Hitomi (dalam bahasa Jepang: ひとみ), dikenal juga sebagai ASTRO-H dan New X-ray Telescope (NeXT), adalah satelit astronomi sinar-X yang dikembangkan oleh Badan Penjelajah Atariksa Jepang (JAXA) untuk penelitian astrofisika berenergi tinggi di alam semesta.[1] Satelit ini dirancang sebagai kelanjutan dari misi Advanced Satellite for Cosmology and Astrophysics (ASCA) dengan kapasitas untuk melakukan pengamatan pada pita sinar-X keras di atas 10 keV. Pada fase pengembangan, proyek ini disebut New X-ray Telescope, pada saat peluncuran namanya ditetapkan sebagai ASTRO-H.[2] Setelah memasuki orbit dan panel surya terbentang, satelit ini diberi nama resmi Hitomi. Peluncuran satelit dilakukan pada 17 Februari 2016. Komunikasi dengan satelit terputus pada 26 Maret 2016 setelah terjadi beberapa kegagalan pada sistem kontrolposisi yang menyebabkan peningkatan laju putaran di luar batas operasi serta kerusakan pada elemen struktural.[3]
Penamaan
Nama Hitomi merujuk pada istilah dalam bahasa Jepang yang berarti pupil mata, yang dalam optika dipahami sebagai apertur tempat cahaya masuk. Dokumentasi resmi JAXA juga mencatat rujukan pada sebuah legenda tradisional mengenai lukisan empat naga yang dianggap lengkap setelah diberi hitomi. Unsur budaya tersebut digunakan sebagai latar penjelasan untuk menegaskan posisi Hitomi sebagai komponen penting dalam rangkaian misi pengamatan sinar-X Jepang.[4][5]
Instrumen
Instrumen Hitomi terdiri atas empat instrumen utama dan enam detektor yang dirancang untuk mengamati foton dari rentang energi sinar-X lunak hingga sinar gama dengan resolusi energi tinggi. Wahana ini dikembangkan melalui kolaborasi internasional yang dipimpin JAXA, melibatkan lebih dari 70 institusi di Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, serta lebih dari 160 ilmuwan. Dengan massa sekitar 2.700 kg dan panjang sekitar 14 meter, Hitomi merupakan misi sinar-X terberat yang pernah diluncurkan Jepang pada saat peluncurannya. Dua teleskop sinar-X lunak (SXT-S dan SXT-I) dengan panjang fokus 5,6 meter mengarahkan cahaya ke Soft X-ray Spectrometer (SXS) yang disediakan NASA, beroperasi pada 0,4–12 keV, serta ke Soft X-ray Imager (SXI) dengan rentang 0,3–12 keV. Dua teleskop sinar-X keras (HXT) dengan panjang fokus 12 meter memfokuskan cahaya ke dua Hard X-ray Imagers (HXI) yang bekerja pada 5–80 keV dan dipasang pada pelat yang terletak di ujung extendable optical bench (EOB) sepanjang 6 meter yang dikerahkan di orbit.[6]Badan Antariksa Kanada mengintegrasikan Canadian ASTRO-H Metrology System (CAMS), sebuah sistem laser untuk mengukur distorsi pada EOB.[7][8] Dua Soft Gamma-ray Detectors (SGD), masing-masing terdiri atas tiga unit, ditempatkan di dua sisi satelit untuk mendeteksi emisi gamma lunak pada 60–600 keV. Selain itu, Institut Riset Antariksa Nasional Belanda (SRON) bekerja sama dengan Universitas Jenewa menyediakan filter wheel dan sumber kalibrasi untuk spektrometer.[9][10]