Peru dan Ekuador memiliki sejarah panjang yang berawal dari zaman Kerajaan Inka, di mana Quito merupakan pusat administrasi penting di wilayah tersebut. Selama era wakil raja, provinsi Quito termasuk dalam Kewizuraian Peru hingga Reformasi Bourbon yang diterapkan oleh Raja Philippe V, yang menggabungkannya ke dalam Kerajaan Nueva Granada yang baru, sebuah situasi yang berlanjut hingga kemerdekaan.
Setelah perang kemerdekaan Amerika Latin, kedua negara menjalin hubungan pada tahun 1831, dengan perjanjian pertama mereka ditandatangani pada tahun berikutnya..[1]
Selama periode republik, kedua negara mengalami ketegangan terus-menerus terkait masalah teritorial yang baru terselesaikan dengan penandatanganan Protokol Perdamaian, Persahabatan, dan Batas Rio de Janeiro pada tahun 1942 sebagai akibat dari Perang Ekuador-Peru tahun 1941 dan konsolidasi selanjutnya dengan penandatanganan Akta Brasilia pada tahun 1998 sebagai akibat dari Perang Cenepa. Sejak saat itu, kedua negara telah mengalami peningkatan dan penguatan hubungan yang makin pesat, yang telah menyebabkan peningkatan pertukaran komersial.
Pada tahun 2007, kabinet binasional antara Ekuador dan Peru didirikan di Tumbes.[2] Pada tanggal 2 Mei 2011, Ekuador dan Peru menandatangani Perjanjian Batas Maritim.[3]
Kediaman perwakilan diplomatik
Kedutaan Besar Ekuador di Lima
Ekuador memiliki kedutaan besar di Lima[4] dan konsulat di Piura dan Tumbes.