Hubungan Takhta Suci–Republik Kongo mengacu pada hubungan bilateral antara Republik Kongo dan Takhta Suci. Gereja Katolik memiliki pengaruh yang cukup besar di Republik Kongo karena separuh penduduk Republik Kongo beragama Katolik. Meskipun kedua negara menjalin hubungan pada Februari 1963, kerja sama mereka baru mulai meningkat belakangan ini, dengan perjanjian bilateral besar pertama mereka ditandatangani pada awal tahun 2017.
Takhta Suci memiliki sebuah nunc=siatur apostolik di Brazzaville, sementara Kongo belum memiliki misi diplomatik atau konsuler di Kota Vatikan.[1] Sebaliknya, kedutaan besarnya diwakili oleh Duta Besarnya untuk Prancis, yang diakreditasi ke beberapa negara lain, termasuk Takhta Suci.[2]Nunsius Apostolik Vatikan saat ini untuk Kongo adalah Francisco Escalante Molina,[3] sementara Duta Besar Republik Kongo untuk Prancis adalah Henri Lopès, yang diakreditasi ke Vatikan pada tahun 2000.[2]
Perjanjian Bilateral
Pada Februari 2017, kedua negara menandatangani perjanjian yang menegaskan status Gereja Katolik dan lembaga Katolik lainnya di Kongo, serta hak Gereja untuk menjalankan misinya di negara tersebut. Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, dan Perdana Menteri Republik Kongo, Clément Mouamba, hadir pada penandatanganan perjanjian tersebut, begitu pula sejumlah pejabat tinggi pemerintah dan agama.[4]
Kunjungan Resmi
Kardinal Peitro Parolin mengunjungi Brazzaville untuk penandatanganan perjanjian bilateral, sebagai bagian dari tur Afrikanya.[5]