Hubungan genosida–ekosida adalah hubungan antara ekosida (penghancuran lingkungan hidup) dan genosida (penghancuran suku bangsa). Ekosida dapat menjadi alat genosida,[1] kala "penghancuran lingkungan hidup dihasilkan dalam kondisi kehidupan yang secara mutlak mengancam keberadaan kebudayaan dan/atau fisik sebuah kelompok sosial",[2] dan lebih nampak membuat genosida pada masa mendatang.[3] Hal tersebut utamanya relecan dalam diskusi genosida masyarakat adat.[4][2]
Kebanyakan cendekiawan yang menulis tentang genosida dan ekosida memakai defisini asli genosida dari Raphael Lemkin.[3] Kala penghancuran ekologi bertanggung jawab atas genosida, ini terjadi dalam bentuk sistemik dan struktural, seringkali sepanjang beberapa dasawarsa atau abad, yang tak mudah untuk menekankan tujuan spesifik dari pelaku tertentu.[5][6] Kala ekosida berujung pada genosida, ini seringkali lebih nampak seperti kematian sosial ketimbang percobaan fisik.[5] Contohnya, cendekiawan genosida Tony Barta menyebut "keterpencilan menekankan penghancuran mendalam dalam banyak unsur kemasyarakatan".[6]
↑Lindgren, Tim (21 April 2018). "Ecocide, genocide and the disregard of alternative life-systems". The International Journal of Human Rights. 22 (4): 525–549. doi:10.1080/13642987.2017.1397631.
123Galligan SJ, Bryan P. (2022). "Re-theorising the genocide–ecocide nexus: Raphael Lemkin and ecocide in the Amazon". The International Journal of Human Rights (dalam bahasa Inggris). 26 (6): 1004–1031. doi:10.1080/13642987.2021.1994402. ISSN1364-2987.
↑Crook, Martin; Short, Damien; South, Nigel (2018). "Ecocide, genocide, capitalism and colonialism: Consequences for indigenous peoples and glocal ecosystems environments". Theoretical Criminology. 22 (3): 298–317. doi:10.1177/1362480618787176.
↑Brebbia, C. A.; Katsifarakis, K. L. (2007). "Ecocide and Genocide in the Iraqi Marshlands". River Basin Management IV (dalam bahasa Inggris). WIT Press. ISBN978-1-84564-075-0.