Histeria wanita
| Histeria perempuan | |
|---|---|
| Perempuan dengan histeria di bawah pengaruh hipnosis, 1876–1880 | |
| Spesialisasi | Psikiatri |
Histeria perempuan pernah menjadi diagnosis medis yang umum bagi perempuan. Kondisi ini digambarkan memperlihatkan beragam gejala, termasuk kecemasan, sesak napas, pingsan, kegugupan, hasrat seksual yang berlebihan dan impulsif, insomnia, retensi cairan, rasa berat di perut, iritabilitas, kehilangan nafsu makan terhadap makanan atau seks, perilaku seksual impulsif, dan "kecenderungan menimbulkan masalah bagi orang lain".[1] Kondisi ini tidak lagi diakui oleh otoritas medis sebagai gangguan medis. Diagnosis dan penanganannya merupakan praktik rutin selama ratusan tahun di Eropa Barat.[1]
Dalam kasus ekstrem, seorang perempuan dapat dipaksa masuk ke rumah sakit jiwa atau menjalani histerektomi bedah.[2]
Dalam kedokteran Barat, histeria dianggap sebagai kondisi yang umum sekaligus kronis di kalangan perempuan. Meskipun pada masanya dikategorikan sebagai penyakit, analisis modern menunjukkan bahwa gejala-gejala histeria dapat dijelaskan oleh fluktuasi normal dalam seksualitas perempuan.[1][3]
Sejarah awal



Sejarah diagnosis histeria dapat ditelusuri hingga zaman kuno. Sejak 1900 SM di Mesir kuno, uraian pertama tentang histeria dalam tubuh perempuan ditemukan tercatat pada Papirus Kahun.[4] Dalam kebudayaan ini, rahim dianggap mampu memengaruhi sebagian besar bagian tubuh lainnya, tetapi "tidak ada dasar bagi pandangan imajinatif bahwa bangsa Mesir kuno percaya bahwa berbagai keluhan tubuh disebabkan oleh rahim yang hidup dan berpindah-pindah".[5] Pada masa ini, masalah medis berupa prolaps uterus juga telah dikenal.[5]
Di Yunani kuno, rahim berpindah-pindah dijelaskan dalam risalah ginekologi dari Korpus Hipokrates, "Penyakit Perempuan",[6] yang berasal dari abad ke-5 dan ke-4 SM. Dialog Plato, Timaeus, membandingkan rahim perempuan dengan makhluk hidup yang mengembara ke seluruh tubuh perempuan, "menutup saluran, menghalangi pernapasan, dan menyebabkan penyakit".[7] Aretaeus dari Kapadokia menggambarkan rahim sebagai "hewan di dalam hewan" (secara lebih netral, "makhluk hidup di dalam makhluk hidup"), yang menimbulkan gejala dengan berpindah-pindah di sekitar tubuh perempuan dan menekan organ-organ lain.[6]
Pengobatan baku untuk "sesak histeris" ini adalah terapi bau, yakni bau yang harum ditempatkan di bawah alat kelamin perempuan dan bau busuk ditempatkan di hidung. Pengasapan tubuh dengan wewangian khusus diyakini akan menarik rahim kembali ke tempat alaminya dalam tubuh perempuan. Bau busuk yang dikenakan pada hidung akan mendorongnya turun, sedangkan aroma harum pada vulva akan menariknya.[7] Bersin juga dapat dipicu untuk mendorong rahim kembali ke tempat yang semestinya.[6]
Konsep patologis tentang "rahim berpindah-pindah" kemudian dipandang sebagai asal istilah histeria,[7] yang berasal dari padanan Yunani untuk rahim, ὑστέρα (hystera), meskipun kata hysteria tidak terdapat dalam kedokteran Yunani kuno: 'kata benda itu tidak digunakan pada periode ini'.[7]
Timaeus juga menyatakan bahwa rahim menjadi "sedih dan malang" ketika tidak bersatu dengan laki-laki atau tidak melahirkan anak; karena itu, melakukan hubungan seksual merupakan pengobatan yang diterima.[4]
Meskipun dalam teks-teks Hipokrates banyak jenis perempuan dianggap rentan – termasuk terutama perempuan yang tidak memiliki anak – Galenos pada abad ke-2 menyingkirkan ketiadaan anak sebagai faktor dan sebaliknya memandang kelompok yang paling rentan sebagai "para janda, khususnya mereka yang sebelumnya mengalami menstruasi secara teratur, pernah hamil, dan berhasrat untuk bersanggama, tetapi kini terhalang dari semua itu" (Tentang Bagian-Bagian yang Terkena, 6.5).[6] Ia juga menolak gagasan bahwa rahim dapat "bergerak dari satu tempat ke tempat lain seperti hewan yang mengembara".[6] Pengobatan yang ia anjurkan mencakup terapi bau dan hubungan seksual, tetapi juga pengolesan salep pada alat kelamin luar; tindakan ini harus dilakukan oleh bidan, bukan oleh tabib laki-laki.[6]
Sementara sebagian besar penulis Hipokrates memandang tertahannya darah menstruasi di dalam rahim sebagai masalah utama, bagi Galenos, yang bahkan lebih serius adalah tertahannya "benih perempuan".[8] Benih ini diyakini lebih encer daripada benih laki-laki dan dapat tertahan di dalam rahim.[7] Histeria disebut sebagai "penyakit janda", karena semen perempuan diyakini berubah menjadi beracun jika tidak dikeluarkan melalui klimaks atau hubungan seksual secara teratur.[9] Jika pasien telah menikah, hal ini dapat dilakukan melalui hubungan seksual dengan pasangannya.
Abad Pertengahan, Renaisans, dan periode modern awal
Sepanjang Abad Pertengahan, penyebab lain dari gejala-gejala yang dramatis dapat ditemukan: kerasukan setan.[10] Kekuatan-kekuatan demonik diyakini tertarik kepada orang-orang yang rentan terhadap melankolia, terutama perempuan lajang dan orang lanjut usia. Pasien yang tidak dapat didiagnosis atau disembuhkan, yang kemudian dianggap telah dirasuki iblis, sering memperlihatkan gejala-gejala yang dalam pandangan masa kini akan menunjukkan penyakit mental.[4] Setelah abad ke-17, keterkaitan antara kerasukan setan dan histeria secara bertahap ditinggalkan, dan histeria kemudian digambarkan sebagai penyimpangan perilaku, yakni suatu masalah medis.[11]
Pada abad ke-16 dan ke-17, histeria masih diyakini disebabkan oleh tertahannya humor atau cairan di dalam rahim, kekurangan hubungan seksual, atau kecenderungan rahim untuk berpindah-pindah di dalam tubuh perempuan sehingga menimbulkan iritabilitas dan sesak. Perkawinan, serta hubungan seksual yang teratur dengan suami, masih menjadi rangkaian pengobatan jangka panjang yang paling banyak dianjurkan bagi perempuan dengan histeria untuk membersihkan rahim dari penumpukan cairan.[4][12] Pengobatan mandiri seperti masturbasi tidak dianjurkan dan juga dianggap tabu. Semen juga diyakini memiliki khasiat penyembuhan, dan para dokter memandang semua praktik kontrasepsi sebagai sesuatu yang merugikan perempuan. Giovanni Matteo Ferrari da Gradi menyebut perkawinan dan kelahiran anak sebagai obat bagi penyakit tersebut. Jika kenikmatan diperoleh dari keduanya, maka histeria dapat disembuhkan.[12] Jika seorang perempuan belum menikah, atau telah menjanda, rangsangan manual oleh bidan dengan menggunakan minyak dan wewangian tertentu dianjurkan untuk membersihkan rahim dari cairan yang tertahan. Tidak adanya perkawinan juga diyakini sebagai penyebab sebagian besar melankolia pada perempuan lajang, seperti biarawati atau janda. Kajian mengenai sebab dan akibat histeria dilanjutkan pada abad ke-16 dan ke-17 oleh para tenaga medis seperti Ambroise Paré, Thomas Sydenham, dan Abraham Zacuto, yang menerbitkan temuan-temuan mereka sehingga memperluas pengetahuan medis tentang penyakit tersebut dan memberi dasar bagi pengobatannya.[12][4] Dokter Abraham Zacuto menulis dalam Praxis Medica Admiranda karyanya pada 1637:
Karena tertahannya cairan seksual, jantung dan daerah sekitarnya terselubungi oleh eksudasi yang sakit dan lembap: hal ini terutama berlaku pada perempuan yang lebih bernafsu, cenderung pada persetubuhan, perempuan penuh gairah yang sangat ingin mengalami kenikmatan jasmani; jika ia termasuk jenis ini, ia tidak akan pernah dapat diringankan oleh bantuan apa pun kecuali oleh orang tuanya, yang disarankan untuk mencarikan suami baginya. Setelah hal itu dilakukan, persetubuhan yang kuat dan bertenaga dari laki-laki itu meredakan kegilaannya.
— Rachel P. Maines, The Technology of Orgasm: "Hysteria", the Vibrator, and Women's Sexual Satisfaction, hlm. 29[12]
Perdebatan terus berlangsung mengenai apakah secara moral dapat diterima bagi seorang dokter untuk mengeluarkan kelebihan benih perempuan melalui manipulasi genital terhadap pasien perempuan; Pieter van Foreest (Forestus) dan Giovanni Matteo da Grado (Gradus) bersikeras menggunakan bidan sebagai perantara, dan memandang pengobatan tersebut sebagai upaya terakhir.[13]
Abad ke-18
Pada abad ke-18, histeria perlahan-lahan mulai dikaitkan dengan mekanisme di otak, bukan lagi dengan rahim. Pada masa ini pula dicatat bahwa laki-laki maupun perempuan dapat mengalami histeria.[14] Dokter Prancis Philippe Pinel membebaskan pasien-pasien histeria yang ditahan di sanatorium Salpêtrière, Paris, atas dasar bahwa kebaikan hati dan kepekaan diperlukan untuk merumuskan perawatan yang baik.
Dokter Prancis lainnya, Francois de Sauvages de La Croix, meyakini bahwa beberapa tanda umum histeria perempuan adalah "air mata dan tawa, ositasi [menguap], pandikulasi (meregangkan tubuh dan menguap), angina yang menyesakkan (nyeri dada) atau dispnea (sesak napas), disfagia (kesulitan menelan), delirium, denyut nadi yang rapat dan kuat, perut membengkak, ekstremitas dingin, serta urine yang banyak dan jernih."[14]
Anton Mesmer, seorang dokter Jerman, mengemukakan teori “magnetisme hewani”, yang kemudian disebut sebagai mesmerisme. Mesmer memandang “magnetisme hewani” sebagai energi yang mengalir melalui sistem saraf. Ia berupaya memanipulasi “energi” tersebut untuk membebaskan pasien-pasiennya dari histeria. Salah satu metode yang ia gunakan adalah meminta pasiennya memegang batang-batang logam yang dialiri muatan listrik. Temuan Mesmer mengenai "magnetisme hewani" kemudian didiskreditkan.[15]
Abad ke-19
Jean-Martin Charcot berpendapat bahwa histeria berasal dari gangguan neurologis dan menegaskan bahwa kondisi ini lebih umum terjadi pada laki-laki daripada perempuan.[4] Teori Charcot yang memandang histeria sebagai kondisi fisik pada pikiran, bukan pada tubuh, mendorong pendekatan yang lebih ilmiah dan analitis terhadap histeria pada abad ke-19. Ia menyingkirkan keyakinan bahwa histeria berkaitan dengan hal-hal adikodrati dan berusaha mendefinisikannya secara medis.[16] Penggunaan fotografi oleh Charcot,[17] serta konkretisasi yang dihasilkannya terhadap ekspresi kesehatan dan penderitaan perempuan, terus memengaruhi pengalaman perempuan dalam mencari layanan kesehatan.[18] Meskipun gagasan-gagasan lama tetap bertahan pada masa ini, seiring waktu histeria perempuan mulai semakin jarang dipandang sebagai penyakit fisik dan semakin sering dipahami sebagai kondisi psikologis.[19]
George Beard, seorang dokter yang menyusun daftar tidak lengkap sepanjang 75 halaman berisi kemungkinan gejala histeria,[20] menyatakan bahwa hampir semua penyakit dapat dimasukkan ke dalam diagnosis tersebut. Para dokter beranggapan bahwa tekanan yang berkaitan dengan kehidupan perempuan yang lazim pada masa itu membuat perempuan beradab lebih rentan terhadap gangguan saraf dan lebih mungkin mengalami kelainan pada saluran reproduksi.[21] Seorang dokter Amerika menyatakan kegembiraannya bahwa negaranya sedang "mengejar ketertinggalan" dari Eropa dalam prevalensi histeria.[20]
Pada 1875, Edward Hammond Clarke menulis “Sex in Education”, sebuah buku yang membahas pandangannya tentang pendidikan laki-laki dan perempuan. Clarke meyakini bahwa jika perempuan dididik, energi dalam tubuh mereka akan mengalir ke otak alih-alih ke organ reproduksi, sehingga menghambat persalinan. Ia menyebut pakaian, makanan, olahraga, dan pendidikan sebagai penyebab “leukorea, amenorea, dismenorea, ovaritis kronis dan akut, prolapsus uteri, histeria, neuralgia”. Clarke percaya bahwa laki-laki terlahir ke dunia dalam keadaan telah berkembang sepenuhnya, sedangkan perempuan tidak, dan bahwa memaksakan pendidikan laki-laki kepada perempuan akan memperburuk masalah mereka. Pandangannya dikecam oleh banyak organisasi perempuan.[22]
Menurut Pierre Roussel dan Jean-Jacques Rousseau, feminitas merupakan hasrat yang alami dan esensial bagi perempuan: "Bagi kedua penulis tersebut, feminitas adalah kodrat esensial, dengan fungsi-fungsi yang telah ditentukan, dan penyakit dijelaskan sebagai akibat dari tidak terpenuhinya hasrat alamiah."[4] Pada masa Revolusi Industri dan perkembangan besar kota-kota serta gaya hidup modern, gangguan terhadap nafsu alamiah ini dianggap menyebabkan kelesuan atau melankolia, yang berujung pada histeria.[4] Pada masa itu, pasien perempuan mencari praktisi medis untuk mengobati histeria dengan pijat. Tingkat histeria pada masa industri begitu tinggi sehingga perempuan cenderung membawa garam pencium di tubuh mereka untuk berjaga-jaga jika mereka pingsan, mengingatkan pada teori Hipokrates tentang penggunaan bau untuk memaksa rahim kembali ke tempatnya. Bagi para dokter, pengobatan pijat manual menjadi melelahkan dan menyita waktu, sehingga mereka mencari cara untuk meningkatkan produktivitas.[12]
Rachel Maines mengemukakan hipotesis bahwa para dokter dari zaman klasik hingga awal abad ke-20 lazim mengobati histeria dengan merangsang alat kelamin secara manual pada pasien perempuan hingga mencapai orgasme, yang disebut "paroksisme histeris", dan bahwa kerepotan tindakan ini mungkin mendorong pengembangan awal serta pasar bagi vibrator.[1] Pengobatan histeria lainnya mencakup kehamilan, perkawinan, hubungan seksual heteroseksual, dan pengolesan minyak beraroma pada alat kelamin perempuan.[23] Teori Maines bahwa histeria diobati dengan merangsang alat kelamin pasien perempuan secara manual hingga orgasme banyak diulang dalam literatur tentang anatomi dan seksualitas perempuan.[24] Namun, sebagian sejarawan membantah klaim Maines mengenai kelaziman pengobatan ini untuk histeria dan relevansinya dengan penemuan vibrator, dengan menyebutnya sebagai penyimpangan atau generalisasi berlebihan terhadap bukti.[25][26][27] Pada 2018, Hallie Lieberman dan Eric Schatzberg dari Institut Teknologi Georgia menantang klaim Maines tentang penggunaan vibrator elektromekanis untuk mengobati histeria pada abad ke-19.[28] Maines menyatakan bahwa teorinya mengenai kelaziman masturbasi untuk histeria dan relevansinya dengan penemuan vibrator merupakan hipotesis dan bukan fakta yang telah terbukti.[24]
Frederick Hollick sangat meyakini bahwa penyebab utama histeria adalah kecabulan yang terdapat pada perempuan.[29]
Abad ke-20
Pada 1910-an, psikiater L. E. Emerson sangat terlibat dalam perawatan pasien histeria di Rumah Sakit Psikopatik Boston. Emerson menerbitkan studi kasus tentang pasien-pasiennya, yang sering kali merupakan "perempuan muda, lajang, kelahiran dalam negeri, dan berkulit putih" serta pernah diperkosa atau tidak memiliki hubungan seksual yang sehat.[3] Salah satu karyanya yang lebih terkenal adalah studi kasus tentang seorang perempuan bernama "Nona A". Dalam studi tersebut, Emerson merangkum pengalaman pasien itu dengan kekerasan seksual, yang menurutnya pernah dialami oleh sebagian besar perempuan dengan histeria.[30] Nona A melakukan tindakan menyakiti diri, yang disimpulkan Emerson sebagai pelepasan atas kekerasan seksual yang pernah ia alami sebelumnya dan sebagai pengganti masturbasi. Studi kasus lainnya adalah Sally Hollis, seorang perempuan yang kerap memandang pengalamannya dengan kekerasan seksual dalam kaitannya dengan kegagalan dirinya sendiri dan agresi perempuan. Dengan keyakinan bahwa akar histeria terletak pada konflik seksual, Emerson mencatat tema kurangnya pengetahuan seksual di antara para perempuan ini, yang ia pandang sebagai orang-orang yang tertekan secara batin.[3] Ketidaktahuan seksual mereka berkisar dari kurangnya pengetahuan tentang menstruasi hingga pembuahan dan proses melahirkan.
Sebagian perempuan dengan sengaja mencari diagnosis "histerik" karena mereka percaya bahwa diagnosis itu dapat memberikan jawaban atas apa yang mereka alami. Sebagian besar pasien yang ditemui Emerson adalah perempuan lajang, baik karena masih muda maupun karena sengaja menghindari laki-laki. Penulis Elizabeth Lunbeck menulis bahwa para perempuan ini biasanya terbagi ke dalam tiga kategori. Mereka sama sekali menarik diri dari ranah heteroseksual meskipun ingin berpartisipasi; mereka mengalami sesuatu yang tidak diinginkan secara seksual tetapi merasa bersalah atas apa yang terjadi, seperti Sally Hollis; atau mereka dihantui oleh trauma seksual pada masa lalu.[3] Ketika histeria menjadi diagnosis yang semakin menonjol di kalangan perempuan, polisi mulai memperlakukan setiap laporan kekerasan seksual atau pemerkosaan dengan skeptis, dengan keyakinan umum pada masa itu bahwa "kekerasan seksual secara fisik mustahil terjadi tanpa persetujuan".[3]
Freud dan kemunduran diagnosis

Pada awal abad ke-20, jumlah perempuan yang didiagnosis dengan histeria perempuan menurun tajam. Sebagian penulis medis menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh bertambahnya pemahaman mengenai psikologi di balik gangguan konversi seperti histeria.[31] Pemahaman dalam bidang psikiatri pada masa itu menjadi semakin bernuansa, seiring diperkenalkannya teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud serta gagasan-gagasannya yang lain mengenai perempuan dan seksualitas mereka.
Dengan begitu banyak kemungkinan gejala, secara historis histeria dianggap sebagai diagnosis penampung yang dapat dikenakan pada hampir semua penyakit yang tidak dapat diidentifikasi.[4] Seiring membaiknya teknik diagnostik, jumlah kasus ambigu yang mungkin sebelumnya dikaitkan dengan histeria pun menurun. Misalnya, sebelum diperkenalkannya elektroensefalografi, epilepsi kerap disalahartikan sebagai histeria.[32]
Sigmund Freud menyatakan bahwa histeria sama sekali bukan kondisi fisik, melainkan kondisi emosional internal yang disebabkan oleh trauma, yang dapat memengaruhi laki-laki maupun perempuan dan menghalangi mereka menikmati seks dengan cara yang normal.[12][16] Hal ini kelak mengarah pada pengembangan kompleks Oedipus oleh Freud, yang memaknai feminitas sebagai kegagalan, atau ketiadaan maskulinitas.[16] Meskipun beberapa kajian sebelumnya telah mengemukakan bahwa laki-laki juga rentan terhadap histeria, seiring waktu kondisi ini terutama dikaitkan dengan persoalan feminitas karena kajian lanjutan tentang histeria hanya dilakukan pada perempuan.[33]
Banyak kasus yang sebelumnya diberi label histeria diklasifikasikan ulang oleh Freud sebagai kecemasan neurosis.[32] Freud berteori bahwa histeria mungkin berkaitan dengan pikiran bawah sadar dan terpisah dari pikiran sadar atau ego.[34] Ia yakin bahwa konflik-konflik mendalam dalam pikiran, sebagian berkaitan dengan dorongan naluriah untuk seks dan agresi, menggerakkan perilaku orang-orang dengan histeria. Penyakit histeria merupakan "ungkapan dari ketidakmungkinan pemenuhan dorongan seksual karena kenangan akan konflik Oedipal".[35] Hipotesis ini menjadi salah satu daya dorong di balik teori psikologis psikoanalisis, sebagai cara untuk membantu pasien yang telah didiagnosis dengan histeria mengurangi konflik internal yang menyebabkan penderitaan fisik dan emosional.
Teori-teori baru mengenai histeria muncul dari spekulasi; para dokter dan tabib tidak dapat menghubungkan gejala-gejala dengan gangguan tersebut, sehingga diagnosis ini merosot dengan cepat.[31] Histeria secara resmi dihapus dari DSM pada 1980.
Kini, histeria perempuan tidak lagi diakui sebagai penyakit, tetapi berbagai manifestasi histeria dikenali dalam kondisi-kondisi lain seperti skizofrenia, gangguan kepribadian ambang, gangguan gejala neurologis fungsional, dan serangan kecemasan.[36]
Hubungan dengan hak perempuan dan feminisme
Pada 1980-an, kaum feminis mulai merebut kembali istilah "histeria", menggunakannya sebagai lambang penindasan sistematis terhadap perempuan dan mengklaim kembali istilah tersebut bagi diri mereka sendiri.[6] Gagasan tentang histeria menjadi perwujudan penindasan terhadap perempuan, terutama di kalangan feminis pro-seks, yang meyakini bahwa represi seksual yang dianggap sebagai histeria merupakan suatu bentuk penindasan.[6] Gagasan ini bertolak dari keyakinan bahwa histeria merupakan semacam pemberontakan prafeminis terhadap peran-peran sosial menindas yang ditetapkan bagi perempuan. Para penulis feminis seperti Catherine Clément dan Hélène Cixous menulis dalam Perempuan yang Baru Lahir dari posisi yang berseberangan dengan teori-teori yang diajukan dalam karya-karya psikoanalitis. Clément, Cixous, dan penulis-penulis feminis lainnya menentang anggapan bahwa feminitas yang dikonstruksi secara sosial dan histeria merupakan sesuatu yang alamiah bagi perempuan.[6][16] Sejarawan sosial feminis dari kedua jenis kelamin berpendapat bahwa histeria disebabkan oleh peran sosial perempuan yang tertindas, bukan oleh tubuh atau psike mereka.[37]
Representasi dalam karya kreatif
Charlotte Perkins Gilman
"The Yellow Wallpaper" ("Kertas Dinding Kuning") adalah sebuah cerita pendek karya Charlotte Perkins Gilman yang menunjukkan perlakuan keliru terhadap histeria dan menerangi sistem-sistem misoginis yang berakar kuat pada masa itu. Diterbitkan pada 1892, karya ini merupakan salah satu contoh awal media yang mempertanyakan pelayanan medis melalui lensa feminis. Dalam cerita tersebut, protagonis perempuan dikurung di sebuah kamar lantai atas atas perintah suaminya, yang merupakan seorang dokter, dan hal itu secara paradoks memperburuk kondisinya. Selama masa pengurungan yang panjang, sang protagonis menjadi terobsesi pada kertas dinding kuning dan percaya bahwa ia dapat melihat seorang perempuan di dalamnya ketika kondisi mentalnya memburuk.
Safe
Film tahun 1995 Safe mengeksplorasi dampak berbahaya seksisme dalam layanan kesehatan terhadap kesehatan psikologis dan fisik perempuan dan anak perempuan. Film ini menelaah hubungan antara penyakit mental, salah diagnosis penyakit mental ketika kondisi fisik sulit didiagnosis, feminisme, dan ketimpangan layanan kesehatan yang muncul akibat seksisme yang mengakar kuat dalam industri medis.[38]
Lihat juga
Referensi
- 1 2 3 4 Maines, Rachel P. (1999). The Technology of Orgasm: "Hysteria", the Vibrator, and Women's Sexual Satisfaction. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. hlm. 23. ISBN 0-8018-6646-4.
- ↑ Mankiller, Wilma P. (1998). The Reader's Companion to U.S. Women's History. Boston, MA: Houghton Mifflin Co. hlm. 26. ISBN 0-618-00182-4.
- 1 2 3 4 5 Lunbeck, Elizabeth (2021-05-11), "Hysteria: The Revolt of the "Good Girl"", The Psychiatric Persuasion, Princeton University Press, hlm. 209–228, doi:10.2307/j.ctv1h9dgrh.15, diakses tanggal 2023-11-06
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tasca, Cecilia; Rapetti, Mariangela; Carta, Mauro Giovanni; Fadda, Bianca (19 October 2012). "Women And Hysteria In The History Of Mental Health". Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health. 8 (1): 110–119. doi:10.2174/1745017901208010110. PMC 3480686. PMID 23115576.
- 1 2 Merskey, Harold; Potter, Paul (1989). "The womb lay still in ancient Egypt". British Journal of Psychiatry. 154 (6): 751–53. doi:10.1192/bjp.154.6.751. PMID 2688786. S2CID 38228923.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Gilman, Sander L.; King, Helen; Porter, Roy; Rousseau, G.S.; Showalter, Elaine (1993). Hysteria Beyond Freud. Los Angeles: University of California Press.
- 1 2 3 4 5 King, Helen (1993). "Once upon a text: Hysteria from Hippocrates". Dalam Gilman, Sander; King; Porter, Roy; Rousseau, G.S.; Showalter, Elaine (ed.). Hysteria beyond Freud. University of California Press. hlm. 25. ISBN 0-520-08064-5.
- ↑ Flemming, Rebecca (2000). Medicine and the Making of Roman Women. Oxford University Press. ISBN 0-19-924002-7.
- ↑ Roach, Mary (2009). Bonk: The Curious Coupling of Science and Sex. New York: W.W. Norton & Co. hlm. 214. ISBN 978-0-393-33479-1.
- ↑ Brogan, Boyd (2019). "His Belly, Her Seed: Gender and Medicine in Early Modern Demonic Possession". Representations (Berkeley, Calif.). 147 (1): 1–25. doi:10.1525/rep.2019.147.1.1. ISSN 0734-6018. PMC 6814439. PMID 31656366.
- ↑ Spanos, Nicholas; Gottlieb, Jack (1979). "Demonic possession, mesmerism, and hysteria: A social psychological perspective on their historical interrelations". Journal of Abnormal Psychology. 88 (5): 527–546. doi:10.1037/0021-843X.88.5.527. PMID 387849.
- 1 2 3 4 5 6 Maines, Rachel (1999). The technology of Orgasm: 'Hysteria', the Vibrator, and Women's Sexual Satisfaction. Baltimore: The Johns Hopkins University Press.
- ↑ Schleiner, Winfried (1995). Medical Ethics in the Renaissance. Georgetown University Press. hlm. 115.
- 1 2 Cohut, Maria (13 October 2020). "Female hysteria: The history of a controversial 'condition'". Medical News Today.
- ↑ "The Birth of Mesmerism - Hypnosis in History". hypnosis.edu. Diakses tanggal 2024-06-06.
- 1 2 3 4 Devereux, Cecily (2014). "Hysteria, Feminism, and Gender Revisited: The Case of the Second Wave". English Studies in Canada. 40 (1): 19–45. doi:10.1353/esc.2014.0004. S2CID 162808510.
- ↑ Goetz, C.G. (1991). "Visual art in the neurologic career of Jean-Martin Charcot". Archives of Neurology. 48 (4): 421–25. doi:10.1001/archneur.1991.00530160091020. PMID 2012518.
- ↑ Jones, A. (2010). The Feminism and Visual Culture Reader. New York: Routledge. hlm. 248–58, 300–08.
- ↑ Simon, Matt (May 7, 2014). "Fantastically Wrong: The Theory of the Wandering Wombs That Drove Women to Madness". Wired. Diakses tanggal November 28, 2014.
- 1 2 Briggs L (2000). "The race of hysteria: "overcivilization" and the "savage" woman in late nineteenth-century obstetrics and gynecology". American Quarterly. 52 (2): 246–73. doi:10.1353/aq.2000.0013. PMID 16858900. S2CID 8047730.
- ↑ Morantz RM, Zschoche S (December 1980). "Professionalism, feminism, and gender roles: a comparative study of nineteenth-century medical therapeutics". Journal of American History. 67 (3): 568–88. doi:10.2307/1889868. JSTOR 1889868. PMID 11614687.
- ↑ Dan_nehs (2017-01-02). "Edward Hammond Clarke and the Chance for Girls". New England Historical Society (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-06-07.
- ↑ "Medical Vibrators for Treatment of Female Hysteria | The Embryo Project Encyclopedia". embryo.asu.edu. Diakses tanggal 2021-04-02.
- 1 2 Maines, Rachel. "Big Think Interview with Rachel Maines". bigthink.com. Diakses tanggal 16 November 2016.
- ↑ King, Helen (16 December 2011). "Galen and the widow: towards a history of therapeutic masturbation in ancient gynaecology" (PDF). EuGeStA. 1: 205–235. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 May 2017. Diakses tanggal 8 May 2023.
- ↑ Hall, Lesley. "Doctors masturbating women as a cure for hysteria/'Victorian vibrators'". lesleyahall.net. Diakses tanggal 29 October 2016.
- ↑ Riddell, Fern (10 November 2014). "No, no, no! Victorians didn't invent the vibrator". The Guardian. Diakses tanggal 29 October 2016.
- ↑ Lieberman, Hallie; Schatzberg, Eric (August 2018). "A failure of academic quality control: The technology of orgasm". Journal of Positive Sexuality. 4 (2): 24–47. doi:10.51681/1.421.
- ↑ Hollick, Frederick (1856). The Diseases of Woman, Their Causes and Cure Familiarly Explained: With Practical Hints for Their Prevention, and for the Preservation of Female Health. T. W. Strong. OCLC 1102679349.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Emerson, L. E. (1913). "A psychoanalytic study of a severe case of hysteria". The Journal of Abnormal Psychology. 8: 44–56. doi:10.1037/h0070365.
- 1 2 3 Micale MS (September 1993). "On the 'Disappearance' of Hysteria: A Study in the Clinical Deconstruction of a Diagnosis". Isis; an International Review Devoted to the History of Science and Its Cultural Influences. 84 (3): 496–526. doi:10.1086/356549. JSTOR 235644. PMID 8282518. S2CID 37252994.
- 1 2 Micale, M. S. (July 2000). "The Decline of Hysteria". The Harvard Mental Health Letter. 17 (1): 4–6. OCLC 119217716. PMID 10877868.
- ↑ "The History of Hysteria: Sexism in Diagnosis". 2017.
- ↑ Coon, Dennis; Mitterer, John O. (2013). Introduction to Psychology: Gateways to Mind and Behavior (Edisi 13th). Belmont, CA: Cengage Learning. hlm. [ 512–513]. ISBN 9781111833633. OCLC 741539300.
- ↑ Tasca, Cecilia; Rapetti, Mariangela; Carta, Mauro Giovanni; Fadda, Bianca (2012). "Women and hysteria in the history of mental health". Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health. 8: 110–119. doi:10.2174/1745017901208010110. ISSN 1745-0179. PMC 3480686. PMID 23115576.
- ↑ Costa, Dayse Santos; Lang, Charles Elias (2016). "Hysteria Today, Why?". Psicologia USP. 27 (1): 115–124. doi:10.1590/0103-656420140039.
- ↑ Small, Raia (2016). "I Woke Up Like This: Johanna Hedva's Sick Woman Theory". Make/Shift. No. 19. hlm. 22–23, 26. ProQuest 1917629527.
- ↑ Fairchild, Kimberly (November 2015) [14 August 2015 (online)]. "Feminism Is Now: Fighting Modern Misogyny and the Myth of the Post-Feminist Era: Modern Misogyny: Anti-Feminism in a Post-Feminist Era. By Kristin J. Anderson, New York, Oxford University Press, 2014. 183 pp. $29.95 (paperback). ISBN: 978-0-19-932817-8". Sex Roles (dalam bahasa Inggris). 73 (9–10): 453–455. doi:10.1007/s11199-015-0524-7. S2CID 255012952.
Bacaan lanjutan
- Kapsalis, Terri (2008). The Hysterical Alphabet. WhiteWalls. ISBN 9780945323167.
- Micale, Mark S. (1995). Approaching Hysteria: Disease and its Interpretations. Princeton University Press. ISBN 0-691-03717-5.
- Micklem, Niel (1996). The Nature of Hysteria. Routledge. ISBN 0-415-12186-8.
- Augsburg, Tanya (1996). Private Theatres Onstage (Hysteria and the Female Medical Subject). UMI.
- Bronfen, Elisabeth (2014-07-14). The Knotted Subject: Hysteria and Its Discontents (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. ISBN 9781400864737.
- Libbrecht, Katrien (1995). Hysterical Psychosis: A Historical Survey. London: Transaction Publishers. ISBN 1-56000-181-X.
Pranala luar
Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |