Karier bermain
Terinsipirasi dari kakaknya, Kei, Jofuku mulai bermain sepak bola sejak kelas tiga sekolah dasar. Ketika teman-teman seangkatannya memilih bersekolah di Tokushima Commercial High School yang dikenal kuat dalam sepak bola, dia justru masuk Tokushima Prefectural Jōhoku High School untuk mempersiapkan diri melanjutkan ke universitas. Selama bersekolah di Johoku High School, dia dua kali berpartisipasi dalam National Athletic Meet. Penampilannya di ajang tersebut menarik perhatian Ikuo Matsumoto. Saat duduk di tahun ketiga, dia terpilih sebagai kandidat tim nasional Jepang untuk Kejuaraan Dunia Remaja FIFA.
Pada tahun 1979, Jofuku masuk Universitas Waseda dan bermain untuk Waseda University Soccer Club. Meski dianggap sebagai sosok yang nyentrik di dalam tim dan kerap menggunakan umpan-umpan trik, dia tetap dihargai oleh pelatih Masakatsu Miyamoto. Dia berkontribusi membawa tim meraih posisi runner-up dalam All-Japan University Championship. Rekan setimnya saat itu antara lain Yasushi Yoshida dan Takashi Sekizuka.
Jofuku bergabung dengan Fujitsu pada tahun 1983 dan bermain untuk klub sepak bola perusahaan tersebut, yang merupakan pendahulu Kawasaki Frontale, terutama sebagai gelandang. Dia bermain bersama mantan bek tim nasional Jepang Toshihiko Okimune yang setahun lebih tua darinya, serta penyerang tajam Hiroki Iwabuchi. Jofuku dikenal memiliki cara berpikir yang teoritis, baik semasa kuliah maupun dalam karier profesionalnya, dan dia juga menjabat sebagai kapten tim. Pada tahun 1989, setelah kalah dari Hitachi yang dipimpin Akira Nishino dalam turnamen JSL Divisi 2 dan gagal meraih promosi ke Divisi 1, Jofuku pensiun sebagai pemain pada usia 28 tahun.[1]
Karier kepelatihan
Jofuku sempat bekerja sebagai karyawan biasa, tetapi pada tahun 1993 dia diminta untuk menjadi asisten pelatih Fujitsu Soccer Club atas permintaan mantan rekan setimnya, Shen Xiangfu, yang masih bertahan di klub sebagai asisten pelatih. Pada akhir tahun 1995, dia diangkat sebagai pelatih kepala Fujitsu Kawasaki Football Club.
Pada musim gugur berikutnya, tahun 1996, klub mengumumkan akan bergabung dengan J.League. Jofuku ingin tetap menjabat sebagai pelatih, tetapi klub memutuskan untuk merekrut pelatih dengan kontrak profesional, sehingga pada tahun 1997 dia kembali bekerja sebagai karyawan. Saat itu dia tengah bersiap meninggalkan dunia sepak bola dan mulai merasakan kepuasan dalam pekerjaannya. Namun, pada bulan Agustus di tahun yang sama, dia menerima undangan dari Norihiko Suzuki yang bertanggung jawab atas pembinaan di Tokyo Gas Soccer Club, yang kini dikenal sebagai FC Tokyo. Dia sempat bimbang karena ingin benar-benar meninggalkan sepak bola,[1] tetapi pada tahun 1998 dia memutuskan keluar dari Fujitsu dengan harapan dapat berkontribusi pada perkembangan J.League dan membalas budi kepada dunia sepak bola. Jofuku terlibat dalam organisasi persiapan pendirian FC Tokyo dan mengikuti kursus kepelatihan lisensi kelas S, yang berhasil dia peroleh pada tahun yang sama.
Pada tahun 1999, Jofuku diangkat sebagai kepala departemen pengembangan di FC Tokyo yang telah menjadi klub profesional. Dia terlibat dalam peningkatan lingkungan latihan dengan fokus memperkuat tim U-15 dan U-18 serta menjalin kerja sama dengan tim sekolah dasar setempat, mengingat FC Tokyo tidak memiliki tim tingkat sekolah dasar. Selama berada di FC Tokyo, dia juga bekerja di Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) sebagai pelatih di pusat pelatihan nasional, pencari bakat di Kejuaraan Dunia Remaja FIFA, serta pelatih kepala tim nasional Jepang untuk kelompok usia junior.
Pada tahun 2005, Jofuku diangkat sebagai pelatih kepala tim nasional U-17 Jepang yang ditargetkan tampil di Piala Dunia U-17 FIFA 2007. Dia kemudian memimpin tim menjuarai Kejuaraan U-17 AFC 2006 untuk pertama kalinya dalam 12 tahun dan lolos ke Piala Dunia FIFA U-17, meskipun tersingkir di babak penyisihan grup. Selama dua setengah tahun melatih tim nasional U-17, Jofuku membentuk gaya sepak bolanya sendiri sebagai pelatih.
Jofuku kemudian kembali FC Tokyo sebagai direktur departemen pengembangan, sebelum akhirnya diangkat sebagai pelatih kepala tim utama pada 10 Desember 2007.[2] Pada musim tersebut, tim terus bersaing dalam perebutan gelar hingga akhir musim dan finis di posisi keenam. Dia juga membawa tim mencapai semifinal Piala Kaisar. Pada tahun 2009, performa tim yang kuat terus berlanjut dengan finis di posisi kelima liga dan menjuarai Piala J.League, yang merupakan gelar pertama Jofuku sebagai pelatih.[3] Pada tahun 2010, Jofuku gagal merombak tim akibat kepergian dan cedera pemain. Hingga September 2010, tim terpuruk di peringkat ke-16 zona degradasi. Dia kemudian diberhentikan pada 19 September 2010.[4]
Pada 7 Desember 2011, Jofuku ditunjuk sebagai pelatih kepala Ventforet Kofu.[5] Dengan waktu yang sangat terbatas untuk meyakinkan pemain agar bertahan, dia mengambil alih tim dan mencetak rekor J2 League dengan 24 pertandingan liga tanpa kekalahan,[6] membawa Kofu menjuarai J2 League dan promosi ke J1 League.[7] Pada tahun 2013, dalam pertandingan J1 League melawan Omiya Ardija di pekan ke-13, dia memprotes kartu merah Masaru Matsuhashi dan menerima kartu merah pertamanya sebagai pelatih. Paruh pertama musim berjalan buruk, tetapi perubahan ke formasi tiga bek pada paruh kedua terbukti efektif. Dia membangun pertahanan yang solid dan merombak tim. Pada tahun 2014, dia memaksimalkan pemain yang ada dan mencatatkan peringkat J1 League tertinggi dalam kariernya, sekaligus memastikan tim bertahan di liga.[8] Jofuku menolak perpanjangan kontrak dan mengundurkan diri sebagai pelatih Kofu pada akhir musim 2014.[9][10]
Meski menerima beberapa tawaran, Jofuku memilih untuk kembali sebagai pelatih kepala FC Tokyo untuk musim 2016.[11] Dia berusaha membangun pertahanan yang lebih solid dibanding musim sebelumnya dan menanamkan gaya bermain yang proaktif baik dalam menyerang maupun bertahan.[8] Timnya finis di posisi kesembilan pada putaran pertama. Harapan bangkit di putaran kedua pupus setelah lima pertandingan buruk, dengan dua kekalahan akibat kebobolan di menit-menit akhir dan dua kekalahan tanpa mencetak gol, yang berujung pada pemecatannya pada akhir Juli 2016.[12]
Pada 7 Desember 2017, Jofuku ditunjuk sebagai pelatih Sanfrecce Hiroshima.[13] Dia melatih Hiroshima selama empat tahun, dengan pencapaian puncak berupa posisi kedua liga pada musim pertamanya. Pada 26 Oktober 2021, Jofuku mengundurkan diri sebagai pelatih dengan menyisakan lima pertandingan musim berjalan.[14] Pada tahun itu, tim mengalami kekalahan memalukan dari klub kasta kelima, Okoshiyasu Kyoto AC, akibat kebingungan taktik setelah penerapan formasi empat bek dan rotasi berlebihan, termasuk menurunkan pemain non-profesional di lini pertahanan pada ajang Piala Kaisar. Selain itu, faktor kehilangan banyak pemain kunci juga menjadi salah satu alasan.[15]
Pada 13 Juni 2022, Jofuku ditunjuk sebagai pelatih kepala Tokyo Verdy.[16] Pada J2 League musim 2023, tim finis di posisi ketiga, hanya terpaut sedikit dari tiket promosi otomatis ke J1 League, dan melaju ke babak playoff promosi. Di putaran pertama, mereka mengalahkan JEF United Chiba dengan skor 2–1. Di putarab kedua, mereka bermain imbang 1–1 melawan Shimizu S-Pulse, namun karena berada satu peringkat di atas lawan, Tokyo Verdy promosi ke J1 League untuk pertama kalinya dalam 16 tahun. Menjelang musim 2024, tim diprediksi sebagai kandidat kuat degradasi.[17] Mereka menjalani musim tanpa kemenangan dalam lima pertandingan awal, tetapi berkat kontribusi pemain muda pinjaman, performa membaik dengan catatan 11 pertandingan tanpa kekalahan sejak pertandingan keempat. Kemenangan atas Urawa Red Diamonds pada pekan ke-34 memastikan status J1 League Verdy dengan empat pertandingan tersisa.[18] Tim finis di posisi keenam, hasil terbaik Verdy sejak 1996. Untuk musim 2025, klub menetapkan target yang sangat ambisius,[19] namun kesulitan mencetak gol membuat mereka finis di posisi ke-17 setelah satu imbang dan dua kekalahan di tiga pertandingan terakhir.[20] Meski demikian, klub berhasil bertahan di J1 League untuk musim kedua secara berturut-turut.[21]