Secara historis, hubungan antara Republik Arab Mesir dan Kerajaan Arab Saudi dapat dianggap telah ada sejak beberapa abad yang lalu, yaitu hubungan antara rezim-rezim sebelumnya di Mesir – Eyalet Mesir yang otonom di Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kerajaan Mesir – dan manifestasi awal kekuatan Saudi/Wahhabi di Jazirah Arab (Emirat Diriyah). Arab Saudi dan Mesir adalah negara-negara yang sangat berpengaruh di dunia Arab. Mesir adalah negara Arab yang paling padat penduduknya, dan Arab Saudi adalah anggota G20. Menurut jajak pendapat global Pew tahun 2013, 78% warga Mesir menyatakan pandangan yang baik terhadap Arab Saudi, dan 19% menyatakan pandangan yang tidak baik.[1]
Abad ke-20
Raja Farouk dan Pangeran Faisal saat Tekkiyah Mesir di Madinah pada tahun 1945
Pada tahun 1924 Raja Abdulaziz berusaha memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Mesir dengan mengirimkan pesan telegram kepada Raja Fuad pada pelantikan Parlemen Mesir pertama.[2] Namun, hubungan antara kedua negara menjadi tegang setelah tahun 1926 karena beberapa alasan, termasuk masalah kekhalifahan dan tetap sama sampai tahun 1936.[2] Pada tanggal 7 Mei 1936 sebuah perjanjian ditandatangani oleh Mesir dan Arab Saudi di Kairo yang mencakup pengakuan Mesir atas Arab Saudi sebagai negara merdeka dan berdaulat.[2][3] Perjanjian tersebut menormalkan hubungan dan memulai hubungan diplomatik antara kedua negara.[2][3]