Musik hip hop mulai diproduksi di Indonesia pada awal 1990-an, dengan artis Indonesia pertama yang merilis album hip hop penuh adalah Iwa K.[1] Musik ini menjadi sangat populer di provinsi-provinsi timur, seperti Papua dan Maluku. Hingga 2023[update], peringatan 50 tahun musik hip hop sejak kelahirannya di Kota New York, genre ini masih kuat di Indonesia.[2]
Banyak grup hip hop Indonesia yang berima dalam bahasa Indonesia, tetapi ada juga grup yang berima dalam bahasa Inggris. Berbagai lagu sering menggabungkan bahasa Indonesia formal dengan bahasa gaul jalanan, kode pemuda, pengucapan berwarna daerah, dan bahkan ekspresi dari bahasa daerah (biasanya Jawa, Sunda, atau Betawi). Hip hop Indonesia sering dicampur dengan heavy metal, yang disebut "hip-metal". Grup seperti Iwa-K dan Denada memproduksi musik dalam gaya ini.[1]
Salah satu fitur utama hip hop Indonesia yang berbeda dibandingkan dengan hip hop Amerika adalah bahwa bahasa yang digunakan dalam hip hop Indonesia lebih sopan dan tidak menggunakan bahasa kasar, serta jarang membuat referensi tentang seks dan kekerasan.[3]
Musik hip hop Indonesia adalah subkultur pemuda. Ini telah dilihat sebagai bentuk protes terhadap pemahaman identitas budaya Indonesia yang dipaksakan oleh pemerintah Orde Baru. Musik ini sebagian besar dikutuk oleh tokoh politik kunci seperti mantan presiden B.J. Habibie. Pada Januari 1995, Habibie mengajukan keberatan terhadap penyelenggaraan festival rap Indonesia.[1] Seperti yang dilaporkan dalam majalah mingguan Gatra, Habibie menyatakan:[4]
Generasi muda jangan mau diperbudak unsur budaya asing yang di negaranya sendiri tak disukai . . . di sana saja tidak patut, apalagi di Indonesia, tidak cocok . . . Saya tidak setuju karena tidak ada manfaatnya sama sekali, terutama bagi generasi muda. . . .
Jogja Hip Hop Foundation (JHF), didirikan pada tahun 2003, memasukkan budaya Indonesia ke dalam musik mereka. Mereka percaya bahwa wayang kulit dan musik gamelan tradisional Jawa membentuk dasar yang kuat untuk hip hop untuk dibangun. Inspirasi musik JHF datang dari berbagai sumber asli yang beragam seperti gamelan, cerita rakyat lokal, selawatan, dangdut, dan Jathilan. Pada tahun 2014, JHF juga memulai merek pakaian, Bom Batik.[7]
Artis hip hop Papua Epo D'Fenomeno (nama asli Onesiasi Chelvox Urbinas[8][9] alias "Epo"), seorang Papua dari suku Biak,[2] adalah seorang rapper dan produser yang mulai membuat musik pada tahun 2005[8] mulai merekam pada tahun 2007. Epo adalah pengaruh besar dalam kancah hip hop Indonesia, telah memproduksi ratusan singgel, mendirikan studio musik dan label rekaman, as serta mengelola enam rapper.[2] Dia juga menjalankan kelas gratis bagi anak muda untuk belajar menyanyi dan menyusun lirik untuk musik rap, dan bekerja dengan teman dan produser bersama Ortis Yarangga untuk memproduksi musiknya sendiri. Labelnya disebut Rum Fararur,[8] yang berarti "rumah untuk bekerja" dalam bahasa kota asal ayahnya, Kabupaten Biak Numfor. Rumah dan studionya terletak di kawasan Abepura, Kota Jayapura. Pada tahun 2018, Epo, mewakili provinsi Papua, memenangkan tempat ketiga dalam "Beef Rap Battle" di Jakarta (di mana dia tinggal selama tiga tahun), senilai Rp 30 juta. Ini diikuti dengan penampilan di perayaan ulang tahun ke-17 sebuah media nasional. Pada tahun 2021, dia tampil di upacara penutupan Pekan Olahraga Nasional ke-20 di Jayapura, bersama musisi Alffy Rev dan penyanyi Nowela Mikhelia.[9]
Hingga 2023[update], musisi hip hop populer lainnya di provinsi timur termasuk:
Grizzly Cluivert Nahusuly, berbasis di Ambon, Maluku, bernyanyi dalam bahasa Ambon, dan bertujuan untuk menyanyikan lagu-lagu yang lebih lembut daripada kebanyakan rapper.[2]
Envy, kolektif hip hop di Jakarta Selatan sejak 2018
Tuan TigaBelas, lpenyanyi utama di R.E.P. sejak 2013, solo sejak 2019
A. Nayaka, menyanyikan rap dalam bahasa Inggris dan Indonesia; album berbahasa Inggrisnya tahun 2018 Cadence Blue adalah album hip hop pertama yang pernah dinominasikan untuk kategori Album Terbaik-Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2018
Tenxi, membuat musik sejak 2021 dan mulai meraih kesuksesan belakangan ini melalui karya yang memadukan genre hip-hop dan dangdut.
PORIS[id], sebuah kolektif hip-hop yang berdiri sejak 2024 dan turut memperkenalkan rage, sebuah subgenre dari trap music yang sangat dipengaruhi oleh musisi seperti Playboi Carti.
MrPipsterr & Christmas Taco[id], duo produser-rapper asal Makassar yang aktif sejak 2023, terinspirasi kuat oleh era old school hip-hop, namun dalam diskografinya kerap bereksperimen dengan berbagai subgenre hip-hop lainnya.