Harjowinangun Timur terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Harjowinangun berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 14 Tahun 2003. Pemekaran tersebut membagi Harjowinangun menjadi dua desa, yakni Harjowinangun Barat dan Harjowinangun Timur.
Administrasi
Secara administratif, Harjowinangun Timur terbagi menjadi tiga dusun resmi, yakni:
Dusun Pakis, merupakan wilayah terbesar, meliputi enam rukun tetangga (RT). Balai Desa Harjowinangun Timur terletak di dusun ini.
Dusun Bubakan Haji, terdiri dari dua RT dan terletak di bagian timur desa.
Dusun Bengkal, merupakan wilayah terkecil dengan satu RT.
Selain ketiga dusun resmi tersebut, terdapat pula wilayah yang secara informal dikenal sebagai Dusun Sidomulyo (dulu Bubakan Singkir). Wilayah ini hanya terdiri dari satu RT dan secara administratif masih termasuk dalam Dusun Pakis.
Wilayah Harjowinangun Timur berada pada ketinggian sekitar 175 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi perbukitan di bagian utara, timur, dan selatan, sehingga membentuk kawasan lembah. Di bagian tenggara desa mengalir Sungai Lampir, yang sekaligus menjadi batas wilayah Kabupaten Batang dengan Kabupaten Kendal.
Di sebelah barat Dusun Pakis terdapat aliran kecil bernama Sungai Bleber yang menjadi batas alami dengan Desa Kebumen. Bagian selatan desa berupa persawahan terasering yang mengarah ke Sungai Lampir, dengan latar perbukitan Kecamatan Plantungan.
Hutan jati milik Perhutani membentang di utara dan timur desa. Sebagian lahan hutan dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian dengan sistem perjanjian pengelolaan, yang secara lokal disebut Baon.
Desa ini beriklim tropis dengan curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun. Berdasarkan klasifikasi iklim Köppen–Geiger, iklimnya termasuk tipe Af (tropis basah).
Ekonomi
Sebagian besar penduduk Harjowinangun Timur bermata pencaharian di bidang pertanian, khususnya padi. Selain itu, ditanam pula berbagai palawija seperti jagung, ubi kayu, dan sayuran. Lahan pertanian di desa ini diperkirakan seluas ±22 hektare.
Selain bertani, sebagian warga bekerja sebagai buruh, wiraswasta, pegawai negeri sipil, maupun usaha kecil lainnya. Dalam bidang peternakan, masyarakat memelihara sapi, kambing, dan unggas.