Segera setelah Uhuru Kenyatta terpilih sebagai Presiden Kenya, Botswana mengancam akan melarang Kenyatta memasuki negaranya jika ia tidak bekerja sama dengan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).[1]
Botswana juga awalnya menolak resolusi Uni Afrika untuk mencabut kasus Kenyatta di ICC, sehingga menjadi satu-satunya negara di Afrika yang mendukung ICC. Botswana adalah satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut.[2] Bahkan negara tetangga Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang menyerukan penarikan massal negara-negara Afrika dari ICC. Botswana kemudian mendukung resolusi Uni Afrika tersebut.
Ketika hubungan diplomatik memanas, Botswana berusaha memperbaiki hubungan yang tegang akibat komentar Menteri Luar Negeri Botswana tentang Presiden Uhuru Kenyatta. Presiden Uhuru Kenyatta dijadwalkan mengunjungi Botswana pada tahun 2013 setelah menerima undangan dari Presiden Seretse Khama Ian Khama.[3]
Kenyatta bekerja sama dengan ICC dan tuduhan terhadapnya dibatalkan pada bulan Desember 2014.[4]
Kerja sama
Bidang pembangunan
Pada bulan Juni 2014, kedua negara mengadakan forum bisnis di Gaborone. Forum ini bertujuan untuk meningkatkan perdagangan.[5]
Bidang perdagangan
Kenya mengekspor barang senilai sekitar Kes.357,1 juta (US$3,7 juta) ke Botswana setiap tahunnya, barang-barang ini sebagian besar terdiri dari sayuran, minyak bumi, obat-obatan, percetakan dan penjilidan buku, tekstil, perkakas tangan dan mesin, peralatan makan, dan furnitur.[6]
Botswana mengekspor barang senilai Kes.17,2 juta (US$182.406) ke Kenya, barang-barang ini sebagian besar terdiri dari kendaraan, traktor, barang tekstil, dan plastik.[6]