Dengan pengecualian pada Hari Raya Santo Yusuf dan Hari Raya Kabar Sukacita yang tercantum pada tabel di bawah, hari raya yang jatuh pada hari yang sama dengan perayaan yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dipindahkan ke hari berikutnya yang tidak ditempati oleh hari raya, hari Minggu, atau pesta.
Hari-hari raya yang mendapat prioritas yang lebih tinggi adalah hari-hari raya yang mengenang misteri Tuhan, kemudian hari-hari raya yang merayakan Santa Perawan Maria, dan terakhir hari-hari raya yang merayakan orang-orang kudus lainnya.
Jika hari tersebut merupakan hari raya wajib di suatu wilayah, dan hari tersebut bertepatan dengan Hari Minggu Palma, hari tersebut dipindahkan ke hari Sabtu, 18 Maret, yaitu sehari sebelumnya. Jika bukan hari raya wajib, konferensi waligereja setempat boleh memindahkannya ke hari di luar Masa Prapaskah.[2]
Jika hari tersebut jatuh pada hari-hari dalam Pekan Suci, hari tersebut dipindahkan ke hari Senin setelah Hari Minggu Paskah II (antara tanggal 30 Maret hingga 9 April).[2]
Hari raya fakultatif singkatnya adalah hari raya yang tidak disebutkan dalam penanggalan umum. Hari raya tersebut termasuk di antaranya adalah sebagai berikut.
Hari raya dari santo/santa pelindung utama dari suatu kota, wilayah, atau negara.
Hari raya ulang tahun atau penahbisan gereja.
Hari raya dari nama gereja, yaitu nama yang diambil dari misteri Tuhan atau orang-orang kudus sebagai pelindung untuk gereja tersebut.
Contohnya ialah peringatan fakultatif akan Santo Patrisius yang jatuh pada tanggal 17 Maret menjadi hari raya di Irlandia, peringatan akan Santo Josemaría Escrivá pada tanggal 26 Juni menjadi sebuah hari raya di kalangan prelatur Opus Dei, dan peringatan fakultatif akan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel pada tanggal 16 Juli menjadi sebuah hari raya di kalangan Karmelit.
Ketentuan
Jika suatu hari memiliki hari raya, maka prosesi misa seperti hari Minggu, bahkan jika itu adalah hari kerja. Prosesi-prosesi tersebut misalnya Madah Kemuliaan dan Syahadat yang disebutkan dalam misa, adanya dua bacaan Kitab Suci (bukan satu) sebelum bacaan Injil, serta dalam kasus khusus adanya proses pendupaan.
Beberapa atau tidak semua hari raya juga merupakan hari-hari raya wajib (dies festus de praecepto servanda), yaitu hari-hari yang diwajibkan bagi umat Katolik untuk menghadiri misa layaknya pada hari Minggu, serta menghindari pekerjaan dan bisnis yang menghalangi peribadatan ilahi atau relaksasi pikiran dan tubuh yang pantas.[3] Sebaliknya, seluruh hari raya wajib merupakan perayaan pada tingkat hari raya, meskipun sebenarnya hari raya wajib tidak perlu berperingkat hari raya. Kecuali Hari Raya Kabar Sukacita, Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, dan Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, semua hari raya, termasuk hari raya yang selalu jatuh pada hari Minggu, merupakan hari raya wajib, setidaknya jika seluruh hari raya wajib dirayakan di suatu wilayah.
Jika hari raya jatuh pada hari Jumat, kewajiban berpantang daging atau makanan lain yang ditentukan oleh konferensi waligereja setempat menjadi tidak berlaku pada hari tersebut.[4]