawiyah tertawa dan menikahkannya kembali dengan hadiah 1.000 dirham.[8]
Setelah diusir dari Kufah, Ibnu Ummul Hakam diangkat menjadi gubernur Mesir oleh pamannya. Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Muawiyah bin Hudaij mencegahnya untuk menjadi gubernur dan berkata, "demi hidupku, kelakuanmu tidak akan berlaku kepada kami sebagaimana kamu memperlakukan saudara-saudara kami dari penduduk Kufah".[6] Kisah ini juga ditemukan di catatan Ibnu Taghribirdi dan Ibnul Atsir al-Jazari, akan tetapi Muawiyah diketahui meninggal pada tahun 672. Penyebab perbedaan dalam catatan tidak jelas.[9]
Ibnu Ummul Hakam disebutkan meninggal pada tahun 685 yang merupakan tahun awal kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan (berkuasa 685–705).[2] Namun, ia sempat menjadi gubernur Jund Dimasyq pada masa Abdul Malik.[10]
James, David, ed. (2012). A History of Early al-Andalus: The Akhbār majmūʿa: A Study of the Unique Arabic Manuscript in the Bibliothèque Nationale de France, Paris, with a Translation, Notes and Comments. London and New York: Routledge.