Artikel ini membutuhkan penyuntingan lebih lanjut mengenai tata bahasa, gaya penulisan, hubungan antarparagraf, nada penulisan, atau ejaan. Anda dapat membantu untuk menyuntingnya.
Artikel ini kemungkinan dibuat atau disunting oleh seseorang untuk menerima imbalan atau bayaran tetapi tidak dikemukakan secara terbukasehingga kemungkinan melanggar kebijakan dan ketentuan penggunaan Wikimedia Foundation. Silakan memperbaiki artikel ini untuk memenuhi kebijakan konten Wikipedia terutama kebijakan sudut pandang netral. (Maret 2024)
Haryanto adalah anak ke-6 dari 11 bersaudara dari pasangan Muhammad Sipan dan Sutami. Meski menjadi anak yang keenam, Haryanto merupakan anak laki-laki tertua dalam keluarganya.[1]
Haryanto dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ia memahami perjuangan kedua orangtuanya dalam menafkahi keluarga. Ayahnya adalah seorang buruh tani serabutan yang memiliki pekerjaan sambilan berupa memisahkan daging dan tulang ikan di pasar, sedangkan ibunya adalah seorang pedagang kecil-kecilan. Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, Haryanto sering membantu kedua orang tuanya. Ketika bersekolah di sekolah dasar, ia mencari rumput untuk dijual terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Dari hasil mengumpulkan rumput itu, ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.[1]
Masa remaja
Kegiatan tersebut dilakukan sampai dirinya lulus dari sekolah menengah pertama pada tahun 1974. Setelah itu, Haryanto melanjutkan sekolahnya menuju Sekolah Teknik Negeri, setara dengan sekolah menengah kejuruan teknik pada masa kini. Pada masa sekolah teknik inilah Haryanto memiliki impian untuk menjadi tentara. Untuk mewujudkan impiannya, ia melakukan apapun, termasuk berjualan es lilin keliling. Hasil berjualan es diberikan kepada orang tuanya untuk kebutuhan keluarga.[1]
Karier militer
Selepas lulus dari Sekolah Teknik Negeri pada tahun 1977, ia sebenarnya ingin melanjutkan cita-citanya menjadi tentara. Namun, ekonomi keluarga menjadi penghalang. Ia baru bisa mewujudkan impian tersebut pada tahun 1979, di mana ia mendaftar di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad milik TNI Angkatan Darat yang terletak di Tangerang, dan diterima. Ia juga mendapatkan beasiswa sekolah di Bandung untuk dilatih jadi pengemudi kendaraan yang khusus mengangkut kendaraan senjata berat seperti tank.
Pada tahun 1978, ia mengikuti pendidikan Secata di Gombong, Kebumen. dari pendidikan tersebut, ia mendapat kenaikan pangkat yang mulanya prajurit dua menjadi prajurit satu. Karier militernya berakhir pada tahun 2000, di mana ia memutuskan pensiun dini dengan pangkat terakhirnya yaitu Kopral Kepala.[1]
Kehidupan setelah menikah
Setelah menikah dengan Suheni pada tahun 1982, Haryanto nekat membawa istrinya untuk mengontrak. Mereka hidup dengan sederhana sampai pada akhirnya anak pertama mereka (Rian Mahendra) lahir pada tahun 1983. Melihat gajinya yang pas-pasan, ia pun harus memutar otak agar punya penghasilan tambahan. Hingga ia memutuskan setiap pulang dinas, ia kerja jadi sopir angkutan kota. Ia juga sempat menjadi beberapa perwakilan agen perusahaan-perusahaan bus yang bertujuan ke Jawa Tengah.[1]
Usaha Transportasi
Bisnis angkutan kota
Setelah anak keduanya (Agus Hartopo) lahir pada tahun 1984, Haryanto nekat membeli sebuah mobil bekas angkutan kota, dengan uang Rp 750 ribu yang dijadikan uang muka. Dalam setahun, mobil tersebut sudah lunas. Dan pada tahun berikutnya, ia kembali membeli mobil angkutan kota. Pada tahun 1987, bisnis angkutan kota miliknya berkembang pesat sehingga ia bisa mendirikan ruang pamer mobil angkutan kota miliknya sendiri.[1]
Pada tahun 1998, Indonesia krisis moneter. Pada saat itu, banyak angkot yang dijual murah. Saat itu dia membeli banyak mobil angkutan kota. Pada tahun yang sama, sebagian besar angkotnya dijual untuk dibelikan lima bus trayek Cikarang-Tangerang. Perusahaan tersebut diberi nama "PO Haryanto", sesuai nama yang dimilikinya.[1] Kini, bisnis transportasi bus tersebut dikelola bersama-sama dengan ketiga anaknya.
Kehidupan pribadi
Haryanto menikah dengan Suheni pada tahun 1982. Dari pernikahannya dengan Suheni, ia dikarunai 3 anak (Rian Mahendra, Agus Hartopo, Dewi Tri Cahyani) dan sembilan cucu.[2] Suheni wafat pada tahun 2014. Beberapa tahun kemudian, ia kembali menikah dengan Nurhana, seniman campursari asal Boyolali, di mana usia mereka terpaut 19 tahun.[3]