Hawila (bahasa Ibrani:חֲוִילָהcode: he is deprecated Ḥăwîlāh, "Melingkar";[1]bahasa Inggris:Havilahcode: en is deprecated ) adalah nama tanah dan nama orang yang tercatat dalam beberapa kitab dalam AlkitabKristen maupun Alkitab Ibrani.
Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.[2]
Tanah lain bernama Hawila disebutkan dalam Kejadian 25:18, yang didefinisikan sebagai tanah yang dihuni oleh orang Ismael yaitu:
Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.[3]
Kejadian 10:26-29: Yoktan memperanakkan Almodad, Selef, Hazar-Mawet dan Yerah, Hadoram, Uzal dan Dikla, Obal, Abimael dan Syeba, Ofir, Hawila dan Yobab; itulah semuanya keturunan Yoktan.[7]
Dalam literatur di luar Alkitab ada penyebutan tanah Hawila antara lain dalam Pseudo-Philo sebagai sumber permata mulia yang digunakan orang Amori dalam pembuatan berhala mereka pada masa setelah zaman Yosua, ketika Kenaz menjadi hakim atas orang Israel.
Catatan lain ditemukan dalam Kitab al-Magall (sastra Clementine) dan Cave of Treasures (Gua Harta) yang menyatakan bahwa pada hari-hari awal setelah Menara Babel, anak-anak Hawila bin Yoktan membangun kota dan kerajaan yang berada di dekat saudara-saudara mereka, Syeba dan Ofir.
Kemungkinan lokasi
Tanah dalam Kitab Kejadian ini biasanya berhubungan dengan Semenanjung Arab atau barat Yaman, tetapi dalam karyanya yang berhubungan dengan Taman Eden oleh Juris Zarins, pegunungan Hijaz tampaknya secara memuaskan memenuhi keterangan-keterangan itu. Tanah Hijaz mencakup baik Lumbung Emas di Mahd adh Dhahab dan kemungkinan sumber dari Sungai "Pison"; nama alkitabiah diduga merujuk kepada sungai yang sekarang sudah kering, tetapi sebelumnya mengalir 600 mil (970km) ke arah timur laut mencapai Teluk Persia melalui sistem Wadi Al-Batin. Penelitian arkeologi yang dipimpin oleh Farouk El-Baz dari Boston University menunjukkan bahwa sistem sungai ini, sekarang secara prospektif dikenal sebagai Sungai Kuwait, aktif sekitar tahun 2500-3000 SM.[9]
Wilayah Adal di Afrika Timur, dan kota pelabuhannya Zeila diyakini mengambil namanya dari Hawila.[10][11] Benjamin Tudela, pengelana Yahudi pada abad ke-12, mengklaim tanah Hawila dibatasi oleh Al-Habash di sebelah barat. Tradisi lokal juga menegaskan Furra, seorang ratu Hawila dari klan Gadire memerintah di Afrika Timur.[12][13]
Augustus Henry Keane percaya bahwa tanah Hawila berpusat di "Zimbabwe Raya" dan kira-kira sezaman dengan apa yang waktu itu disebut "Rhodesia Selatan".[14] "Camp Havilah" adalah nama dari perkemahan induk sekelompok arkeolog Inggris yang mempelajari bekas-bekas Zimbabwe Raya dari tahun 1902-1904, meskipun pada akhirnya mereka menolak hubungan antara Alkitab dengan pemukiman itu.[15]
↑Smith, William (1888). "Dr. William Smith's Dictionary of the Bible". Comprising Its Antiquities, Biography, Geography, and Natural History. 2: 1010. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-17. Diakses tanggal 30 November 2017.
↑Gifford, William (1844). "Forster on Arabia". The Quarterly Review. 74: 338. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-17. Diakses tanggal 2018-05-21.
↑Adler, Elkan (4 April 2014). Jewish Travelers. Routledge. hlm.61. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-17. Diakses tanggal 1 January 2018.
↑Hameso, Seyoum (1997). "Furra Legend in Sidama traditions". The Oromo Commentary. VII (2): 16.
↑The Gold of Ophir - Whence Brought and by Whom? (1901)
↑Richard Nicklin Hall, Great Zimbabwe, Mashonaland, Rhodesia: An Account of Two Years' Examination Work in 1902-4 on Behalf of the Government of Rhodesia. London: Methuen & Co., 1905.