Baik Angola maupun Tanjung Verde bersatu selama empat ratus tahun sebagai bagian dari Kekaisaran Portugis. Pada tahun 1914, imigran pertama yang tercatat dari Tanjung Verde dari Kerajaan Kongo tiba. Pada tahun 1940-an, Tanjung Verde mengalami siklus kekeringan dan kelaparan yang dahsyat yang menewaskan hampir separuh populasi koloni tersebut. Akibat kondisi ini, gelombang emigrasi besar pertama ke Angola terjadi.[1]
Pada Juli 1975, Tanjung Verde memperoleh kemerdekaannya dari Portugal, dan empat bulan kemudian, pada November 1975, Angola juga memperoleh kemerdekaannya. Tak lama kemudian, kedua negara menjalin hubungan diplomatik.[1]
Kedua negara bekerja sama erat dalam komunitas berbahasa Portugis. Para pemimpin kedua negara telah beberapa kali melakukan kunjungan resmi. Pada Juni 2021, Presiden Angola João Lourenço melakukan kunjungan resmi ke Tanjung Verde.[2]
Perjanjian bilateral
Kedua negara telah menandatangani beberapa perjanjian bilateral seperti Perjanjian Ekstradisi (2010); Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (2013); Perjanjian tentang pembebasan visa untuk paspor biasa bagi warga negara kedua negara (2018); Perjanjian untuk Menghindari Pajak Berganda (2019); Perjanjian tentang Pariwisata (2019); dan Perjanjian untuk Promosi dan Perlindungan Timbal Balik Investasi (2020).[3][4][5][6][7][8]