Hatshepsut (kadang-kadang dieja Hatchepsut yang berarti Perempuan Bangsawan Paling Terkemuka)[3] adalah firaun kelima dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno. Para Egiptolog umumnya menganggapnya sebagai firaun perempuan yang paling berhasil di Mesir, yang memerintah lebih lama daripada perempuan penguasa manapun dalam sebuah dinasti asli Mesir.[4]
Hatshepsut dipercayai pernah memerintah sebagai salah seorang penguasa dari sekitar 1479 hingga 1458 SM (Tahun 7 hingga 21 dari Thutmose III).[5] Ia dianggap sebagai ratu penguasa paling awal yang diketahui dalam sejarah serta perempuan kedua yang diketahui naik takhta sebagai "Raja Mesir Hulu dan Hilir" setelah Ratu Sobekneferu dari Dinasti ke-12.
Menurut sejumlah penulis sejarah pada zaman dulu,[perinci lagi] masa pemerintahan Hatshepsut adalah sekitar 22 tahun. Flavius Yosefus mencatat lama pemerintahannya 21 tahun 9 bulan, sedangkan Sextus Julius Africanus menyatakan lamanya 22 tahun, keduanya mengutip tulisan Manetho. Di titik waktu ini dalam sejarah, catatan mengenai pemerintahan Hatshepsut berakhir, karena penyerangan ke luar negeri oleh Thutmosis III terjadi pada tahun ke-22 pemerintahannya, yang juga merupakan tahun ke-22 pemerintahan Hatshepsut sebagai Firaun.[6] Penentuan waktu naik takhtanya lebih sulit. Pemerintahan ayahnya, Thutmose I, berawal pada tahun 1506 SM atau 1526 SM menurut kronologi Mesir muda atau tua.[7] Lama pemeritahan Tuthmosis I dan Tuthmosis II tidak dapat dipastikan. Jika masa itu pendek, Hatshepsut diduga naik takhta 14 tahun setelah penobatan ayahnya, Tuthmosis I, menjadi raja.[8] Jika masa ini panjang, maka naik takhta itu terjadi 25 tahun setelah penobatan Tuthmosis I.[9] Karennya, Hatshepsut mungkin mulai memerintah paling awal tahun 1512 SM, atau paling lambat tahun 1479 SM.
Bukti pemerintahan Firaun Hatshepsut ditemukan di makam Ramose and Hatnofer, orang tua Senenmut, di mana terdapat koleksi barang-barang pemakaman yang dimasukkan ke dalam pot tembikar atau amphora dari ruang makam, yang diberi stempel tanggal Tahun 7.[10] Pot lain dari makam yang sama, ditemukan pada tahun 1935–1936 oleh ekspedisi Metropolitan Museum of Art di lereng bukit dekan Thebes, diberi stempel 'Istri Dewa, Hatshepsut' sedangkan 2 pot lain berstempel ' Dewi yang baik, Maatkare. '[11] Penentuan tanggal amphorae, "disegel ke dalam ruang pemakaman oleh kepingan-kepingan dari makam Senenmut sendiri," sudah tidak diperdebatkan, berarti Hatshepsut diakui sebagai raja Mesir pada tahun ke-7 pemerintahannya.[11]
Dalam budaya populer
Ketika gerakan feminis menjadi matang, tokoh-tokoh penting perempuan dari zaman dahulu dicari dan keberhasilan mereka semakin dipublikasikan. Hatshepsut berubah dari pemimpin Mesir yang paling tak dikenal pada awal abad ke-20 menjadi tokoh paling terkenal dari negara itu pada akhir abad tersebut. Berbagai biografi seperti misalnya Hatshepsut oleh Evelyn Wells meromantisasikannya sebagai perempuan yang cantik dan pasifis — "perempuan besar pertama dalam Sejarah". Hal ini cukup berlawanan dengan pandangan abad ke-19 tentang Hatshepsut yang melukiskannya sebagai ibu tiri yang kejam, yang merebut takhta dari Thutmose III.
Novel Mara, Daughter of the Nile oleh Eloise Jarvis McGraw, mempertahankan pandangan tentang ibu tiri yang kejam dengan menempatkan Hatshepsut sebagai tokoh utama cerita itu. Plotnya berkembang sekitar upaya-upaya Mara, seorang budak perempuan, dan sejumlah bangsawan untuk menggulingkan Hatshepsut dan mengangkat pewaris yang "sah", Thutmose III, sebagai Firaun. Mereka mempersalahkan berbagai proyek pembangunan Hatshepsut sebagai penyebab kebangkrutan negara Mesir. Ia juga digambarkan telah menahan Thutmose III sebagai tawanan di lingkungan tembok istana.
Hatshepsut juga muncul dalam plot Illinois Jane and the Pyramid of Peril, sebuah sandiwara lucu oleh T. James Belich (Colorado Tolston). Di sini dilukiskan Hatshepsut menemukan ramuan panjang umur. Dalam cerita ini, hilangnya Hatshepsut digambarkan telah menyebabkan ia abadi, meskipun ia tak pernah secara langsung tampil dalam sandiwara ini.
Humoris Amerika, Will Cuppy, menulis sebuah esai tentang Hatshepsut yang diterbitkan setelah kematiannya dalam buku The Decline and Fall of Practically Everybody. Tentang salah satu tulisannya di dinding, ia menulis,
Tentang penampilan Hatshepsut pada suatu tahap kariernya, kita berutang kepada salah satu tulisan di dinding. Di situ dikatakan bahwa "memandang dia jauh lebih cantik dari apapun juga, kemolekannya dan bentuk tubuhnya sungguh bagaikan seorang dewi." Sebagian menganggap aneh bahwa seorang Firaun perempuan ternyata begitu berani, dalam usia 50-an seperti Hatshepsut. Sama sekali tidak. Ia Cuma mengatakan bagaimana keadaannya sekitar 35 tahun sebelumnya, sebelum ia menikahi Thutmose II dan kemudian menghantam Thutmose III. "Ia adalah seorang putri, cantik dan memekar," demikian dikatakan dalam hieroglif, dan kita tidak mempunyai alasan untuk meragukannya. Memang, tak ada salahnya menceritakan kepada dunia bagaimana rupa seseorang pada 1514 SM.[13]
Dalam pertunjukan laga hidup untuk anak-anak, The Secret of Isis (1975), tokoh utamanya, Andrea Thomas, menemukan sebuah jimat Mesir kuno dan kemudian menyadari bahwa ia adalah seorang keturunan Hatshepsut dan pewaris daya kekuatan Isis. Hatshepsut dirujuk dalam narasi pembukaan.
Hatshepsut dilahirkan pada awal abad ke-15 SM sebagai putri sulung Firaun Thutmose I dan permaisuri utamanya, Ahmose. Setelah wafatnya Thutmose I, Hatshepsut menikah dengan Thutmose II yang merupakan saudara tirinya sekaligus penerus takhta ketika ia masih berusia sekitar empat belas hingga lima belas tahun. Pada periode tersebut, usia Thutmose II diperkirakan tidak jauh berbeda.
↑Dodson, Aidan. Dyan, Hilton. The Complete Royal Families of Ancient Egypt Thames & Hudson, 2004. ISBN 0-500-05128-3. hlm.130
↑Steindorff, George; and Seele, Keith. When Egypt Ruled the East p.53. University of Chicago, 1942
↑Grimal, Nicolas. A History of Ancient Egypt, pp. 204. Librairie Arthéme Fayard, 1988.
↑Gabolde, Luc (1987).La Chronologie du règne de Tuthmosis II, ses conséquences sur la datation des momies royales et leurs répercutions sur l'histoire du développement de la Vallée des Rois SAK 14: pp. 61–87.
↑Grimal, Nicolas. A History of Ancient Egypt, p.204. Librairie Arthéme Fayard, 1988