Sekitar abad ke-13, para pedagang Arab dari Hadramawt dan Oman telah berangkat demi berdagang ke timur; dengan India, kepulauan Indonesia, sejauh Cina. Mereka telah memerankan peranan penting dalam pengenalan Islamke Indonesia. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Oman secara resmi dibangun pada 1978, tetapi hal itu tidak terjadi sampai 2011 bahwa Indonesia dan Oman saling membangun gedung kedutaan besar.[2]
Pada 17-18 Juni 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan kunjungan kenegaraan ke Oman.
Perdagangan
Indonesia memandang Oman sebagai pasar baru yang berpotensi, sementara Oman memandang posisi utama Indonesia di ASEAN. Sejumlah pengusaha Oman berkunjung ke Indonesia pada Agustus 2013, demi menjelajah peluang dagang. Berdasarkan Kementerian Perdagangan Indonesia, volume perdagangan bilateral pada tahun 2008 mencapai US$166,45 juta, dan menguat jadi US$464,03 juta pada tahun 2012, yang merupakan peningkatan sebesar 279,5%.[3] Neraca dagang pada 2012 tercatat kelebihan sebesar US$11,66 juta untuk Indonesia.
Komoditas ekspor Indonesia ke Oman meliputi kayu dan produk dari kayu, perlengkapan elektronik, kertas dan kardus, besi, tekstil, serat stapel buatan, furnitur dan bahan pangan. Sementara impor Indonesia dari Oman antara lain produk industri gilingan, bahan bakar mineral dan bahan kimia anorganik.[3]
Pekerja migran
Saat ini ada sekitar 30 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Oman, dan banyak diperlakukan secara baik. Tak ada laporan kekerasan maupun masalah lain sampai saat ini.[4] Oman juga meminta Indonesia mengirimkan pekerja yang lebih mumpuni demi memenuhi kebutuhan sumber daya manusia, disebutkan bahwa saat ini banyak dari para TKI di sana merupakan pekerja berkemampuan rendah yang bekerja dalam sektor domestik.
↑"Ketua DPR Terima Dubes Oman" (dalam bahasa Indonesian). DPR-RI. 25 Maret 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-18. Diakses tanggal 18 Mei 2014.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)