Harry lahir pada tanggal 2 Agustus 1951 di Matio yang merupakan sebuah kampung di kota Pematang Siantar. Ia merupakan anak ke-7 dari 11 bersaudara dari pasangan Josia Simanjuntak dan Samaria Siahaan.[2] Ketertarikannya pada ilmu arkeologi bermula ketika dia masih kelas V di Sekolah Rakyat ketika gurunya menceritakan tentang Candi Prambanan dan Candi Borobudur dan menyarankan agar mereka rajin belajar sehingga bisa kesana untuk menjelaskan tentang candi-candi tersebut.
Dia menikah dengan Yohana Yuliati dan memiliki anak bernama Ruth Simanjuntak dan Levi Simanjuntak .[7][8]
Karier
Dia bekerja di Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1977 sampai tahun 1986 atas tawaran Raden Panji Supono.[4] Setelah lulus dari Institut de paléontologie humaine, dia kembali ke Indonesia pada tahun 1991[9] dan bekerja sebagai peneliti dan kepala divisi prasejarah di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dari tahun 1992- 2000.[10] Dia juga sempat menjadi ketua dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia pada periode 2002 sampai 2005.[11][12] Pada tahun 2006, Truman Simanjuntak diangkat sebagai Profesor riset di Pusat Penelitian Arkeologi dengan orasinya yang berjudul "Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Prasejarah Indonesia".[13][14] Saat itu, Dia juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Prasejarah dan Austronesia.[7]
Penghargaan
Pada tahun 2015, Harry Truman Simanjuntak mendapatkan penghargaan Sarwono Award dari LIPI karena pengabdiannya di bidang arkeologi selama 38 tahun.[15][16] Tahun depan, dia mendapatkan penghargaan dari Kemendikbud sebagai salah satu dati 40 pegiat pendidikan.[17][18]
↑Siahaan, Daniel (2006). "Jadikan Kendala Sebagai Penggerak Inovasi". Tabloid Reformata (Edisi 50). Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). hlm.29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-16. Diakses tanggal 2021-04-12.