Sebelum tahun 2023, hubungan antara kedua negara digambarkan sebagai bersahabat.[1]
Sejarah
Kedua negara tersebut dulunya merupakan bagian dari Imperium Spanyol dan secara resmi menjalin hubungan pada tahun 1857, selama Perang Filibuster.[2]
Pada Juli 1966, El Salvador dan Honduras berperang selama 100 jam akibat pertandingan sepak bola, yang juga dikenal sebagai Perang Sepak Bola. Meskipun perang itu singkat, hubungan antara kedua negara tetap tegang selama lebih dari satu dekade. Pada tahun 1977, kedua negara menunjuk mantan Presiden Peru, José Bustamante y Rivero, sebagai mediator untuk negosiasi perdamaian antara El Salvador dan Honduras.[3] Pada 30 Oktober 1980, sebelas tahun setelah perang, kedua negara menandatangani perjanjian perdamaian di Lima, Peru dan sepakat untuk menyelesaikan sengketa perbatasan atas Teluk Fonseca dan lima bagian perbatasan darat melalui Mahkamah Internasional (ICJ).[3]
Kedua negara sempat terlibat dalam insiden internasional ketika duta besar Honduras, Eduardo Martell, termasuk di antara para sandera dalam krisis penyanderaan kedutaan besar Jepang pada akhir tahun 1996.
Peru menarik duta besarnya dari Honduras setelah presiden Honduras Xiomara Castro menuntut pembebasan Pedro Castillo dari penjara selama KTT CELAC 2023, dengan menyebut Castillo sebagai "presiden Peru yang sah."[4]