Hubungan Takhta Suci–Myanmar mengacu pada hubungan bilateral antara Takhta Suci, yang berdaulat atas Vatikan dan Gereja Katolik, dan Myanmar. Pada Agustus 2017, Uskup Agung Paul Tschang In-Nam adalah Nunsius Apostolik pertama untuk Myanmar, sementara San Lwin adalah duta besar Myanmar untuk Takhta Suci.[1]
Sejarah
Dari tahun 1990 hingga 2017, Takhta Suci memiliki Delegasi Apostolik yang merupakan perwakilan Takhta Suci untuk umat Katolik Myanmar, tetapi bukan perwakilan resmi untuk pemerintah. Pada Maret 2017, Parlemen Myanmar menyetujui proposal dari Takhta Suci pada Februari tahun yang sama untuk menjalin hubungan diplomatik.[2] Myanmar dan Takhta Suci mengumumkan pada Mei 2017 bahwa mereka akan menjalin hubungan diplomatik formal.[3] Pengumuman itu dibuat setelah pertemuan antara Paus Fransiskus dan Aung San Suu Kyi di Vatikan. Ini adalah kunjungan kedua pemimpin Myanmar ke Paus Fransiskus, setelah kunjungan pertamanya pada tahun 2013.[4] Dengan demikian, Myanmar menjadi negara ke-183 yang menjalin hubungan diplomatik dengan Takhta Suci.[5][6]
Kunjungan Paus ke Myanmar
Paus Fransiskus menjadi Paus pertama yang mengunjungi Myanmar pada November 2017, setelah diundang secara pribadi oleh Presiden Myanmar Htin Kyaw.[7][8]