Harun Zain merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara dari Prof. Sutan Muhammad Zain, seorang pakar bahasa yang terkemuka di Indonesia dengan Siti Murin yang sama-sama berasal dari Pariaman, Sumatera Barat.[3] Saudara-saudaranya bernama Sutan Zairin Zain, Sutan Basir Zain, Sutan Aziz Zain, Sutan Rustam Zain, Yetty Rizali Noor, dan Sutan Maliksyah Zain. Masa kecilnya banyak dihabiskan di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Bandung, Batavia (sekarang Jakarta), Yogyakarta dan Surabaya mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai guru. Namun, ia beranggapan bahwa masa awal pembentukan kepribadiannya berlangsung pada saat ia di Surabaya.
Harun mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Jakarta (1942), Hogere Burger SchoolKoning Willem III (HBS KW III) Jakarta (1942), dan Tyu Gakko (SMP) Surabaya (1945). Setelah kemerdekaan Indonesia, ia mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Surabaya (1945) dan SMA Perjuangan Blitar (1948). Selama Revolusi Nasional Indonesia, sejak 1945 ia ikut berjuang menjadi anggota Barisan Pelajar SMT Surabaya dan Barisan Pemuda Republik Indonesia di Surabaya dan sekitarnya. Pada 1946 ia menjadi anggota Kementerian Pertahanan pada Sektor Front Surabaya-Mojokerto-Sidoarjo. Pada 1948, ia bergabung menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Detasemen I Brigade 17 Blitar-Malang. Pada 1950 ia bergabung dalam Kompi I Detasemen I Brigade 17 yang dikirim ke Jakarta untuk menumpas Kudeta Westerling dan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).[4][5][6] Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat Kopral pada Juni 1950 setelah demobilisasi.[7]
Selama di bangku kuliah, sejak 1954 Harun terlibat dalam Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FE UI hingga menjadi Kepala Biro Hubungan Perburuhan dan Hubungan Industri LPEM FE UI. Pada 1956, ia juga dipercaya sebagai asisten dosen dan setelah lulus kuliah menjadi dosen ilmu ekonomi perburuhan dan hubungan industri di UI.[4][5][6]
Karier
Pada 1961, Harun menjabat Wakil Direktur LPEM FE UI. Di tahun yang sama ia menjadi dosen terbang untuk FE IKIP Padang dan Universitas Sriwijaya. Pada tahun 1962, ia diangkat sebagai dosen terbang dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Pada 1963, ia menjadi dosen tamu untuk Universitas Filipina. Pada 1964, ia dipilih sebagai Rektor Universitas Andalas, yang didorong oleh tokoh Sumatera Barat Chairul Saleh dan Hasyim Ning, hingga 1966.[9] Di tahun yang sama, ia juga menjabat Anggota Lembaga Ekonomi dan Sosial Nasional (Leknas) dari Departemen Urusan Research Nasional Jakarta. Pada 1965, ia ditunjuk sebagai Ketua Seksi Perencanaan Pola Pembangunan Sumatera Barat.[4][5][6]
Pada 4 Juni 1966 Harun Zain diangkat menjadi Gubernur Sumatera Barat hingga 1971.[10] Pada tahun 1967, Zain meresmikan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri Padang Panjang, universitas wanita Islam di Sumatera Barat, atas dorongan Rahmah El Yunusiyah.[11] Ia kembali dilantik untuk periode kedua pada 3 April 1972 hingga 1977.[12] Pada 2 Januari 1977, ia dinobatkan sebagai penghulu Suku Piliang Piaman Sabatang Panjang Sakarek Ulu Sakarek Ilia dengan gelar Datuk Sinaro.[13] Harun Zain mengusulkan Brigadir Jenderal TNI Azwar Anas sebagai penggantinya menjadi gubernur.[14]
Harun Zain meninggal dunia pada 19 Oktober 2014 pada usia 87 tahun karena sakit tua yang dialaminya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.[2][18]
↑"Rahmah El Yunusiyah". Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat. Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan. 5 June 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2022. Diakses tanggal 13 July 2022.
↑"Almanak pers Antara". L.K.B.N. Antara. 15 Sep 1977. Diakses tanggal 15 Sep 2024– via Google Books.
Tirtosudarmo, Riwanto (2001). "Demography and Security: Transmigration Policy in Indonesia". Dalam Weiner, Myron; Russell, Sharon Stanton (ed.). Demography and National Security. Berghahn Books. ISBN9781571813398. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-16. Diakses tanggal 2022-01-19.