Hubungan antara Eritrea dengan Mesir mengacu pada hubungan antara Negara Eritrea dan Republik Arab Mesir. Mesir mengakui Eritrea tak lama setelah negara tersebut merdeka pada tahun 1991. Eritrea telah mendukung Mesir dalam sengketa yang berkaitan dengan hak air di Sungai Nil.[1]
Para pemimpin dari kedua negara telah bertemu satu sama lain, dengan Presiden Eritrea Isaias Afewerki dan Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi bertemu pada tahun 2024 untuk membahas masalah keamanan dan ekonomi.[2]
Sejarah
Tahun 1991-2009
Mesir menjadi salah satu negara pertama yang mengakui Eritrea setelah kemerdekaannya dari Etiopia pada 24 Mei 1991. Pada tahun 1993, Mesir membuka kedutaan besar di ibu kota Eritrea, Asmara.[3]
Pada tahun 2003, dilaporkan bahwa Mesir "menganggap pemerintah Eritrea sebagai sekutu dalam mewujudkan ambisinya sebagai kekuatan regional yang terkemuka". Pemerintah Mesir melakukan beberapa upaya pada tahun 2003 untuk menormalisasi hubungan Eritrea dengan Sudan, dan mencoba mengatur pertemuan antara presiden Eritrea Isaias Afewerki dan presiden SudanUmar al-Basyir.[4] Pada tahun 2005, presiden Mesir Hosni Mubarak bertemu dengan Afewerki untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut antara Eritrea dan Etiopia.[5]
Pada tanggal 31 Maret 2009, pemerintah Mesir dan Eritrea menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama. Hal ini kemudian diikuti pada tanggal 14 Desember 2009 dengan Protokol Kerja Sama antara Dewan Nasional Pemuda Mesir dan Persatuan Nasional Pemuda dan Mahasiswa Eritrea.[3]
Tahun 2010-an
Pada tahun 2013, pemerintah Eritrea meyakinkan pemerintah Mesir di bawah Muhammad Mursi bahwa mereka mendukung Mesir dalam sengketa hak airSungai Nil.[1] Afewerki telah mengunjungi Mesir beberapa kali, termasuk pada tahun 2014 dan 2016.[3] Pada tahun 2018, Afewerki bertemu dengan presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi di tengah meningkatnya ketegangan Laut Merah.[6]
Tahun 2020-an
Di tengah perselisihan diplomatik antara Mesir dan Etiopia mengenai Bendungan Hidase, Afewerki berusaha menengahi perselisihan tersebut dengan mengunjungi bendungan tersebut pada tahun 2020.[7] Pada Oktober 2023, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry bertemu dengan Menteri Luar Negeri Eritrea Osman Saleh. Selama pertemuan tersebut, Shoukry "menegaskan dedikasi Mesir untuk memainkan peran proaktif dan positif dalam urusan regional" di Tanduk Afrika.[8]
Afewerki bertemu dengan as-Sisi di istana kepresidenan di Kairo pada tahun 2024 untuk membahas masalah keamanan di Tanduk Afrika, termasuk di Somalia. Selama pertemuan tersebut, kedua pemimpin dikatakan telah "meninjau situasi di Sudan" dan perang Gaza, serta membahas masalah ekonomi.[2]