Denmark telah memberikan dukungan politik dan keuangan yang penting kepada Kosovo, terutama di bidang-bidang seperti tata kelola, supremasi hukum, dan hak asasi manusia.[3] Pengakuan Denmark terhadap Kosovo merupakan bagian dari komitmennya yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan integrasi Eropa. Selain pengakuan diplomatik, Denmark telah menjadi peserta aktif dalam pembangunan Kosovo melalui berbagai program bantuan, termasuk dukungan untuk lembaga-lembaga demokrasi, masyarakat sipil, dan pembangunan ekonomi.[4]
Sewa penjara
Pada tahun 2021, Kosovo dan Denmark menandatangani perjanjian agar Kosovo menyewakan 300 sel penjara kepada Denmark, dengan imbalan sekitar 200 juta euro selama 10 tahun.[5] Perjanjian tersebut, yang diratifikasi oleh parlemen Kosovo pada tahun 2024, memungkinkan Denmark untuk menampung narapidana asing yang dihukum di Denmark, khususnya migran, di Kosovo untuk sisa masa hukuman mereka. Meskipun Kosovo akan mendapat manfaat finansial dari kesepakatan tersebut, beberapa pihak berpendapat bahwa hal itu menetapkan preseden yang berbahaya, dengan kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia dan potensi kepadatan berlebihan di sistem penjara Kosovo. Kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan kekhawatiran tentang kondisi yang mungkin dihadapi narapidana, dengan mengutip tuduhan penyiksaan di penjara-penjara Kosovo. Meskipun demikian, para pendukung, termasuk partai Vetevendosje yang berkuasa di Kosovo, berpendapat bahwa kesepakatan tersebut dapat meningkatkan standar penjara lokal, karena fasilitas tersebut akan direnovasi sesuai spesifikasi Denmark, dan personel Denmark akan membantu dalam mengelola penjara tersebut.[6][7]
↑"Denmark's relations with Kosovo" (dalam bahasa Dansk). ambwien.um.dk. 6 March 2008. Diarsipkan dari asli tanggal December 27, 2008. Diakses tanggal 2008-05-16.