Kolonel Czi. (Purn.) Heroe Prajitno (atau dalam ejaan modern ditulis Heru Prayitno; 25 Desember 1925 – 21 Desember 2003) adalah seorang purnawirawan perwira menengah senior Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dari Korps Zeni (Czi). Beliau dikenal dalam sejarah militer Indonesia sebagai salah satu tokoh pelopor perang asimetris melalui penemuan teknologi trek bomb (bom tarik) pada masa Revolusi Fisik serta menjabat sebagai Komandan Batalyon Zeni Tempur 3/Yudha Wyoghra (Yonzipur 3/YW) ke-8 periode 1960–1965.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Heroe Prajitno lahir di Teluk Betung, Lampung, pada tanggal 25 Desember 1925. Memasuki usia remaja pada masa pendudukan Jepang, beliau menempuh pendidikan teknik formal di Sekolah Teknik Menengah (Kogyo Gakko) Malang, Jawa Timur. Latar belakang keteknikan ini menjadi landasan kuat bagi keahlian taktisnya dalam rekayasa militer (combat engineering) di masa depan.
Pasca-proklamasi kemerdekaan, beliau terpilih masuk ke dalam sistem pendidikan tentara reguler profesional. Beliau ditarik ke Bandung pada awal dekade 1950-an untuk menempuh pendidikan militer tinggi di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) guna dicetak sebagai generasi "Insinyur Militer" pertama Indonesia. Berkat prestasi akademisnya, beliau kemudian dikirim ke luar negeri untuk mengikuti kursus spesialisasi teknik lanjutan di Fort Belvoir, Amerika Serikat (Engineer Officer Advanced Course) dan Australia.
Karier Militer
Masa Revolusi Fisik (1945–1949)
Selama masa Perang Kemerdekaan, Heroe Prajitno bergabung dengan Detasemen V Tentara Genie Pelajar (TGP) Brigade XVII wilayah Jawa Timur. Dalam masa gerilya ini, beliau menjadi salah satu inovator yang merancang taktik trek bomb (bom jebakan tali/kawat jarak jauh). Inovasi ini digunakan secara masif oleh TGP untuk melancarkan taktik bumi hangus dan meledakkan jembatan strategis, yang berhasil melumpuhkan pergerakan kendaraan lapis baja tentara Belanda.
Komandan Yonzipur 3/YW (1960–1965)
Puncak karier komando lapangannya tercapai ketika ia dipromosikan sebagai Komandan Batalyon Zeni Tempur 3/Yudha Wyoghra pangkalan Siliwangi (1960–1965). Sebagai Danyon, beliau memimpin fungsi intelijen teknik dan dukungan garis depan dalam berbagai palagan pertahanan nasional:
Penumpasan PRRI di Sumatera: Menyediakan jembatan darurat taktis (bailey bridge) secara cepat untuk mendukung ofensif darat Operasi 17 Agustus pimpinan Letkol Ahmad Yani.
Penumpasan DI/TII Kartosuwiryo: Terlibat dalam Operasi Bharatayuda (Pagar Betis 1962) di bawah komando Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Ibrahim Adjie dan Asops Solihin G.P., dengan tugas melakukan penjinakan ranjau gerilyawan dan membuka rute rintisan militer di hutan lebat.
Operasi Trikora: Memimpin kesiapan pasukan zeni di bawah payung Komando Mandala yang saat itu dikomandani oleh Mayor Jenderal Soeharto.
Peristiwa G30S/PKI (1965)
Pada masa krusial sekitar tahun 1965, selaku Danyonzipur 3, Heroe Prajitno beserta kompi pasukannya memegang peranan penting dalam menggagalkan aksi serangan dan sabotase objek vital serta infrastruktur jembatan yang diincar oleh simpatisan PKI di wilayah Jawa Barat.
Garis Politik dan Penangguhan Pensiun
Heroe Prajitno dikenal sebagai salah satu perwira Korps Zeni yang berada di bawah lingkaran loyalis ketat Presiden Soekarno di bawah gerbong Pangdam Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie. Akibat pergeseran konstelasi politik pasca-1965, masa jabatannya sebagai Danyonzipur 3 berakhir di tahun 1965 dan posisinya dipindahkan ke sektor non-pasukan pemukul.
Secara normatif, beliau dijadwalkan memasuki Batas Usia Pensiun (BUP) pada tahun 1980 (usia 55 tahun). Namun, karena keahlian ilmiahnya di bidang Technical Intelligence dan taktik zeni dinilai sangat langka, Markas Besar Angkatan Darat menerapkan skema Ikatan Dinas Lanjutan (IDL). Negara menangguhkan masa pensiunnya secara terus-menerus melewati tahun 1980. Beliau tetap ditahan dalam dinas militer aktif untuk diperas pikiran dan tenaganya sebagai instruktur senior di DIKZIAD (Pusdikzi Bogor), pengajar di Seskoad, serta peneliti alutsista mekanis di Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbangad).
Mentorship dan Kehidupan Pribadi
Semasa berdinas di Bandung pada pertengahan 1950-an, Heroe Prajitno bertindak sebagai mentor ideologis sebagi Try Sutrisno (yang kelak menjadi Panglima ABRI dan Wakil Presiden RI ke-6).
Heroe Prajitno menikah dengan Elly Hertha dan dikaruniai lima orang putra-putri yang seluruh identitas namanya diawali suku kata "Her-", yaitu: 1. Ir. Hertono Richard Prayitno 2. Hertaty Lydia Margareth 3. Herjaty Linda Patricia 4. Dra. Herdianty Maureen Gracia Prajitno 5. Herwijaty Miranda Prajitno
Beliau wafat pada tanggal 21 Desember 2003 dalam usia 77 tahun, meninggalkan legasi emas ilmu rekayasa militer pertahanan Indonesia.